Penanaman Nilai Hidup Jawaban Krisis Identitas

Penanaman Nilai Hidup

Bandung Side, Kota Depok – Penanaman nilai hidup saat nitizen Indonesia sibuk di ranah digital mengakibatkan munculnya krisis identitas, jauh dari manfaat positif teknologi.

Berbagai masalah yang sering terjadi pada netizen di Indonesia dengan kesibukan di ruang digital adalah menurunnya daya atensi dan konsentrasi, merusak kualitas hubungan, terganggunya kesehatan, gaya hidup yang buruk, hingga risiko tindak kejahatan.

Berbagai masalah pada anak, turut menghantui zaman yang serba digital, termasuk munculnya krisis identitas karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Ada pula masalah kecanduan gadget, paparan aliran radikalisme, berbagai gangguan klinis perilaku, risiko terkait pelecehan seksual, perundungan di media sosial dan bahaya menjadi konsumtif.

“Anak jadi tidak terasah kemampuan motoriknya dan bullying ini bukan main-main semakin ke sini banyak anak-anak stress karena membandingkan hidupnya,” Oriza Sativa, Psikolog Klinis saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, (1/7/2021).

Menurut Oriza, masyarakat seharusnya bisa mendapatkan manfaat positif dari penggunaan teknologi untuk mempermudah kehidupan. Bukan justru merugikan seperti permasalahan yang tengah terjadi pada netizen Indonesia saat ini.

“Dasarnya adalah penanaman nilai hidup, bahwa sebenarnya budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki masyarakat,” tutur Oriza.

Dengan memiliki budaya atau sikap hidup yang baik dan pentingnya anak-anak atau generasi muda untuk punya nilai hidup agar hidupnya berkualitas.

Nilai-nilai seperti menyayangi sesama, hormat kepada orang tua, memaafkan, berbagi, hingga nilai kemandirian dan kedisiplinan perlu ditanamkan orang tua sebagai nilai kehidupan anak.

Begitu pun nilai hidup usia dewasa, yang harus memiliki integritas, kesetiaan, kejujuran, mau bekerja keras, memiliki ketabahan, dan harga diri.

Oriza juga memberikan panduan bagi orang tua, agar bisa menjadi role model bagi anak-anak, di mana orang tua sendiri harus melek teknologi.

“Nilai hidup yang ditanamkan akan diwariskan kepada generasi, konteks budaya tidak lepas dari nilai hidup,” kata Oriza.

Nilai hidup, fungsi keluarga, arti teman dan pertemanan, lakukan literasi digital serta pantau aktivitas berinternet anak.

Jaga hubungan baik dengan sahabat dan teman anak anda, tetap tumbuhkan nilai-nilai kehidupan agar terciptanya literasi digital yang berkualitas.

Panduan bagi orang dewasa menghadapi era digitalisasi, selaraskan waktu antara berinternet dan bersosialisasi, budayakan mengecek fakta sebelum berbagi segala informasi.

Selain itu tumbuhkan kualitas hidup yang positif agar tidak terjebak dalam perilaku tidak sehat dalam berinternet.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Oleh Sanchabahtiar Creatove Concept Planet Design Indonesi, Florence Irena seorang Psikolog Anak & Remaja, serta Taufik Hidayat Kepala UPT TI & Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Syekh Yusuf.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan