Mitos dan Bias Gender Perlu Literasi Digital

Mitos dan Gender

Bandung Side, Kabupaten Bekasi – Mitos dan Bias Gender di internet menjadi sebuah kesempatan dan sumber pengetahuan, namun dengan syarat internet bisa menjadi ruang yang nyaman dan aman bagi semua orang.

Namun pada kenyataannya tak semua yang ada di internet merupakan positif, di balik itu ada ancaman pelecehan seksual, perundungan, akhirnya menjadi ancaman pada mitos dan gender .

“Untuk perempuan dan anak perempuan internet ini memang bisa jadi ancaman yang lebih besar karena kekerasan berbasis gender online,” kata Kalis Mardiasih, Aktivis Gender Equality saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, Selasa (6/7/2021).

Dari pengertiannya kekerasan gender online merupakan kekerasan yang dilakukan oleh gender yang lebih kuat ke gender yang lebih lemah untuk membuat korbannya merasa takut, terancam, terintimidasi, tak berdaya.

Kekerasan ini biasanya difasilitasi oleh teknologi, seperti SMS, layanan pesan instan, media sosial, games forum, hingga dating apps.

Berbicara twitter, Instagran setiap hari berisikan soal perempuan lebih banyak ngatur-ngatur perempuan, pelecehan perempuan, becandain janda dan perempuan lajang, kebanyakan konten perempuan seperti itu makanya saya melawan dengan digital story telling tentang perempuan keren yang tidak banyak diceritakan.

Di mana Perempuan seharusnya yang dilihat adalah pikirannya, perempuan itu gagasannya, inisiatifnya.

“Makanya saya ceritakan tentang perempuan buruh, perempuan nelayan, perempuan petani,” kata Kalis.

Di sosial media menurut Kalis ada begitu banyak perilaku kekerasan gender berbasis online yang tak disadari, bahkan cenderung dianggap lucu.

Kebanyakan mereka mengonentari fisik perempuan di akun-akun Instagram selebritis.

Bahayanya lagi di dunia siber juga ada penguntitan yakni memata-matau secara berulang-ulang yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan maksud melecehkan.

“Ada juga namanya non consensual intimate image, tindakan mendistribusikan gambar-gambar atau video yang mengeksploitasi seseorang secara seksual di internet tanpa persetujuan orang tersebut,” ujar Kalis.

Lebih jauh Kalis juga mengatakan, bahkan di media massa sendiri masih banyak jurnalisme yang tidak ramah terhadap perempuan.

Seperti pemberitaan soal perempuan yang harus memakai embel-embel cantik, padahal perempuan seharusnya dilihat dan dikomentari bukan hanya dari fisiknya.

Bahkan setelah menjadi mayat pun tetap ada kata perempuan cantik di dalam judul tulisan untuk membuatnya menjadi viral.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Monica Eveline dari Diana Bakery, Budiman Akbar Penulis & Dosen Politeknik Negeri Media Kreatif, dan Rino Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan