Harus dihindari, Alasan Melakukan Perundungan di Ruang Digital

harus dihindari

Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Harus dihindari media sosial kerap dikotori oleh banyak para penggunanya yang melakukan tindakan perundungan, entah kepada tokoh publik maupun masyarakat biasa.

Tentu ini menjadi sebuah pemandangan media sosial yang tidak elok saat kita berada di ruang digital yang harus dihindari.

Bagaimana kita melihat kata-kata yang tidak pantas diucapkan dari seseorang kepada orang lain yang sesungguhnya mereka pun memiliki perasaan yang sama dengan dia.

Rendi Saiful Ajid, Kepala bidang Humas RTIK Kota Cirebon menilai, alasan alasan seseorang melakukan perundungan di media sosial karena banyak hal.

Salah satunya karena yang harus dihindari perundung itu memiliki terlalu banyak waktu bermedia sosial. Seseorang yang tanpa kesibukan tentu dapat melakukan apapun termasuk hal-hal yang tidak penting.

“Melakukan perundungan atau mengatakan hal buruk kepada orang lain termasuk hal-hal yang tidak penting. Sebenarnya sering ditemukan para pem-bully itu hanya iseng,” ujar Rendi Saiful Ajid di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/9/2021) pagi.

Alasan kedua lebih mudah merundung orang lain menggunakan media sosial. Kemungkinan karena mereka tidak bertemu langsung serat tempat jauh sehingga dapat lebih mudah.

Kita seperti bebas melakukan apapun kepada orang lain di belahan dunia manapun. Keberanian pem-bully mungkin akan lebih besar dirasakan saat jauh dari korbannya.

Akun para perundung itu bersifat anonim dan rahasia, mereka menggunakan akun palsu.

Banyak sekali orang berkomentar dengan kata kasar mayoritas dari mereka yaitu menggunakan akun palsu. Tentu alasan mereka agar tidak ketahuan jika menggunakan akun yang sebenarnya.

“Mereka yang mempunyai akun palsu ini tidak menyadari bahwa meskipun identitas mereka tidak menggunakan identitas asli tetapi di dunia digital semua bisa dilacak dengan berbagai macam cara,” kata Rendi.

“Teknologi kepolisian lebih canggih dari yang kita duga, mereka dapat menemukan kita di mana saja hanya dengan IP address kita,” jelas Rendi Saiful Ajid.

Selanjutnya komentar lebih mudah dilihat banyak orang. Ada kepuasan tersendiri jika bullyan dia banyak yang melihat.

Seakan-akan mempermalukan seseorang itu menjadi hal yang membahagiakan, karena terlalu benci atau ada sesuatu hal yang membuat dia marah sehingga ia ingin memperlakukan seseorang itu.

Perundungan dapat dilakukan berulang kali karena merasa aman saja, ditambah perundungan ini kerap dianggap bercanda di dunia maya, padahal belum tentu itu juga yang dirasakan korban.

“Bisa saja dia tidak menganggap becanda hingga korban bisa saja stres dan depresi,” pungkas Rendi Saiful Ajid.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/9/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Aaron Daniel (kreator Konten pendidikan), Ronal Tuhatu (psikolog), Katherine (owner Organicrush), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan