Bandung Side, Kabupaten Subang – Etika berbahasa di era digital seperti sekarang ini, dalam komunikasi banyak dilakukan secara daring yang mengandalkan koneksi internet dan melalui platform digital.
Di era ini juga terdapat pengembangan dan perubahan bahasa menjadikan pentingnya etika berbahasa.
Ira Pelitawati, Relawan TIK dan penggiat literasi mengatakan, hal semacam ini berasal dari minat baca masyarakat yang masih rendah sehingga seringkali salah menangkap makna saat berkomunikasi di ruang digital.
“Ada istilah-istilah baru dalam komunikasi sehari-hari saat adanya dunia digital. Banyak bahasa yang berasal dari sebuah fenomena,” tutur Ira dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (29/9/2021) siang.
Ira menjelaskan, perilaku komunikasi yang terjadi harus didasari oleh literasi yang mencakup komunikasi, bahasa, digital, dan etika berbahasa.
Komunikasi yang utuh ialah yang melibatkan bahasa tubuh, suara, dan kata/kalimat itu sendiri.
Namun, di dunia digital ada keterbatasan dalam berkomunikasi karena jarangnya penggunaan bahasa tubuh seperti gestur dan mimik wajah.
Keterbatasan komunikasi digital tersebut sering kali rentan menghadapi kesalahpahaman. Misalnya, orang bisa menganggap kita sedang marah ketika tidak menggunakan emoji atau penggunaan kalimat yang terlalu singkat.
Oleh karena itu, di ruang digital terdapat penambahan unsur saat berkomunikasi, yakni emoji.
Di ruang digital, dalam berkomunikasi butuh kiat-kiat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Menurut Ira, kita harus memahami jenis media sosial karena masing-masingnya memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi.
Kemudian, memasang perisai anti hoaks dan menggunakan etika saat berinteraksi, menghormati privasi orang lain, dan memaafkan orang lain jika membuat kesalahan
Dengan demikian, setiap berkomunikasi di ruang maya perlu diingat penggunaan etika digital.
Di antaranya, menghargai dan mengingat keberadaan orang lain, menggunakan bahasa yang sopan dan santun, taat kepada aturan pada suatu platform, berpikir sebelum berkomentar/memposting sesuatu,
“Dunia digital sama dengan dunia nyata. Artinya, dengan menjaga bahasa kita turut menjaga bangsa, yang berbeda hanya alat dan medianya,” ungkap Ira Pelitawati.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (29/9/2021) siang juga menghadirkan pembicara, Febriyanti M. Kristianti (Founder @vitaminmonster), Indra Ilham Riadi (Assistant Manager Digital Marketing), Alfret Nara (Practitioner IT), dan Clarissa Darwin sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***