Dampingi Anak Mengakses Internet Agar Imajinasinya Positif

Dampingi anak

Bandung Side, Kabupaten Purwakarta – Dampingi anak saat aktifitasnya mengakses internet menjadi kewajiban orang tua agar dapat mengarahkan keinginan tahu dan imajinasinya menjadi positif.

Menurut data statistik 79 persen anak-anak di bawah umur bisa mengakses pornografi di dunia maya.

Tercatat 69 persen remaja di Indonesia turut berkomunikasi dengan orang-orang baru yang tidak dikenal dan 38 persen anak-anak dengan rata-rata usia di bawah 13 tahun sudah bisa masuk media sosial.

Padahal ada banyak konten-konten yang belum kayak dilihat saat dampingi anak. Adapun para orangtua lebih suka berada di zona aman daripada mempercayai apa yang anak sampaikan.

Internet memiliki dua sisi mata pisau, satu sisi bermanfaat dan ada hal negatif di sisi lainnya. Semua hal itu terkait dengan kemudahan akses internet, di mana saat ini sebanyak 85 persen orang di Indonesia sudah mengakses internet dari ponsel pribadi.

Apalagi sejak pandemi anak sekolah pun kini belajar daring sehingga internet akhirnya menjadi keseharian.

“Lima hal yang paling sering diakses oleh pengguna internet di Indonesia adalah media sosial, pesan instant, membaca berita, mencari data dan informasi, serta streaming video,” kata Diah Gusrayani.

“Positif jelas banyak, tapi apakah sebelumnya orangtua sudah memberikan warning kita tidak bisa jamin,” ujar Diah Gusrayani, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia dan Pakar Parenting saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I, pada Jum’at (3/9/2021).

Hal-hal menarik yang ada di internet jika dikaitkan dengan proses berpikir anak maka akan tersambung sisi keingintahuannya, padahal ada sisi dunia interet yang negatif seperti konten tidak pantas dan adiktif terhadap game.

Baik positif maupun negatif, internet sangat menarik bagi anak-anak karena itu perlu ada pendampingan dari orangtua agar proses berpikir anak bisa mengambil hal-hal positif. Apalagi anak-anak memiliki sifat meniru apa yang ada disekelilingnya.

Lebih lanjut Diah Gusrayani mengatakan harus ada pola pengasuhan orangtua terhadap anak agar bisa diarahkan ke hal-hal positif dari internet.

Orangtua pun bisa membuat kesepakatan dengan anak mengenai pemakaian internet karena pada dasarnya anak memiliki tanggung jawab dan akan taat dengan orangtua.
“Anak-anak suka dengan apa yang mereka akses itu, jadi jangan dilarang namun buat kesepakatan,” tutur Diah Gusrayani.

Anak-anak juga cenderung memiliki kreatif yang tinggi di masa tumbuh kembangnya, sehingga internet pun jika dipergunakan untuk hal-hal positif akan membawa kebaikan.

Potensi anak-anak dengan segala imajinasi dan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu harus diarahkan orangtua kepada hal yang baik.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Klemes Rahardja, Founder The Enerpreneur Society, Supiana, Dosen UIN Sunan Gunungjati Bandung, dan Noor Kamil, Co-Founder Mas Pam Records.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan