Bandung Side, Sariasih – Kompetisi hackathon yang diinisiasi Republic Polytechnic of Singapore (RP) kolaborasi Politeknik Pos (Poltekpos) dan STIMLOG dalam mencari solusi role mode logistik di masa pandemi Covid-19.
Kegiatan hackathon yang biasa dilakukan oleh seorang programer untuk memrogram menciptakan solusi terhadap suatu masalah.
Namun tak jarang juga dilakukan oleh graphic designer, project manager, business analyst, dan masih banyak lagi peran yang terlibat saat memanfaatkan teknologi digital dalam mencari solusi, khususnya solusi logistik di masa pandemi Covid-19 saat ini.
Kali ini mahasiswa RP, Poltekpos dan STIMLOG mencoba memberi solusi industri logistik di masa pandemi guna mengurangi tingkat penyebaran virus Covid-19 dengan cara memanfaatkan digitalisasi sebagai alatnya.

Dr.Cahyat Rohyana, Ketua Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia (YPBPI) mengatakan memasuki masa pandemi Covid-19 meyakini dibalik kejadian ada hikmahnya, terutama pada Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi isu kekinian dari pemerintah melalui Kemendikbud Ristek.
“STIMLOG dan Poltek Pos yang dinaungi oleh YPBPI akan selalu berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan menjadikan mahasiswa dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang unggul di bidang transportasi dan logistik guna menghadapi tantangan Global,” kata Cahyat.
Hal tersebut dapat diketahui bahwa STIMLOG dan Poltekpos dalam mempersiapkan sumber dayamanusia (SDM) relatif sangat siap dan matang, dari mulai pola mengajar dengan manajemen learning system sudah mumpuni.
“Selain itu, jaringan yang kita miliki keluasannya di seluruh Indonesia memiliki 200 kantor unit, 4.000an kantor cabang menjadi sarana Merdeka Belajar bagi mahasiswa STIMLOG dan Poltekpos,” jelas Cahyat.
Keikut sertaan Hackathon dari mulai Tanggal 10-19 Maret 2021 yang di inisiasi oleh Republik Politeknik Singapore (RP Singapore – Temasek), ada 3 institusi dari Yayasan Pendidikan Bakti Pos Indonesia (YPBPI) yakni STIMLOG, Poltekpos dan RP di mix dalam satu team, tambah Cahyat.
“Mahasiswa bisa bertukar pikiran bahkan bertukar budaya dalam diskusi walaupun secara virtual sudah memberikan manfaat yang baik,” ungkap Cahyat.
“Manfaat dari kesertaan pada Hackathon, pertama kita bisa mengukur anak-anak kita kemampuannya seperti apa dibandingkan dengan mitra kita RP, kedua mereka akan lebih mendalami penguasaan bahasa karena dengan bahasa yang tren nya menguasai minimal 3 bahasa,” jelas Cahyat.

Ketua STIMLOG, Rachmawati Wangsaputra, PhD. mengatakan tantangan kedepan dalam industri 4.0 salah satunya adalah menguasai tantangan rantai pasok di Indonesia dan e-Commerce.
“Menguasai jaringan organisasi yang terlibat, melalui keterkaitan hulu dan hilir dari berbagai proses dan aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk produk dan layanan sampai ke tangan konsumen akhir dengan melibatkan alat digitalisasi atau yang akrab disebut e-Commerce sebagai tantangan global,” kata Rachmawati.
Hackathon competition yang digelar, lebih memaksimalkan manajemen logistik dalam proses mengelola, pemenuhan, pengadaan produk/ jasa meliputi diantaranya aliran uang, aliran informasi sebagai tujuannya.
“Manajemen logistik sangat berdekatan dengan barang masuk, produk yang tepat, distribusi yang benar, jumlah, kualitas, kualitas, tempat, waktu dan pelanggan yang tepat guna menghitung harga yang pantas,” jelas Rachmawati.
“Seperti yang di samapikan oleh Ketua Yayasan, bahwa dengan kegiatan Hackathon bersama RP akan lebih nyata, memacu mahasiswa untuk lebih siap menghadapi tantangan global,” kata Rachmawati.
Perbedaan bahasa, budaya dan cara berkomunikasi dengan pihak luar, dalam hal ini studi kasusnya bersama pihak Singapore akan tampak wacana bisnis yang dikehendaki oleh klien, tambah Rachmawati.
“Sehingga mahasiswa bukan hanya dituntut kreatif, namun inovasi dalam menghadapi tantangan global menjadi terobosan ilmiah sebagai bekal lulusan nanti,” ujar Rachmawati.

Dimas, Ketua BAAK STIMLOG sebagai koordinator mahasiswa Poltekpos dan STIMLOG memberi arahan bahwa kompetisi hackathon dalam rangka memberi ide menciptakan cara baru dengan pendekatan teknologi baru membantu sektor e-commerce di Indonesia saat pandemi.
“Kegiatan hackathon bersama RP secara virtual selama 1 (satu) minggu melakukan project mencari solusi dan ide e-commerce dengan bimbingan dari berberapa pihak yakni RP, STIMLOG, Binus dan beberapa praktisi logistik melakukan diskusi dalam MS Team baik dengan video converence maupun chat yang mewadahi,” kata Dimas.
Mahasiswa dibagi menjadi 5 team yang masing-masing terdapat bauran dari RP, Poltekpos dan STIMLOG agar mereka dapat berinteraksi secara lisan karena berbeda bahasa, secara kultur karena beda budaya serta secara bauran disiplin ilmu, tambah Dimas.
Dalam presentasi ide menciptakan e-Commerce di saat pandemi, mahasiswa dapat melakukan presentasi dengan baik melalui virtual membawa atmosfir seakan mengunjungi negara Singapore, sekaligus memperkenalkan budaya, pariwisata bahkan mahasiswa mengetahu bahasa tren masing-masing negara.
“Misalnya, menjadi tantangan bagi mahasiswa STIMLOG saat mengajar bahasa indonesia, diilustrasikan saat orang Singapore datang ke Bali untuk berlibur, kira-kira biasanya berbicara apa saat berlibur tersebut,” kata Dimas.
Dibutuhkan kosa kata apa saat turis ke pasar tradisional saat berinteraksi dengan penjual souvenir, mempresentasikan makanan khas dan destinasi history Kota Bandung dan lain-lain.
“Salah satu ide dan teknologi dalam mengaplikasikan e-Commerce di masa pandemi Covid-19 yakni menghantar barang hingga sampai ke tangan konsumen dari lokasi A ke lokasi B antar pulau menghindari kontak manusia, namun dengan menggunakan drone,” pungkas Dimas.***