Bandung Side, Kabupaten Bekasi – Etika digital warganet dibutuhkan sejak mengenal internet dalam memanfaatkan berkomunikasi melalui media sosial hendaknya dengan bijak.
Dikutip dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada November 2020, sebanyak 196.7 juta orang Indonesia merupakan pengguna internet, jumlah tersebut naik 23.5 juta atau 8.9 persen dibanding data 2018 lalu.
Dari data itu, provinsi Jawa Barat menduduki peringkat pertama dengan 35. 1 juta orang; disusul Jawa Tengah dengan 26.5 juta orang; dan Jawa Timur dengan 23.4 juta orang pengguna internet.
“Hampir seluruh provinsi di Indonesia paling tidak sudah tahu apa itu internet,” kata Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Bekasi, Jalu Dwi Putranto dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/6/2021).
Meski angka pengguna internet Indonesia cukup tinggi, Jalu menyoroti kemampuan literasi digital warganet Indonesia khususnya etika digital.
Jalu memaparkan, etika digital adalah tata cara sopan menggunakan media sosial kepada orang lain baik dalam membuat laporan, membuat informasi, berinteraksi serta memanfaatkannya secara sehat, cerdas, tepat dan patuh terhadap norma atau hukum.
“Contoh etika digital adalah tidak membagikan hoaks, menggunakan bahasa yang baik, tidak mengusik privasi orang lain, membuat status yang baik dan tidak mengganggu orang secara digital,” tambah Jalu.
Dalam kesempatan yang sama, Digital Productivity & Sustainability Activist – Viringga Kusuma juga menekankan pentingnya menyaring informasi hoaks atau informasi keliru (palsu) dengan keluar dari gelembung media sosial yang itu-itu saja.
Kata Viringga, berada dalam gelembung yang itu-itu saja saat bermedia digital berisiko membentuk polarisasi tajam di media sosial.
“Kekuatan persamaan pandangan terhadap sesuatu topik yang membuat orang terpolariasi. Dia akan menganggap kelompok lain adalah kelompok minoritas yang pada akhirnya memunculkan intoleransi dan perpecahan,” tambahnya.
Untuk itu, lanjut Viringga, penting bagi masyarakat menyadari dan keluar dari gelembung monoton terutama gelembung yang penuh akan informasi hoaks atau berita palsu.
Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah dengan sengaja mencari informasi yang berlainan dengan minat, menerapkan prilaku berpikir kritis, mengajukan laporan ketidak tertarikan pada konten hoaks, dan tetap teguh bersikap toleran.
“Kita harus berupaya menjadi aktor yang menjaga lingkungan harmonis dengan begitu kita bisa hidup di dunia demokrasi sebenarnya,” tutup Viringga.
Selain Jalu Dwi Putranto dan Viringga Kusuma, hadir juga narasumber lainnya yaitu Cyntia Jasmin, Firzie A Idris dan Louiss Regi Aude yang memberikan pemaparan tentang tema literasi digital.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.***