Bandung Side, Sariasih – Prodi Teknik Bisnis Digital disiapkan STIMLOG, yang merupakan perguruan tinggi pertama di Indonesia fokus keilmuan transportasi dan logistik berbasis industri.
Perkembangan dunia bisnis mengalami percepatan yang luar biasa untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial yang beradab.
Bahkan dimasa pandemi Covid-19, sektor usaha terdampak hebat hingga mengalami minus pendapatan yang disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen.
Akibat perubahan perilaku konsumen, sektor logistik masih berperan dengan beradaptasi merubah strateginya dalam menjalankan usahanya.
Pelaku bisnis logistik di lini Business to Customer (B2C) dan Customer to Customer (C2C) mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Sementara, pemain logistik Business to Business (B2B) justru kebalikan, mengalami keterpurukan.

Pola B2C dan C2C mengarah ke sektor e-commerce mengalami peningkatan pengiriman logistik bergeser ke ranah online memenuhi kebutuhan mereka.
Bila ditilik dari produk yang dikirim, semula jenis fashion dan elektronik menjadi primadona, kini permintaan pengiriman kebutuhan pokok justru meningkat.
Namun kondisi ini berbalik, pelaku logistik harus mampu mengirimkan barang fresh dengan cepat dan murah lantaran daya beli terus menurun.
Sehingga, fenomena tersebut menghapus asumsi lama yang mengatakan kalau cepat harus mahal, dengan meramu cara baru yang lebih simple, fleksibel dan murah untuk bertahan di tengah kondisi pandemi.
Para pemain harus mampu menjawab anxiety (kecemasan) and desire (keinginan) konsumen yang menginginkan harga murah dan pengiriman cepat, meski cost perusahaan terus bertambah.
Hal tersebut merupakan ilustrasi yang disampaikan oleh Ketua STIMLOG, Rachmawati Wangsaputra, Ph.D. yang melatar belakangi mengembangkan kurikulum untuk prodi Teknik Bisnis Digital.

“Dari informasi lembaga yang kredibel, kurikulum STIMLOG dikembangkan untuk menjawab tantangan industri 4.0 dan era digital,” kata Rachmawati.
“Sehingga dapat disimpulkan dari perkembangan percepatan dunia industri, bahwa logistik menjadi “bisnis masa depan”,” ungkap Rachmawati.
Mengembangkan kurikulum dengan pendekatan metode Developing a Curriculum (Dacum) untuk prodi Teknik Bisnis Digital dibutuhkan masukan dari tenaga ahli atau expert worker guna mempertajam sehingga mampu meningkatkan mutu pembelajaran yang berkelanjutan, adaptif terhadap tuntutan jaman, memotivasi semangat belajar, serta mewujudkan capaian pembelajaran sesuai arahan Standar Nasional Perguruan Tinggi.
Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STIMLOG, DR. Melia Eka Lestiani, M.T. mengatakan bahwa STIMLOG selalu melakukan evaluasi kurikulum untuk dapat terus menyempurnakan profil lulusan agar kompetensi selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Parameter keberhasilan lulusan terletak pada kemampuan di bidang kerja, pengetahuan yang dikuasai, dan kemampuan manajerial , tambah Melia Eka Lestiani.
“Pendekatan metode DACUM yang akan difasilitasi oleh lembaga S4C (Swiss For Competitiveness) dan ISLI (Indonesian Supply Chain and Logistics Institute), ini akan mampu mengidentifikasi kebutuhan pengguna terhadap lulusan prodi baru kami yang berbasis pada Bisnis Digital,” kata Wakil Ketua I STIMLOG.
Melia berharap industri dapat membantu proses pembelajaran di STIMLOG, terutama dalam memberikan pengetahuan terhadap tantangan pekerjaan pada saat ini bahkan masa mendatang.
” STIMLOG mendatangkan dosen tamu yang berasal dari kalangan praktisi industri. Tujuannya adalah dapat memberikan tambahan wawasan pengetahuan tentang dunia industri pada mahasiswa kami,” kata Melia Eka Lestiani.

Senada dengan Wakil Ketua I STIMLOG, DR. Melia Eka Lestiani, M.T., salah satu panelis workshop Dacum perwakilan dari PT Pos Indonesia, Riharsono Prastyantoro mengatakan mendukung perlunya STIMLOG memiliki dosen dari praktisi logistik.
“Dalam rangka link-and-match antara lulusan Perguruan TInggi untuk kebutuhan industri, saya sangat mendukung perlunya dosen STIMLOG memiliki dosen dari praktisi logistik dengan pertimbangan tertentu,” kata Riharsono Prastyantoro yang akrab disapa Soni.
“Pertimbangan signifikan diantaranya perkembangan industri logistik cepat di-update mahasiswa sehingga dapat berdaya saing global,” ungkap Soni.
Kedua, lanjut Soni, mahasiswa dan dunia kampus STIMLOG mendapatkan gambaran praktek-praktek yang terjadi di industri logistik dan ketiga; biasanya praktisi juga bisa memberikan contoh-contoh praktek terbaik (best practices) yang terjadi di industri logistik,” papar Soni.
“Untuk mampu bersaing di ranah nasional maupun global, industri suatu negara harus didukung oleh tenaga kerja yang produktif. Produktivitas tenaga kerja ditentukan oleh kompetensi tenaga kerja yang dapat membantu memajukan daya saing perekonomian suatu bangsa. Revitalisasi STIMLOG akan terus berlanjut, termasuk menyediakan SDM, sarana dan prasarananya yang mendukung,” ujar Soni.

Sebagai bahan dukung pembelajaran, kebutuhan literasi mahasiswa dan dosen dapat akses ke jurnal-juranl baik nasional maupun internasional.
Di samping itu juga perlu akses ke e-book yang relevan. Menurut Soni, institusi pendidikan STIMLOG disarankan bekerjasama dengan jurnal nasional dan internasional serta beberapa penerbit baik nasional dan internasional untuk dapat akses dalam penyediaan e-book gratis bagi dosen dan mahasiswa.
Akses ke jurnal internasional dan beberapa penerbit internasional kembali dalam rangka untuk mendapatkan e-book secara gratis.
“Sangat bagus bagi para mahasiswa dan dosen apabila STIMLOG dapat bekerjasama dengan GRAMEDIA, salah satu penerbit buku nasional, menurut Soni.
“Gramedia tentu sangat lengkap terbitan bukunya baik umum maupun tentang logistik , sehingga mahasiswa dan dosen menjadi “mumpuni,” pungkas Soni.***