Merdeka Belajar Kampus Merdeka Ubah Paradigma Perguruan Tinggi

Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Bandung Side, Sari Asih – Merdeka Belajar Kampus Merdeka kebijakan yang diusung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim merubah paradigma perguruan tinggi.

Hal tersebut menjadi perbincangan hangat dalam kegiatan talk show yang tayang di televisi digital Marketeers TV dalam program Goes to Campus.

Menghadirkan narasumber Founder & Executive Chairman MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya; Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof.Dr.Ir.Asep Saefuddin, M.Sc; dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Logistig (STIMLOG), Rachmawati Wangsaputra, Ph.D.

Terdapat empat poin dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yakni pertama, otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi baru.

Poin kedua, program reakreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat.

Selanjutnya poin ketiga, kebebasan bagian PTN Badan Layanan Umum dan satuan kerja untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH).

Sedangkan poin terakhir, perpanjangan waktu magang hingga dua semester dan satu semester di luar program studi.

merdeka belajar kampus merdeka
Goes to Campus dari Marketeers TV Menghadirkan narasumber Founder & Executive Chairman MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya; Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof.Dr.Ir.Asep Saefuddin, M.Sc; dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Logistig (STIMLOG), Rachmawati Wangsaputra, Ph.D.

Marketeers TV berusaha memberi inspirasi dengan sudut pandang creativity serta inovation agar dunia kampus dapat mencetak entrepreneurship dan leadership yang dilaksanakan dan dipersiapkan oleh pendidikan tinggi di Indonesia.

Hermawan Kartajaya mengawali materi mengatakan bahwa dunia pendidikan menghadapi merdeka belajar kampus merdeka seperti arahan Mas Menteri dan Dirjen Dikti seharusnya bagaimana strateginya.

Pada poin 4 yakni magang hingga dua semester dan satu semester di luar program studi menjadi daya tawar merubah paradigma perguruan tinggi untuk menyiapkan entrepreneurship.

Hermawan Kartajaya mengingatkan 10 tahun yang lalu, Ciputra yang dijuluki Bapak Entrepreneur pernah mengatakan bahwa kewirausahaan itu penting sekali, tapi tidak ada yang mau mendengarkan.

“10 tahun yang lalu, almarhum Ciputra yakni Bapak Entrepreneur sudah mengatakan kalau entrepreneur itu penting, tapi tidak ada yang merespon positif,” kata Hermawan.

Menurut penelitian Ciputra, suatu negara harus memiliki 3% entrepreneur dari jumlah penduduknya, seandainya penduduk Indonesia 270 juta maka harus ada sekitar 77,5 juta entrepreneur.

Belakangan ini, setelah Menteri Pendidikan nya Mas Nadiem menjadi kejutan semua orang, kebijakan MBKM sesuai arahan Presiden Joko Widodo yakni meyapkan tenaga siap untuk bekerja dan menyiapkan pengusaha, imbuh Hermawan.

“Jadi paradigma perguruan tinggi pertama, menyiapkan TENAGA SIAP BEKERJA dan kedua, lulusan SIAP PENGUSAHA,” tegas Hermawan.

Kampus sudah terbiasa mencetak dan menyiapkan tenaga profesional tapi belum tentu bisa menjadi entrepreneur, karena materi yang dipelajari berupa marketing hanya sekedar teori.

Sedangkan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar menginginkan selain mencetak profesional dengan teori juga memiliki mental entrepreneurship menjalankan keahlian marketing.

merdeka belajar kampus merdeka
Founder & Executive Chairman MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya mengusung konsep Kampus Hijau sebagai penyempurna Kampus Biru dengan materi CIEL, PIPM dalam merdeka belajar kampus merdeka

Seperti yang tertuang pada Buku Entrepreneur Marketing yang diterbitkan Hermawan Kartajaya bersama Philip Kotler yang sudah pada cetakan ke 10 yakni menggabungkan antara entrepreneurship dan marketingship

Karena untuk melaksanakan marketing perlu entrepreneurship, sehingga kedepan kampus tidak hanya mencetak profesional marketing, tapi entrepreneur marketing.

Sehingga kebijakan kampus merdeka ingin kalau Strata-1 (S-1) menempuh 8 semester tidak semuanya belajar prodinya saja, tapi 5 semester untuk prodi, sisanya 2 semester disiplin ilmu lain dan 1 semester untuk magang.

Hermawan didalam bukunya Entrepreneur Marketing mengusung konsep Kampus Biru yang identik dengan Productivity Improvement Professionalism Managemen (PIPM) menjadi Kampus Hijau yang fresh yakni Creativity Innovation Entrepreneurship Leadership (CIEL).

Dalam paparannya, Hermawan mengatakan bahwa umat Islam memiliki teladan yang luar biasa, yakni Nabi Muhammad SAW.

Dalam profilnya, di usia 25 tahun sebagai manusia biasa sudah memiliki landasan kuat sifat Sidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Fathonah (cerdas) dan Tabliq (menyampaikan).

Selanjutnya di usia 25 – 40 tahun menjadi pedagang/ pengusaha/ saudagar atau entreprenur dengan landasan kuat sifat tersebut.

Di usia 40 – 63 tahun menjadi nabi dan menjadi manusia yang matang, jadi Nabi Muhammad mengusung ajaran omni yakni ajaran yang menggabungkan profesionalism dan entrepreneur.

Paparan Hermawan Kartajaya diamini oleh Prof.Dr.Ir.Asep Saefuddin, M.Sc, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia yang juga menegaskan bahwa suatu negara bila tidak memiliki entrepreneur akan kesulitan membuat masyarakatnya sejahtera.

“Suatu negara kalau entrepreneurnya kurang, negara tersebut susah meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, karena devisa negara banyak dihasilkan oleh entrepreneur,” kata Asep Saefuddin.

Landasan menciptakan entrepreneurship di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) tercermin pada Tujuh Elemen Dasar, yakni Teknologi Informasi dan Komunikasi; Program Bahasa; Jaringan Mitra Strategis; Kepemimpinan; Keahlian Manajemen; Kewirausahaan; dan Pengetahuan Keislaman.

UAI juga memiliki program Studen Mobility Program sebagai pangejawantahan Merdeka Belajar Kampus Merdeka yakni mahasiswa meskipun tidak mengambil kredit e-learning di kampus tetap saja harus keluar dikampus lain, industri atau negara lain untuk belajar.

“Hal tersebut bergayung sambut dengan program pemerintah yakni Indonesian International Student Mobility Activity (IISMA) dengan mengambil kredit dikampus seluruh dunia, ada sekitar 75 kampus dapat dikunjungi yang sudah bekerjasama dengan pemerintah melalui Dikbud Ristek,” kata Asep.

Keuntungan belajar diluar negeri, tambah Asep, membuat mahasiswa memiliki survival tinggi, kreativitas dan kompetitivenya juga tinggi.

Melengkapi materi MBKM dari Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Logistig (STIMLOG), Rachmawati Wangsaputra, Ph.D. mengatakan bahwa dalam survenya mahasiswa STIMLOG 40% ingin menjadi entrepreneur, sehingga kampus memaksimalkan.

STIMLOG dibawa naungan Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia (YPBPI) dalam strategi membangun ekosistem entrepreneur sesuai dengan rencana Strategi (renstra) Kemenristekdikti sebagai agent of economic development.

STIMLOG merupakan perguruan tinggi yang memiliki jenjang S-1 yang fokus pada logistik dan rantai pasok dari mulai row atau material, barang jadi hingga sampai ke konsumer.

Sehingga mahasiswa dapat belajar rantai nilai mulai hilir (bahan baku dan produksi) sampai hulu (customer) hingga ekspor dengan fasilitas dan tools yang sudah disiakan oleh STIMLOG.

Pada tahun 2018, STIMLOG sudah ditetapkan dan dicanangkan sebagai Entrepreneur Campus dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju pasar global baik dunia industri dengan bekerja dan mencetak lapangan kerja.

“STIMLOG akan memaksimalkan kemampuan mahasiswa sehingga saat lulus mereka dapat mandiri, ukuran sederhananya bila S-1 adalah mandiri,” kata Rachmawati.

Mahasiswa akan bekerja baik di industri atau membuka lapangan kerja untuk mandiri lepas dari tanggungan orang tua sebagai ukuran minimal, tambah Rachmawati.

Khusus untuk kewirausahaan di STIMLOG, arahannya pada entrepreneurship dan inovasi pada tahap awal atau tingkat 1 dan 2 mahasiswa yang keilmuannya belum matang dibebaskan menjadi wirausaha apapun yakni lebih mendobrak ke jiwa kewirausahaannya.

“Dengan meningkatnya keilmuan, muncullah ide-ide inovasi karena tuntutan jaman mahasiswa harus kreatif dengan kebaruan, ada yang komersial dengan jualan makanan ringan, jual fashion dan lain-lain,” ujar Rachmawati.

Kampus STIMLOG telah membentuk ekosistem dilingkungannya, baik dikampus, prodi, masyarakat, pemerintah sehingga menumbuhkan kewirausahaan pada mahasiswa.

Memaksimalkan kewirausahaan dilakukan STIMLOG diantaranya kerjasama dengan Markplus dalam bentuk sertifikasi marketing baik untuk dosen dan mahasiswa sebagai pendamping ijazah sudah berjalan sekitar 5 tahun, lanjut Rachmawati.

“STIMLOG sangat mendukung dengan MBKM namun harus tetap di organise agar tujuan dapat tercapai,” kata Rachmawati.***

 

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan