Industri Properti Butuh Dukungan Perbankan Nasional

crown group indonesia

Bandung SideJakarta – Crown Group Indonesia menjelaskan bahwa industri properti Indonesia bisa tumbuh dengan dukungan Perbankan Nasional seperti yang ada di Australia.

Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief, akhir minggu lalu menjelaskan perbedaan sistem perbankan antara Australia dan Indonesia untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul perihal kepemilikan unit kedua bagi pembeli asing.

“Memang sistem perbankan di Australia memungkinkan para nasabahnya untuk melakukan refinancing atas KPA unit pertamanya meskipun cicilan belum selesai,” kata Reiza Arief.

Biasanya ini dilakukan konsumen Ketika KPA mereka sudah berjalan 5 tahun dengan asumsi sudah terjadi kenaikan nilai unit pertama hingga 50%, lanjut Reiza.

Dan perbankan di Australia, tambah Reiza, bisa memberikan pinjaman KPA kedua kepada konsumen hingga 80% dari harga unit yang ditawarkan.

industri properti
Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief

Menurut Sally Tindal, direktur riset di RateCity.com, bank-bank besar bersaing untuk mendapatkan komitmen dari pembeli yang ingin memasuki pasar industri properti yang sedang panas-panasnya.

“Sementara kita mendekati akhir dari siklus suku bunga, selama suku bunga tetap di atas nol, kemungkinan akan ada lebih banyak pemotongan dalam minggu-minggu mendatang karena bank bersaing untuk tingkat rekor pinjaman baru yang akan segera masuk,” kata Sally Tindal.

Empat Bank besar dan terbesar kedua di Australia telah memangkas 0,20% suku bunga pinjaman kepemilikan rumah dengan suku bunga tetap untuk dua dan tiga tahun bagi para pemilik rumah baru dan suku bunga tetap untuk investor untuk periode dua tahun.

Bank pertama dan tertua di Australia, Westpac telah mengeluarkan suku bunga terbaru dengan suku bunga tetap selama dua tahun untuk pinjaman rumah bagi owners occupiers sebesar 1,79% dan 1,88% untuk suku bunga tetap selama tiga tahun.

Kembali menurut Reiza, industri properti rata-rata tingkat kekosongan unit di Australia adalah 1,9%, artinya sangat sedikit unit apartemen yang tidak disewa/ditempati.

“Meski terjadi lonjakan untuk Sydney dan Melbourne akibat pandemi Covid-19 dan diperkirakan akan kembali ke tingkat normal, ketika perbatasan internasional telah dibuka kembali” tambah Reiza

Reiza Arief yang merupakan alumnus dari Monash University di Melbourne dan sudah berkecimpung di dunia properti Australia.

“Selama lebih dari 1 dekade ini juga menjelaskan bahwa perbankan di Australia bisa memberikan pinjaman kedua mengingat nasabah akan membayar cicilan KPA dari pendapatan sewanya,” ujar Reiza.

Kondisi ini memang agak berbeda dengan Indonesia rata-rata tingkat kekosongan unit apartemen mencapai 40% – 50%, sementara bunga KPA terutama untuk refinancing lebih tinggi di kisaran 5% (Fixed rate) hingga 10% (Float rate).

Di kondisi pasar saat ini, lanjut Reiza, akan sangat membantu apabila perbankan Indonesia mengikuti langkah perbankan Australia yang menurunkan suku bunga hingga dua kali pada tahun 2020 kemarin untuk memberikan stimulus pada pasar properti”.

“Pertanyaannya adalah mengapa tingkat kekosongan unit apartemen di Australia bisa begitu rendah?,” cetus Reiza.

“Karena pemerintah Australia betul-betul menjaga titik ekulibrium antara pasokan dengan permintaan,” ungkap Reiza.

Pemerintah Australia menjaga ketat pasokan dan kebutuhan akan properti melalui beberapa mekanisme regulasi seperti izin membangun yang ketat, pembatasan zona pembangunan dan regulasi perbankan.

Pihak pengembang pun juga harus memiliki pondasi keuangan internal yang sehat karena pihak perbankan hanya akan memberikan pinjaman untuk pembangunan proyek hunian sebesar 50% dari nilai proyek.

Industri Properti
Southbank, Melbourne, Victoria

Dana tersebut hanya akan diberikan kepada pihak pengembang apabila proyek hunian sudah terjual secara off the plan sebanyak 50% dari total unit apartemen yang publish kepada publik.

Belum lagi evaluasi nilai apartemen ditentukan oleh perbankan di Australia, sehingga jarang ada apartemen yang dijual secara over priced.

Sehingga kami selaku pengembang tidak bisa seenaknya memberikan harga untuk konsumen.

Semua ini karena hampir 90% warga Australia membeli unit apartemen dengan menggunakan kredit perbankan.

“Inilah salah satu sebab mengapa banyak pembeli asing menjadikan Australia sebagai tujuan utama untuk investasi properti,” jelas Reiza.

Mereka para investor selalu menyebutnya sebagai cara “berternak” properti di Australia.

Sistem perbankan Australia memungkinkan nasabah mendapatkan pinjaman secara refinancing hingga 80 % dari harga unit.

Belum lagi status kepemilikan sifatnya free hold atau SHM atas unit apartemen yang diberikan oleh pemerintah Australia kepada setiap pemilik unit apartemen meskipun mereka adalah orang asing.

Cara pembayaran yang sangat ringan jika dibandingkan di Indonesia yakni para calon pembeli hanya wajib membayar 10% dari nilai properti..

Itupun tidak transfer atau bayar kepada kami, melainkan ke pihak ketiga atau Trust Account.

Karena kami tidak boleh dengan keras untuk menerima uang konsumen apabila proyek hunian belum selesai bangun. Sementara sisanya bayar ketika hunian sudah selesai.

Pembeli baru mulai membayar cicilan KPA setelah unit serah terima, sedikit berbeda dengan kondisi di Indonesia yakni cicilan sudah mulai bahkan sebelum properti selesai bangun.

“Tentu saja skema pembayaran ini akan berbeda jika unit apartemen sudah tersedia atau sudah selesai bangun,” tutup Reiza.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan