Bandung Side, Kabupaten Bandung – Hilangnya kearifan lokal tidak sebanding lurus dengan membicarakan Indonesia, negara yang kaya dari sumber daya alam juga budaya.
Suku bangsa yang dimiliki Indonesia lebih dari 1.300 kelompok etnik atau suku bangsa, 600 lebih bahasa daerah dan lebih dari 2.000 cagar budaya.
Bukan hanya soal ciri khas dari setiap daerah namun untuk keseluruhan dari masyarakat Indonesia juga sudah memiliki budaya sendiri.
Pola perilaku yang sudah dikenal, ramah tamah, hormat kepada orangtua, gotong royong yang berasal dari adat istiadat bangsa Indonesia.
Satu lagi yang mencirikan negara Indonesia itu sendiri atau lambang negara seperti bendera, bahasa, dan lagu kebangsaan.
Teknologi modern dapat menghapus nilai-nilai tradisi, budaya dan cakrawala jangka panjang manusia demi kebutuhan material semata. Masyarakat itu sendiri yang dipengaruhi dan dibentuk oleh perkembangan teknologi.
Sehingga manusia harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan teknologi dan inovasi baru. Konsekuensi negatif dari perkembangan teknologi adalah hasil dari penggunaan yang buruk oleh masyarakat, bukan dari sifat teknologi itu sendiri.
“Pergerakan teknologi yang terbilang cepat ditambah banyaknya informasi yang datang di ruang digital diterima oleh seseorang yang masih beradaptasi,” kata Catur Nugroho.
“Sehingga yang terjadi banyaknya perilaku buruk di ruang digital seperti hoaks, ujaran kebencian hingga penipuan online menjadi tantangan tersendiri bagi mereka menggunakan teknologi,” ujar Catur Nugroho, Dosen Komunikasi Universitas Telkom pembicara Gerakan Nasional Literasi Digital untuk Indonesia wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/8/2021) pagi.
Perkembangan teknologi dalam konteks sosial budaya yang terjadi akan muncul budaya baru terjadi di berbagai bidang seperti musik, karya sastra, perfilman, transaksi dan banyak bidang lainnya.
Budaya ini hadir karena telah terjadi pergeseran pemenuhan kebutuhan masyarakat akibat dari akses di dalam teknologi informasi itu sendiri.
“Jadi konsekuensi logis dari globalisasi atau transformasi digital ialah hilangnya kearifan lokal dan budaya asli suatu kelompok masyarakat karena tergerus budaya yang baru hadir,” jelas Catur Nugroho.
“Menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme. Gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa akan perlahan menghilang,” ungkap Catur Nugroho.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Bandung Jawa Barat, Senin (9/8/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara Gunawan Lamri (Founder dan CEO PT. Kuliner Anak Indonesia), Fikri Muhammad Hakim (Senior manager Safety Garuda Indonesia), Arya Shani Pradana (Founder Tekape Workspace), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***