Perundungan dan Pelecehan Digital Disekitar Kita

Perundungan dan Pelecehan Digital Disekitar Kita

Bandung Side, Kabupaten Karawang – Perundungan bisa terjadi secara verbal, tulisan, komen juga postingan status di media sosial. Tanpa kita sadari kita ada di lingkaran perundungan itu sendiri.

Entah kita sebagai korban, pelaku mungkin secara tidak sadar, pelindung memberi semangat kita berada di dalam lingkaran itu. Bagaimana seharusnya seseorang harus menyikapi dan mengambil peran positif untuk masalah pelecehan dan perundungan ini.

Beberapa waktu lalu terungkap seorang mahasiswi yang selalu mendapat kekerasan dari kekasihnya atau yang kita sering disebut dengan toxic relationship.

Mahasiswi tersebut sangat ingin berpisah namun selalu dihalangi sang pacar karena diancam akan disebarluaskan foto-foto tidak senonoh miliknya.

Dia pun semakin tidak kuat berada dalam hubungan yang seperti itu. Lantas beberapa temannya memberi saran untuk melakukan speak up di media sosial.

Sang Mahasiswi melakukan speak up di media sosial hingga ramai diperbincangkan dan menjadi perhatian Komnas Perempuan.

Ria Aryanie, Praktisi Komunikasi dan Hubungan Masyarakat yang pernah menangani seorang publik figur muda berusia 19 tahun. Ria mengalami pelecehan seksual yaitu tersebar video dirinya dalam keadaan tanpa busana di ruangan pribadi.

Ada kamera yang diletakan orang jahat di sana. Video tersebar seketika dia merasa insecure down dan merasa mental terganggu.

Penanganan yang harus dilakukan kepada korban ialah personal. Menurut Ria, inti dari dari perundungan dan pelecehan seksual, yang harus pertama kali dilakukan penangannya adalah penanganan personal terhadap korban.

“Saya minta dia untuk detoks media sosial, tutup semua akun media sosial. Tidak usah didengar perundungan yang ada di dunia digital karena itu akan menambah beban mental,” kata Ria.

Lalu kemudian memberikan motivasi dan dukungan penuh dari keluarga dan untuk mendapatkan pendampingan dari sekolah karena sudah ke mental teman-temannya juga,” jelas Ria saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021).

Kedua ialah penanganan hukum, korban berhak mendapatkan penanganan hukum dari pengacara. Ria meminta untuk dia mengajukan laporan terhadap pelaku penyebaran.
Kemudian mendapatkan pendampingan, jadi mereka yang menyebarkan itu bisa kena hukuman UU ITE.

Penanganan yang ketiga adalah penanganan secara publik, bagaimana mengatasi perundungan, pelecehan dan komentar komentar yang menyudutkan yang membuat mental korban jatuh.

“Saya meminta dia untuk mengklarifikasi memberitahukan kejadian yang sebenarnya, bahwa yang di video tersebut adalah dia. Jujur saja karena semakin berbohong menciptakan peluang publik untuk terus mencari kesalahannya,” ungkap Ria.

Setelah itu, dia pun mengajak publik melakukan kampanye stop cyberbullying. Jangan sampai sudah menjadi korban pelecehan ditambah di-bully, sesuatu yang bukan kesalahan dia.

Gadis itu pun berani bercerita apa yang dirasakannya, ketika melihat dirinya dilecehkan dengan video tersebut dan jatuh mentalnya saat banyak netizen malah mem-bully. Dia mengajak untuk siapapun harus menghindari penyebaran konten vulgar dan perundungan di media sosial karena dampak nyata yang ditimbulkan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021) juga menghadirkan pembicara Denden Sofiudin (Rumah Kopi Temanggung), Leni Fitriani (STT Garut), Lisa Adhrianti (Japelidi), dan dr. Maichel Kainama sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan