Bandung Side, Kabupaten Bekasi – Anak kecanduan game online karena kecanggihan teknologi dan internet telah mengubah dunia, salah satu produknya adalah video game yang menjadi kesenangan dan hiburan bagi semua kalangan.
Hal yang menjadi perhatian, video game menyebabkan kecanduan atau ketergantungan psikologis yang abnormal.
“Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab kecanduan. Karena adanya tujuan dan target yang jelas, sensasinya, termasuk karena pelarian dan identitas,” kata Lucas Alvian Susanti, Konseler SMA Santo Yakobus saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, Rabu (30/6/2021)
Kecanduan pun ada tingkatannya, pertama bermain game menjadi aktivitas terpenting dan mendominasi pikiran.
Kedua karena intensitasnya tinggi, ketiga karena modifikasi mood disebabkan rasa euphoria dari main game, dan terakhir kecanduan main game karena perasaan tidak nyaman saat bermain dikurangi atau diberhentikan, perilaku ini sering terjadi pada anak-anak.
Level selanjutnya anak tetap kecanduan meskipun sudah berhenti dan ada kecenderungan untuk kembali lagi.
Level keenam sudah dalam tahap konflik interpersonal yang disebabkan bermain game, dan level ketujuh kecanduan yang menyebabkan masalah karena sudah berlebihan hingga mengesampingkan tanggung jawab dan mengejar kesenangan.
Jadi apa yang bisa dilakukan jika tanda kecanduan tersebut sudah terjadi? Lucas mengungkapkan tidak cukup dengan teguran atau hukuman.
Perlunya ada pemilihan game atau aktivitas di internet yang edukatif, hingga pendidikan di rumah, serta perlunya perhatian orang tua, hingga mendapatkan bimbingan dan konseling.
“Orang-orang yang kecanduan karena tidak memiliki rasa aman, bernilai, dihargai, dipahami dan dicintai. Maka orang tua harus lebih banyak mendengarkan anak dengan hati, bukan hanya telinga,” kata Lucas yang juga Founder Creative Counseling Centre.
“Banyak keluhan-keluhan yang sampai ke anak tidak terdengar. Karena itu orang tua perlu memandang anak dengan kasih, mencoba meresapi perasaan anak dan bukan menganalisa dengan pikiran,” tutur Lucas.
Orang tua memiliki peran menanamkan nilai kehidupan pada anak di masa kini dan masa nanti, sehingga anak tidak mengalihkan atau melakukan pelarian dunianya ke game online.
Karena bila orang tua sudah melakukan hal itu anak-anak merasa aman, berarti, bernilai, dihargai, dipahami, dan dicintai.
Untuk itu saling berbagi antara orang tua dan anak dengan membangun kedekatan bisa menjadi jalan agar anak tidak kecanduan game online.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.
Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dino Hamid Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Syarief Hidayatulloh Digital Strategic Hello Monday Morning, dan Fibra Trias Amukti Editor in Chief Mommies Daily.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.
Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***