Perkuat Keamanan Internet Otentifikasi Dua Faktor

Perkuat Keamanan Internet dengan Otentifikasi Dua Faktor

Bandung Side, Kabupaten Bekasi – Perkuat keamanan internet menjadi kebutuhan bagi banyak orang, bahkan lebih dari kebutuhan tersier.

Sayangnya, internet juga banyak digunakan untuk hal-hal yang negatif seperti malware, spam, dan phishing.

Karena itulah pentingnya perkuat keamanan internet dalam menjaga privacy kamu. Jangan sampai disalahgunakan pihak-pihak yang berbuat jahat.

Untuk mencegah kejahatan siber, perkuatlah pertahanan pertama data (akun) Anda dengan membuat password yang susah ditebak, dan jangan pakai kata sandi yang pasaran.

Setelah membentengi email dan media sosial dengan password yang kuat, buatlah sistem pertahanan dengan menerapkan otentifikasi dua faktor.

“Keamanan yang saat ini kita gunakan merupakan single factor authentication,” kata Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/7/2021).

Rino menjelaskan bahwa konsep single factor authentication ini ialah yang memiliki password maka dia yang bisa masuk ke dalam sebuah akun tanpa diverifikasi kembali. Keamanan jenis ini cukup rentan.

Selain password, single factor authentication ini berupa PIN. Biasanya terdiri dari 4-6 digit angka.

“Biasanya untuk memudahkan kita menggunakan password manager. Fungsinya untuk menyimpan seluruh password di akun kita, terutama yang pelupa. Namun, penggunaan password manager ini memiliki risiko terlebih jika handphone yang digunakan itu hilang,” papar Rino.

Karena minimnya keamanan pada single factor authentication, saat ini banyak aplikasi yang menambahkan menjadi 2 factor authentication.

Saat masuk ke suatu akun, kita akan diverifikasi kembali apakah kita pemilik asli akun tersebut atau bukan.

Jenis 2FA ini biasanya berupa OTP yang dikirimkan sekali dalam jangka waktu tertentu melalui email atau SMS. OTP biasanya berupa kode, tetapi bisa juga berupa link.

Rino menjelaskan, pola kerja 2FA melalui 3 hal. Pertama, something you know atau sesuatu yang kita ketahui yaitu username dan password untuk perkuat keamanan internet.

Kedua, sistem akan masuk dan mendeteksi berdasarkan something you have, seperti perangkat digital atau alamat email.

Ketiga, something you are, sesuatu yang memang ada pada diri kita, seperti sidik jari atau iris mata.

“Penelitian mengenai 2FA, dari 1852 responden di 34 provinsi. Sebanyak 44% belum sadar akan 2FA, 35% sadar dan sudah menggunakan, sedangkan 21% sadar tetapi belum mau menggunakan,” jelas Rino.

Sebagai salah satu keamanan, PIN dan OTP berbeda. PIN merupakan sistem keamanan yang bisa diatur oleh pemilik, berlaku berkali-kali, dan berupa angka.
Sedangkan, OTP merupakan kode acak yang diberikan oleh sistem, memiliki limit waktu penggunaan, hanya berlaku sekali, berupa angka atau link dan konteksnya terbatas.

Penggunaan OTP contohnya pada e-wallet saat ingin melakukan transaksi. Sangat disayangkan, penggunaan OTP ini menjadi sarana kejahatan siber yang paling sering terjadi.

Untuk menghindari kejahatan siber, pengguna tentu harus menjaga keamanan data dan akunnya masing-masing.

Tindakan lainnya yang dapat dilakukan sebagai upaya preventif, yaitu tidak memberikan OTP ke orang lain, ganti password secara berkala, berhati-hati jika menggunakan internet publik seperti wifi, melakukam validasi, dan bertanya kepada yang lebih paham atau mengerti.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat juga menghadirkan pembicara, Daniel Hermansyah (CEO Kopi Chuseyo), Dian Andriasari (Dosen Hukum Pidana & Kriminologi FH UNSIBA dan Aktivis Perempuan), Reza Hidayat (CEO OREIMA FILMS), dan Joana Lee.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan