Bandung Side, Kota Depok – Konten digital merupakan informasi yang tersedia melalui produk elektronik. Konten ini berbentuk teks, video, gambar, atau suara.
Maria Natasya P atau Tasya, seorang Graphic Designer, menyampaikan di masa sekarang, generasi milenial menjadi target utama dalam produksi konten.
Hal ini didasarkan pada durasi penggunaan gadget yang lama. Rata-rata generasi milenial menghabiskan waktu belasan jam menggunakan gadget dan dalam mendapatkan informasinya melalui internet.
“Dunia online yang digital seperti sekarang berbeda dengan dunia offline. Kalau dulu komunikasinya satu orah, saat ini dilakukan dua arah. Kalau dulu feedbacknya lama, sekarang ini feedbacknya instant,” kata Tasya saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (19/7/2021).
“Begitu juga dengan targetnya, kalau dulu iklan di televisi memiliki target yang luas, saat ini targetnya lebih spesifik disesuaikan dengan kebiasaan,” papar Tasya.
Tasya menyatakan, perbedaan ini mendukung adanya konten digital marketing. Digital marketing merupakan pemasaran produk menggunakan teknologi digital, terutama di internet.
Online marketing memungkinkan perusahaan menjangkau target pasar yang lebih spesifik. Digital marketing ini dapat diukur dan dilihat hasilnya.
Keahlian konten digital marketing ini juga sangat dibutuhkan di era digital.
Mempelajari konten digital marketing dapat membuka peluang lebih luas di bidang pekerjaan.
Bagi Tasya, pembuatan konten seperti pendekatan. Tips utama dalam membuat konten dengan cara kenalan, sesuai kriteria, dan berkomunikasi.
Pada tahap kenalan, kita dapat mempelajari media sosial untuk mengenal dan mempelajari kebiasaan penggunanya. Kita juga dapat mengenalkan produk kita pada media sosial.
Setelah itu, kita dapat membuat konten yang cocok dengan kriteria audiens atau target pasar. Ketika membuat konten, buatlah konten yang. nyaman bagi diri kita dan juga orang lain. Misalnya, yang hobi masak bisa membuat konten masak.
Lanjut Tasya, komunikasi. Apabila konten sudah terbit, jangan ditinggalkan begitu saja. Kita harus berkomunikasi dengan audiens, caranya dapat dilakukan dengan membalas komentar.
Hal ini dapat membuat audiens merasa dihargai. Ketika ada audiens yang memberi kritik atau saran juga diterima dengan baik.
“Sosial media itu dipakai untuk branding. Dipakai juga untuk menjalin hubungan, mendengarkan, dan menjaga reputasi. Menjaga reputasi menjadi tugas terbesar digital marketing terutama di sosial medial,” ujar Tasya.
Dalam membuat konten, kita dapat menggunakan AIDA model. Tahapan pertama, pertama bikin konten untuk dilihat dan dikenal (attention). Kedua, membuat orang tertarik dengan konten kita (interest).
Ketiga, setelah tertarik maka audiens akan memiliki keinginan (desire). Terakhir, ditutup dengan action, yaitu tindakan untuk membeli.
Konten yang dibuat harus bisa dikonsumsi dan harus lebih baik dari kompetitor agar lebih menonjong. Konten yang dibuat harus lengkap. Kemudian, konten juga harus cocok dengan produk kita atau branding perusahaan.
Selanjutnya, membangun kepercayaan audiens dengan membuat konten yang benar dan bersumber valid.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kota Depok, Jawa Barat juga menghadirkan pembicara,Rini H. Santosa (Psikolg Klinis Dewasa), Aditya N. Putra (Ketua Jurusan Hotel Pariwisata/international University Liasson Indonesia), Taufik Hidayat (Kepala UPT IT & Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Syeikh Yusuf), dan Inge Indriani Bakrie sebagai key opinion leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan yang menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.
Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***