Kita Tidak Boleh Abai Jejak Digital

jejak bandungside.com

Bandung Side, Kabupaten Majalengka – Jejak digital sejatinya, di era modern ini setiap orang pasti pernah meninggalkannya tanpa kita sadari mekipun ada sisi positif di ruang digital.

Entah itu di media sosial maupun platform lainnya. Masalahnya, masih banyak orang yang belum sadar mengenai risiko berbahaya yang bisa hadir dengan meninggalkan informasi sensitif tersebut.

Rekam jejak digital merupakan informasi mengenai seseorang yang ada di internet sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas daring.

Firzie A. Idris seorang Asisten Editor Kompas.com menyampaikan bahwa terdapat dua jenis jejak digital, yaitu pasif dan aktif.

Jejak digital pasif merupakan data yang tak secara sengaja ditinggalkan, seperti alamat IP, lokasi, history pencarian, dan waktu login-logout.

Kemudian, jejak aktif adalah data yang secara sengaja dicatatkan. Contohnya, unggahan media sosial, surat elektronik, dan data yang diunggah di situs.

Selama server-server seperti Facebook dan Instagram bertahan, selama itu postingan kita akan bertahan.

Rekam jejak digital juga ada sisi positifny, misalnya, di Singapura digunakan untuk mengambil sampel informasi yang cepat, hemat biaya, dan fun.

“Informasi ini penuh insight berdasarkan data sah agar pemerintah bisa mengembangkan kebijakan sosial, bisnis, dan kesehatan mereka,” ujar Firzie dalam Webinar Literasi Digital, Kabupaten Majalengka, Kamis (22/7/2021).

Sekarang ini, dunia telah bergeser menjadi dunia digital, ada 27 juta pengguna internet baru di Indonesia dalam satu tahun.

Kemungkinan juga mereka belum punya kesadaran literasi digital yang cukup dan mungkin belum paham dengan rekam jejak digital yang mereka tinggalkan.

Hal ini juga ditambah dengan kesadaran privasi di dunia daring.

Mungkin tidak semua pengguna menjadikan hal ini sebagai prioritas. Karena hanya 37,1 % pengguna yang khawatir terhadap rekam jejak mereka.

“Efek banyaknya pengguna media sosial yang dibarengi dengan pemahaman online privacy yang minim itu akan menimbulkan efek negatif fenomena oversharing dan ini akan berlanjut pada fenomena sharenting,” papar Firzie.

Sharenting ini merupakan feomena ketika orang tua, guru, atau pengawas dewasa yang menerbitkan, mengirim, menyimpan, atau berinteraksi dalam aktivitas-aktivitas menyangkut informasi tentang anaknya melalui media digital.

Bahayanya, rekam jejak digital ini akan bertahan sangat lama. Selain itu, anak juga memiliki hak atas privasi.

Firzie mengatakan, kita yang memakai media sosial juga harus waspada terhadap kejahatan siber. Salah satunya phising yang memiliki tujuan untuk memancing pengguna membagikan informasi pribadinya.

Kemudian, pharming yaitu situs bodong yang serupa dengan situs asli. Alamat website resmi diawali dengan HTTPS karena memiliki protokol keamanan yang lebih lengkap.

Selanjutnya, terdapat kejahatan social engineering dengan memanipulasi psikologis korban untuk pendapatkan data-data penting seperti nama lengkap, nama ibu kandung, pin dan pasword, serta data keuangan lain.

Rekam jejak digital juga harus dijaga ketika kita membuka internet menggunakan wifi dan komputer umum. Bahayanya ada kemungkinan pencurian kata sandi.

Cara-cara mengamankan rekam jejak digital menurut Firzie, dilakukan dengan mengatur privasi di media sosial.

Dalam menciptakan rekam jejak positif, dapat dilakukan dengan menghindari media sosial saat sedang emosi, cakap berbahasa sesuai situasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta berpikir kritis.

Penggunaan media digital secara tidak bijak meninggalkan rekam jejak negatif, dan tidak menutup kemungkinan jejak digital ini menjadi bumerang, terutama bagi karier seseorang.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Vedi Sumantri (Arsitek), Nikita Dompas (Producer & Music Director), Reza Hidayat (CEO OREMA FILMS), dan Bianca Utaya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan