ASITA Gelar Rakernas I 2020 Geliat Bangkitkan Pariwisata Indonesia

Bandung Side, Soreang – ASITA, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia gelar perhelatan Rapat Kerja Nasional I (Rakerja I) pada tanggal 1 – 2 Desember 2020 di Grand Sun Shine Resort & Convention jl Raya Soreang Cincin No 6, Km 17, Pamekaran, Kabupaten Bandung, Selasa (1/12/2020).

Rakerja ASITA I 2020 yang mengusung tema, ASITA untuk Pariwisata Indonesia disampaikan oleh Nuning Widya Sutrisno sebagai Ketua Panitia, mengatakan, Rakernas ini dalam rangka menjalankan amanat konstitusi Asita yang telah diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang dilaksakan oleh DPP, DPD dan DPC di 23 propinsi,

“Kami optimis dalam forum rakernas ini akan menghasilkan suatu program kerja untuk menyumbangkan hal-hal yang dirasakan dibutuhkan industri pariwisata nasional serta berusaha menyiasati bagaimana meningkatkan kepercayaan dunia internasioanal untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan wisata,” kata Nuning.

Ketua Umum ASITA, DR. Nunung Rusmiati, M.Si

Ketua Umum ASITA, DR. Nunung Rusmiati, M.Si mengatakan dalam sambutannya bahwa
Anggota ASITA terdiri dari 7.000 travel agent diantaranya Inbound, Outbond, Tiketing, Umroh, Haji, Holy-land, Mice, merupakan aset yang sangat besar dan kita harus bangga dan berkerja keras hingga sampai pada Rakernas ASITA I 2020 ini.

“ASITA bersama Kemenparekraf mencoba penjajakan Travel bubble sebagai pilot project ke Malaysia, karena Indonesia memiliki market yang sangat luas dan untuk membuktikan bahwa pandemi covid-19 menjadikan kita bisa memilah pasar,” kata Rusmiati.

Kita menjajaki kerjasama dengan pihak Ubezkistan, karena pada tanggal 9 Desember nanti ASITA diundang oleh Presiden Ubezkistan dalam rangka menjajaki kerjasama, lanjut Rusmiati.

Ucapan terima kasih juga kepada Presiden Djoko Widodo yang selalu konsen pada dunia pariwisata dengan menetapkan adanya 10 destinasi Bali Baru, dan 5 destinasi Super Prioritas, namun sebagai Ketua Umum ASITA harus mempromosikan 34 provinsi yang memiliki destinasi unggul dan menarik untuk dikunjungi.

“Semoga dalam Rakernas I ASITA 2020 dapat menghasilkan keputusan baru untuk program kerja tahun depan agar bisa bermanfaat bagi anggota. Terutama dengan adanya investor yang nantinya bisa kerjasama dalam pengadaan carter pesawat dalam menjangkau destinasi di Indonesia,” kata Rusmiati.

Amanat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio dalam pembukaan Rakernas I 2020 ASITA melalui daring menyampaikan bahwa sektor pariwisata dengan adanya covid-19 merupakan sektor yang paling terdampak dan mungkin paling dirasakan bagi pelaku pariwisata.

Tekanan pada industri pariwisata sangat terlihat pada penurunan drastis pada jumlah kedatangan wisatawan mancanegara dan bukan pada wisata manca negara saja wisatawan lokal pun mengalami penurunan drastis.

Saat ini wisatawan domestik memang sudah meningkat meskipun belum seperti sebelumnya. Walaupun saya sudah melihat beberapa tempat, dibeberapa daerah seperti Bali dan Labuan Bajo bookingan bulan desember sudah mulai meningkat artinya nadi pariwisata sudah mulai datang kembali.

Kata sambutan disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio secara daring pada Rakernas ASITA I 2020 pada Selasa (1/12/2020).

Organisasi Pariwisata dunia WTO mencatat bahwa potensi kehilangan devisa cukup besar 460.000.000 dollar atau 5x lebih besar dari krisis global tahun 2009 diseluruh dunia.

Dari sisi pariwisata dunia, saat pandemi 95 % total anggota Asita mengalami pukulan keras saat pandemi, sedangkan terdapat 90 % anggota tidak menjalankan usahanya selama 8 bulan. Hal ini memang suatu hal yang sangat berat buat kita semua.

Dampak dari pandemi inilah hal utama yang perlu kita mitigasi dalam rangka penyelamatan perekonomian nasional.

Dalam rangka mitigasi dampak pandemi covid-19, kemenparekran sudah menjalankan 3 program utama sesuai arahan presiden yaitu program perlindungan sosial, prealokasi anggaran yang diarahkan untuk mendukung berbagai macam program khususnya program padat karya dan berbagai macam program untuk mendukung sektor pariwisarta maupun ekonomi kreatif dan menyiapan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

UMKM Kabupaten Bandung juga ditampilkan pada stand pameran di Rakernas ASITA I 2020, Selasa (1/12/2020).

Beradaptasi, penyesuaikan diri dan bertransformasi merupakan kunci utama untuk menghadapi tantangan kedepan. Karena itu dibutuhkan kolaborasi dari seluruh unsur pentahelix yang terdiri dari pemerintah, masyarakat, media, akademisi dan pelaku usaha disektor pariwisata.

Setiap unsur pentahelix ini berperan penting dalam menciptakan ekosistem yang positif dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Misalnya melalui petukaran informasi, pemberdayaan dan pengembangan sdm, kolaborasi dan berbagai macam kerjasama yang perlu dilakukan.

“Saya ingin kita semua memanfaatkan tekanan pandemi ini justru menjadi momentum buat pariwisata kita untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya,” kata Wishnutama.

Oleh Karena itu kemenparekraf merubah strateginya dari quantitative tourism menuju quality tourism. Quality tourism bukan kita kembali membangun pencakar langit dan lain sebagainya tapi bagaimana kita bisa menciptakan pengalaman yang unik dan sangat berkesan dan juga berbagai macam infrantrukstur, aktifitas, menunjang kearah sana.

Multi Efek dari quality tourism itu sangat memberikan dampak yang luar biasa khususnya makin terbukanya lapangan pekerjaan. Artinya dalam hal ini sdm parekraf akan lebih banyak akan tetapi memiliki kemapuan dan kualitas termasuk kreatifitas dan hospitality.

Produk unggulan UMKM Kabupaten Bandung turut membangkitkan Pariwisata Indonesia dimasa Pandemi Covid-19

Keunggulan dan kekuatan bangsa kita adalah kedua hal itu, creativity dan hospitality. Dua hal ini adalah pemberi Allah SWT kepada bangsa kita yang harus terus kita dorong sedemikian rupa sehingga mampu memberikan dampak untuk kemajuan bangsa kita.

“ASITA dan teman-teman agen travel memiliki peran penting dalam mengembangkan dan mempromosiakan quality turism ini karena telah berpengalaman dan menjadi garda terdepan untuk sektor pariwisata kedepan,” kata Wishnutama.

Akhir kata saya harap ASITA dapat bangkit kembali dan memanfaatkan kesempatan yang muncul dari bisnis ini terutama setelah adanya protokol CHSE adalah suatu hal yang penting untuk kebangkitan sektor pariwisata.

Kenapa menjadi hal yang penting, pertama kita akan menciptakan standart kesehatan yang salah satunya diberbagai tempat terutama pariwisata seperti hotel, restauran dan lain-lain. Kedua seperti stimulus dan lain nya akan mendukung kearah sana, termasuk kita akan mempromosikan keluar negeri.

“Semoga acara Rakernas ASITA memberi pandangan baru dan rencana baru dan pemikiran baru untuk pemulihan sektor pariwisata kita kedepan, ” pungkas Wishnutama.

Regristasi Peserta dari 23 Provinsi saat mengikuti Rakernas ASITA I 2020 yang sebelumnya harus melalui rapid test.

Kata Mereka Tentang Bangkitnya Pariwisata Indonesia
Herman Muchtar Ketua PHRI Jawa Barat, memiliki harapan dengan terlaksananya Rakernas I ASITA bahwa adanya kerjasama ASITA dengan semua asosiasi dibawah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) dengan berkolaborasi.

“Saya kira sangat penting sekali dilakukan secara bersama-sama menghadapi kondisi yang sedang kita hadapi bersama ini. Kita sendiri juga belum tahu entah kapan selesainya pandemi covid-19 akan berakhir, kapan akan dimulainya kita bekerja, kapan kita mulai bisa melakukan promosi, yang pastinya akan lebih banyak yang dilakukan oleh kawan-kawan dari ASITA,” kata Herman.

Semoga Pariwisata segera pulih, karena saat ini seperti kita makan buah simala kama, libur harusnya 8 hari tapi diperpendek , tapi kita juga tidak bisa memaksakan karena kondisinya seperti ini, lanjut Herman.

“Tapi alhamdulillah bahwa sampai saat ini belum ada klaster di hotel dan restauran. Karena dari PHRI setiap minggunya selalu mengingatkan kedisiplinan protokol kesehatan dijalankan, yang menjadi persoalan adalah masyarakatnya yang belum disiplin,” jelas Herman.

Sertifikasi CHSE untuk Hotel dan Restauran seperti yang disampaikan Menparekraf Wishnutama sedang berlangsung hingga hari ini. Yang mendaftar dalam 10 hari lalu sudah 200 lebih, cuma tenaga assesornya yang masih terbatas atau kurang personilnya. Yang sudah dilaksanakan sertifikasi paling masih sekitar 80 lebih lah.

Jadi mari saling bergandengan tangan untuk kebangkitan pariwisata dengan menegakkan disiplin protokol kesehatan, disiplin CHSE diterapkan dan yang lebih utama disiplin masyarakatnya juga, tambah Herman.

“jangan kita merasa diberikan kebebasan justru malah menjadi tidak disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” tutup Herman Mochtar.

Produk Fashion Muslim adalah salah satu unggulan UMKM di Kab. Bandung khususnya dan di Jawa Barat umumnya, turut membangun Pariwisata Indonesia

Joeseph Sugeng Iriyanto, Ketua DPD Astindo Jawa Barat mengatakan, sebagai sesama asosiasi yang bergerak dibidang perjalanan pariwisata tentunya Astindo mengharapkan adanya suatu kerjasama yang lebih erat lagi, adanya suatu sinergitas yang benar-benar untuk membangun pariwisata Indonesia dimasa sulit ini.

Kita harus saling bergandengan tangan, bahu-membahu untuk saling mendukung masing-masing progam yang sudah dicanangkan dan sudah direncanakan. Dan sebaliknya, Astindo juga akan mendukung setiap langkah yang diambil oleh ASITA dan diharapkan juga ASITA tentunga akan bersam-sama mendukung program yang dibuat oleh Astindo . Karena semua program yang dibuat pasti sama-sama untuk mendukung dan memajukan pariwisata Indonesia.

Kedepan, pariwisata Indonesia bila dilihat dari perkembangan covid-19 ini yang masih belum tahu kapan ujung selesainya. Perkiraan kami dipertengahan tahun 2021 pariwisata Indonesia bisa benar-benar mulai bangki, lanjut Joeseph.

“Artinya dari persiapan-persiapan yang sudah dilakukan dari mulai sekarang selama bulan terakhir ini dampaknya pastinya pada tahun 2021, tentunya dengan semua harus ada kerjasamanya baik dari stake holder maupun dari masyarakat sendiri.

Stake horder harus benar-benar membuat law enforcement-nya harus ditegakkan, supaya masyarakat disiplin. Masyarakat harus disadarkan bahwa 3M (Memakai masker, Mencuci Tangan dengan sabun, Menjaga jarak) dilaksanakan, prokes harus bener-bener dilakukan.

“Karena bila teledor dengan prokes dan 3M dimasyarakat malah menjadi anti-klimak bila tidak dijalankan. Sehingga dibutuhkan sinergitas antara semua asosiasi dengan stake holder juga,”pungkas Joeseph.

Foto Bersama Peserta Rakernas ASITA I 2020, Selasa (1/12/2020). (*Dok ASITA)

Grand Sun Shine Resort & Convention Terapkan Disiplin Prokes Berbasis CHSE
Sementara itu, Darmawan Pandoyo Drajat, GM Grand Sun Shine Resort & Convention mengatakan selamat datang di Grand Sun Shine dan kami menyambut baik perhelatan secala nasional Rakernas ASITA I 2020.

Dari persiapan hingga finishing sesuai standar protokol kesehatan Covid-19 seperti yang sudah digariskan oleh Gugus Covid-19 Kabupaten Bandung, terutama peserta perhelatan sebelumnya sudah melakukan rapid test terlebih dahulu,” lanjut Darmawan.

Dari awal Bulan Mei hotel ini sudah menyiapkan standart protokol kesehatan Covid-19 penyelenggaraan even, baik digedung maupun standard pada penyelenggaraan sesuai protokol covid-19 yang berkenaan dengan weeding atau akad nikah.

Hal tersebut berdasarkan permintaan dan arahan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung, Yosep Nugraha dan juga Bupati Kabupaten Bandung sendiri yaitu Bapak Dadang Nasser.

“Diakhir Mei membuat project percontohan dihotel ini, sehingga dikeluarkanlah semacam Peraturan Bupati bahwa untuk perhelatan akad nikah atau wedding diperbolehkan di Soreang per-bulan Juni dengan catatan 50 % dari kapasitas.

“Untuk itu kami perlu beberapa first trial dulu diantaranya dari kemenpora, kemendikbud dari kemenhub, mereka yang mengawali even mice seperti ini berikut juga dengan wedding,”jelas Darmawan.

Dengan adanya project percontohan yang diberikan tentu saja kami mendapatkan beberapa standard minimal untuk protokol Covid-19 sesuai dengan arahan dari Kementerian Pariwisata seperti apa, kita ikutin semua sesuai Prokes berbasis CHSE.

ASITA Gelar Rakernas I
Kesibukan Panita Rakernas ASITA I 2020 menyiapkan id.card

Memang ada investasi yang dipersiapkan beberpa hal yang detail sudah dipesan terlebih dahulu, Akhirnya bulan Juni, Juli, Agustus dan klimaknya adanya penyelenggaraan 26 kali wedding pada bulan Agustus.

“Luar biasa kepercayaan masyarakat Kabupaten Bandung pada Grand Sun Shine. Terutama saat tanggal angka cantik yaitu 08-08-2020 bisa menyelenggarakan 5 wedding dalam satu hari,” kata Darmawan.

Setiap bulan kami dapat audit dari PT Gobal Inspeksi Sertifikasi (GIS) untuk protokol Covid-19. Kita inginkan front liner kita secure, setiap bulan kita rendem 20 orang langsung rapid test, alhamduillah dari bulan ke bulan
zero accident artinya negatif covid-19 seluruh karyawan termasuk GM nya.

“Apalagi saya sering bertemu orang, alhamdulillah bulan September Grand Sun Shine mendapatkan sertifikasi halal untuk catering, jadi dilantai 2 ini yang berkaitan dengan makanan sudah bersertifikat halal,” ujar Darmawan.

Kemudian sertifikasi Bintang 4 juga bulan lalu dr GIS dan komite Audit Nasional juga datang, terakhir Grand Sun Shine mendapatkan sertifikasi CHSE dari Kemenparekraf.

“Kami Menyambut baik adanya perhelatan Rakernas I ASITA bahwa Kabupaten Bandung dengan Yellow status, kita dapat mengoptimalkan keamanan dengan protokol covid-19 dijalankan sehingga tetap produktif dan bisnis tetap jalan,” pungkas Darmawan.***.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan