Mengamalkan Pancasila dengan Memanfaatkan Digital

mengamalkan pancasila

Bandung Side, Kabupaten Garut – Mengamalkan Pancasila dari budaya digital menggambarkan gagasan jika teknologi digital secara signifikan membentuk cara kita berperilaku, berpikir dan berkomunikasi di tengah masyarakat.

Karenanya kita harus tetap menjadi diri kita sendiri saat berada di dalam dunia digital.

Digital banyak manfaatnya karena dapat mempermudah dan mempercepat pekerjaan, cukup dengan gawai pekerjaan dan aktivitas lain dapat dikerjakan.

Jangkauan juga semakin meluas, tentu ini tidak lepas dari upaya pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang terus memperbaiki infrastruktur teknologi digital.

Di daerah terpencil sudah terjangkau internet sehingga memudahkan mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan seluruh masyarakat di Indonesia.

Inovasi dan kreativitas semakin meningkat dengan adanya budaya digital, batas kreasi di dunia maya hanya sebatas imajinasi. Sekarang bagaimana kita dapat mengembangkan imajinasi kita dalam berkreasi.

Digital ini memberikan fleksibilitas, mengerjakan pekerjaan kantor sambil mengurus anak dan membantu belajar online. Budaya digital juga mampu memperluas bisnis para pelaku khususnya UMKM.

Saat sudah berbudaya digital dengan seluruh aktivitas hingga cara pandang yang berangsur-angsur ada perubahan. Apakah kita masih bangsa yang dapat menjalankan Pancasila di tengah hiruk pikuk kemajuan digital?

Sisi Suhardjo praktisi Hubungan Masyarakat dengan yakin menjawab, sudah pasti bisa. Pancasila masih menjadi bagian dari pedoman berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia sekalipun saat berada di ruang digital.

“Pancasila ini menjadi pemersatu bangsa, pengarah dan motivator untuk mencapai cita-cita, sebagai identitas bangsa juga mengontrol sosial bangsa,” kata Sisi Suhardjo.

“Kelima silanya masih sangat relevan dengan apa yang kita lakukan saat ini meskipun kecanggihan teknologi yang mempengaruhi kita,” ujar Sisi Suhardjo dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (24/8/2021).

Sisi menjelaskan, sesuai Sila Pertama Pancasila yang erat kaitannya dengan agama, Indonesia memiliki bermacam agama sehingga dibutuhkan toleransi tinggi. Di dunia maya pun demikian, tidak lagi meributkan soal perayaan keagamaan, karena semua berhak untuk beribadah sesuai keyakinannya.

Sila Kedua bagaimana antarmasyarakat saling membantu untuk menolong, jika ada bencana sudah ada yang bergerak dengan kekuatan media sosial untuk menghimpun bantuan.

“Persatuan Indonesia pada sila ketiga ini bagaimana kita bersatu mendukung tim nasional bertanding di Olimpiade. Komentar netizen yang menyemangati atlet diharapkan mampu membakar semangat mereka,” ungkap Sisi Suhardjo.

Sila Keempat soal musyawarah, bagaimana di ruang digital terbuka untuk melakukan diskusi, contohnya grup sekolah untuk bermusyawarah.

Terakhir Sila Kelima, keadilan sosial banyak yang menerapkan di media sosial ini untuk dapat membantu teman teman di kota lain untuk sama-sama merasakan yang kita alami.

Sehingga keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia dapat terpenuhi dan semua itu dapat diwujudkan di ruang digital dari mana saja dan kapanpun.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (24/8/2021) juga menghadirkan pembicara Billy Kwanda (Digital Marketing Specialist), Kis Uriel (Development Coach), Rinda Cahyana (Relawan TIK Indonesia), dan Almira Vania sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan