Tokoh Kuliner Legend Ada di Kota Bandung

Julie Sutardjana

Bandung Side, jl. Naripan – Tokoh kuliner Legend hingga diusia 98 tahun ada di Kota Bandung, masih produktif menulis resep di media nasional satu minggu sekali dan memasak.

Julie Sutardjana mengawali hobi memasak diusia 10 tahun dan mempelajari berbagai masakan yang umum ada di Lasem, Jawa Tengah menyesuaikan dengan cita rasa favoritnya cenderung manis.

Lahir di Lasem, Jawa Tengah pada 25 Mei 1922 akrab sebagai keluarga pengusaha batik, Julie Sutardjana anak ke dua dari tujuh bersaudara malah lebih tertarik dunia kuliner.

Julie Sutardjana lahir dari keluarga yang menganut paham Khonghucu, tentunya memiliki budaya yang berhubungan dengan masak-memasak saat memperingati Hari Besar Agama Khonghucu.

Setiap tahun, penganut Khonghucu melakukan sembahyang untuk mendoakan arwah-arwah baik keluarga maupun kerabat yang sudah meninggal agar tenang bersama Tuhan.

Tokoh Kuliner
Julie Nyonya Rumah Sutardjana diantara tanda penghargaan yang didapat selama berkarya menulis resep masakan hingga berusia 98 tahun.

Bagi penganut Khonghucu bila berkecukupan terkesan menjadi ajang pamer memasak masakan berbagai macam yang dilengkapi dengan kue yang nantinya akan diberikan dan diantar kepada keluarga, handai taulan atau teman-teman.

Dari seringnya Mama memasak saat melaksanakan sembahyangan, Julie kecil mulai tertarik dengan dunia memasak. “Mama selalu mengundang tukang masak sampai ada 6 orang yang membantu memasak,” kata Julie Sutardjana saat disambangi Bandung Side di Kedai Nyonya Rumah, jl Naripan, Bandung, Sabtu (19/12/2020).

“Biasanya tukang masak Mama mengenjakannya sampai larut malam, dan saya selalu bangun ditengan malam itu untuk melihat cara masak. Saat itu saya berusia 10 tahun,” ujar Julie.

Saat menikah dengan seorang guru, kehidupan tidak menjadi lebih baik, karena saat itu terjadi peristiwa Sanering yaitu pemotongan uang seribu menjadi satu rupiah,” kisah Julie.

Pada tahun 1950, Julie bersama suami mencoba peruntungan hidup dengan berpindah di Bandung bermukin didaerah jl. Wastukencana. Melakoni diri sebagai guru yang berpenghasilan kecil rasanya belum cukup dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.

Julie mencoba dengan membuat kue untuk dijual sebagai penghasilan tambahan. Modal nekat membuat kue nastar, yang saat itu digemari masyarakat Bandung dan yang bersedia sebagai mitra itu Toko Victoria di daerah Pasar Baru, Bandung.

“Perjuangan tidak berhenti sampai disitu, setelah diterima di Toko Victoria ternyata toko-toko lain yang sebelumnya menolak akhir nya mau juga menerima kue nanas saya. Sehingga waktu itu saya bisa menabung karena sudah mulai banyak yang pesan,” ujar Julie.

Ditahun 1961 Julie dengan nama samaran “Nyonya Rumah” sudah mulai menulis artikel dirubrik dapur milik majalah Star Weekly yang dipimpim oleh Bapak PK Ojong.

“PK Ojong adalah teman sekolah satu kelas saat sekolah di Jakarta, mengetahui bahwa saya hobi menulis resep, maka saya disuruh mengasuh rubrik ” Rahasia Dapur” di majalah mingguan Star Weekly itu dengan gaji Rp 75 dikirim lewat wesel,” kata Julie.

Nyonya Rumah
Piala penghargaan juara tersimpan rapi di etalase Kedai Nyonya Rumah, jl. Naripan, Bandung

Gaji Rp 75,- saat itu besar sekali buat saya, karena saya saat memberi les privat kepada murid yang malas belajar disekolah diberi gaji Rp 15,- per-bulan, lanjut Julie.

Gaji sebesar itu membuat Julie semakin aktif menulis artikel dimedia dan ternyata disukai oleh pembaca, sehingga pada tahun 1967 tulisan resep yang ada di “Rahasia Dapur” majalah Star Weekly dibukukan dan diterbitkan dengan judul Pandai Memasak 1 dan Pandai Memasak 2 oleh penerbit PT Kinta Djakarta.

Hingga ada empat buah buku Pandai Memasak diterbitkan oleh PT Kinta Djakarta dan menjadi acuan hampir semua ibu rumah tangga dalam memasak.

“Buku yang diterbitkan oleh penerbit PT Kinta Djakarta ini ukuran tidak terlalu besar. Sampulnya bergambar Nyonya Muda sedang memasak menjadi ikon saat itu,” kisah Julie, tokoh kuliner legend .

Tiap jilid buku Pandai Memasak punya beragam koleksi resep. Karena Julie lahir di Jawa Tengah, maka banyak resep tradisional Jawa yang ditampilkan, seperti resep Brongkos, rawon, soto, sate srepeh hingga mangut iwak pe.

Sementara di buku Pandai Memasak jilid yang lain ada masakan Tiongkok populer seperti capcay, udang goreng mentega, kakap asam manis hingga lumpia.

Ada juga resep makanan Belanda seperti hutspot, beefsteik, pastel tutup dan perkedel juga ada. Aneka es, puding, kue-kue kering, dari jaanhagel sampai kuping gajah juga melengkapi buku resep Pandai Memasak.

“Ditahun ke-10 majalah mingguan Star Weekly berhenti beroperasi dan saya kembali menulis di media terbitan Mingguan Jaya dari tahun 1961 hingga tahun 1971,” kata Julie atau Nyonya Rumah.

Nyonya Rumah
Saat wawancara ditemani putri ke-2 dan putra bungsunya, Julie Sutardjana berkisah perjalanan menulisnya, Sabtu (19/12/2020).

Selain Buku Pandai Memasak yang diterbitkan pleh PT Kinta Djakarta, juga diterbitkan 2 buku lagi yaitu Belajar Memasak dengan Nyonya Rumah dan Bubur Modern oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

“Dari 4 buku resep tersebut menjadi buku babon atau buku induk untuk mengembangkan masakan yang ditulis dibuku-buku lainnya,” ungkap Julie “Nyonya Rumah” Sutardjana.

Kini sudah ada 50 judul buku seri baru dengan tampilan baru yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama dari tulisan resep pada rubrik asuhannya “Dapur Kita” diharian Kompas dari tahun 1971 hingga sekarang.

Tidak sekadar menulis resep, semua resep yang ditulis Julie sudah diprakekkan untuk memasaknya hingga sampai hasilnya memuaskan. “Jadi, saya hapal betul dengan tulisan saya, karena beda bagi yang hanya meng-copy paste tulisan saya. Dan itu membuat saya prihatin,” ucap Julie.

“Pada bukunya memakai seri Belajar Memasak, Pandai Memasak 1 dan Pandai Memasak 2 sudah mengalami cetakan ulang beberapa kali saya lupa. Tapi saat usia saya 90 tahun, ada buku berjudul 250 Resep Hidangan Pilihan “Nyonya Rumah” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dilengkapi dengan biodata Julie Sutardjana,” ujar Sang Nyonya Rumah.

Nyonya Rumah
Julie Sutardjana, tokoh kuliner legend mengabadikan Nyonya Rumah dikarya tulisnya. Masih produktif menulis hingga di usia 98 tahun.

“Buku tersebut juga sudah mengalami revisi istilah, kalau dulu takarannya berupa cangkir, kini sudah ditulis dalam ukuran gram dan milliliter. Kadang juga ada istilah “Jawa” yang mengalami penyesuaian saat memulai mempraktekkan memasak,” jelas Julie sambil tersenyum.

Tidak menjadi heran bila Julie Sutardjana atau Nyonya Rumah ini dengan ketekunannya menulis resep masakan maupun hidangan makanan ringan mendapatkan beberapa penghargaan.

Diantaranya pada tahun 2005, Penghargaan dari PT Gramedia Pustaka Utama untuk 30 tahun terbitnya Buku Belajar Memasak dengan Nyonya Rumah. Selain itu, Penghargaan dari MURI sebagai Penulis dan Pencipta Resep Masakan dan Kue Tertua hingga dua kali.

Pengalaman lain, pada tahun 1957 mengikuti, “Biggest International Recipe Swap” yang diprakarsai American Food Editors, diikuti 65 cookery correspondents dari 30 negara, mengirim resep Gado-Gado beserta foto dan dimuat di Dallas Time Herald, Texas.

Tidak terhitung dan sedikit lupa, Julie sering mengkuti lomba memasak baik di jakarta maupun di Bandung dan selalu menghasilkan juara.

Nyonya Rumah
Julie Sutardjana foto bersama putri ke-2 dan putra bungsu ke-4 nya.

Penghempas Pikun Dengan Membaca dan Melakoni Cara Hidup Sehat.
Julie Nyonya Rumah Sutardjana memiliki resep khusus agar tetap produktif menulis hingga diusia yang ke-98 ini.

“Membaca adalah kegiatan saya sehari-hari hingga kini. Saya membaca koran yang ada di Bandung maupun terbitan dari Jakarta. Hal yang menarik pasti saya baca,” kata Julie.

Jadi saya tahu tentang korupsi, padahal yang korupsi itu orang-orang kaya dan punya kedudukan tinggi. Untuk apa uang nya itu ya ? Kan sudah kaya ? Kenapa uangnya tidak dikasikan ke orang miskin ya ? Kan masih banyak orang miskin ?,” terang Julie keheranan dengan pejabat yang korupsi.

Apapun aktifitasnya, seperti saat makan, saat berjemur sinar matahari, saat jalan-jalan olah raga selalu ditemani bahan bacaan. Bahkan saking tidak mau diamnya, Julie hingga sekarang masih datang ke Kedai Nyonya Rumah jl. Naripan untuk melihat langsung apakah layanan di rumah makannya sudah baik, rasa masakannya apa masih konsisten dengan bumbu dan resep yang berikannya.

“Saya terus membaca, supaya kalau ada orang bicara saya ikut mengerti dan nyambung dalam pembicaraan. Dan saya terus menulis dengan tangan, bahkan menghitung takaran timbangan resep tanpa bantuan mesin hitung. Agar otak saya terus bekerja,” pungkas Julie Sang Tokoh Kuliner Legend.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan