Bandung Side , Bukit Pakar Timur – Panggung Para Pahlawan menjadi tema webiner Selasar Sunaryo Art Space yang bekerjasama dengan Pusat Studi Pancasila, Universitas Katolik Parahyangan dilaksanakan secara virtual melalui webiner, Jum’at (13/11/2020).
Dialog mendalam menghadirkan narasumber Aminudin T.H Siregar, Sejarawan Seni dan Dr. Dede Pramayoza, S.Sn.,M.A. yang dipandu oleh Mardohar B.B. Simanjuntak memaknai “Pahlawan” dalam arti luas.
Ada dua tipe pahlawan, yang bersabar dan bertekun dalam sebuah imaji jangka panjang. Dan panggung yang terus aktif merangkul dan meraih demi sebuah gagasan bernas, ramah pada siapapun yang ada.
Seorang seniman bisa menjadi keduanya. Ia bisa menjadi panggung pahlawan penghasil karya yang menjadi monumen kesabaran dan ketekunan; dan ia juga dapat menjadi perangkul bagi yang se-visi dengannya, berjuang untuk kesejahteraan.
CATATAN MODERATOR TENTANG PANGGUNG PARA PAHLAWAN
Benedict Anderson mengangkat ulang gagasan tentang gagasan sebagai fiksi. Sebuah negara adalah pada hakikatnya abstraksi mungkin lebih tepatnya abstraksi atas abstraksi.
Bagi Anderson, hakikat negara-bangsa adalah sebuah kesepakatan atas konsep-konsep abstrak yang ada di kepala kita manusia: tentang kesejahteraan, tentang keadilan, tentang menjadi manusia, tentang segala bayangan dan tentang imaji-imaji yang terlintas di kepala kita saat menjalani kehidupan sebagai spesies yang terbatas ruang dan waktunya. Dan Anderson tidak sendirian dengan tawaran kontroversialnya ini.
Anil Seth, seorang pakar neurosains mengatakan bahwa fiksi tentang dunia yang menjadi tempat hidup Homo sapiens-sapiens pada hakikatnya adalah halusinasi.
Sebuah istilah peyoratif, mungkin, bagi kita yang selalu menggunakannya sebagai sinonim dari isapan jempol. Tapi jelas tidak bagi Seth karena prasangka kita tentang realitas halusinatorik keliru.
Seth mengkategorikan mimpi-mimpi indah kita di siang bolong sebagai halusinasi yang tidak terkontrol; sebaliknya, dunia terhalusinasi yang kita hidupi ada di dalam kendali kita.
Singkatnya, seturut Seth semua konvensi kebangsaan pada dasarnya imajinasi atas sinyal sinyal sel saraf yang kita imajinasikan bersama dari awal hingga akhir.
Lantas bila seburam itu potret yang dibingkai oleh Anderson dan juga Seth, tidakkah kita bisa menemukan padatan atau pejalan kokoh dari apapun yang menjadi dasar dari akte kelahiran dan kartu keluarga yang sangat penting bagi eksistensi administratif kita?
Atau kita memang harus menyerah pada genggaman imago-halusinatorik yang membuat dasar–dasar kita dalam bernegara serapuh kisah-kisah Disney dengan para putri raja yang akhirnya menemukan pangeran tercinta untuk selamanya hidup bahagia?
Di manakah kita bisa menemukan pondasi kokoh kebernegaraan yang dapat kita pergunakan untuk memberi tanda seru pada pengasong agama-isme dan kroni-isme yang sekarang selalu mengintip dari sudut ruang dengan belati tajam tersimpan di saku belakang?
Kita tidak tahu dan bahkan kita mungkin tidak akan pernah tahu saat kita membuka lembaran-lembaran Kantian. Lihat bagaimana roh mewujud pelan tapi pasti dalam gerak telik-historis halaman-halaman Hegelian.
Berhenti berpikir dan mulai rebut sumber-sumber produksi demi kendali surplus, kata para Marxis. Ciptakan dan patok kuat-kuat rasionalitas-mu dan dirikan menara di atasnya, hardik surat-surat Nietzschean.
Di atas pemikiran mereka-lah nation-state dan nation-hood yang kita kenal sekarang dibangun. Masalahnya, akhirnya kita tahu dari temuan-temuan terbaru “ilmu-ilmu keras” yang menghadirkan kenyamanan teknologis seperti ponsel dan laptop bahwa kita memang sedang dan selalu akan membangun dan berkeringat dan bahkan berdarah-darah di atas istana pasir.
Konstruksi imagologis tidak terkecuali negara yang ada di kepala manusia memang rapuh dan getas. Lepas dari buaian konsep yang kita karang atau karang-karang, mau tidak mau suka tidak suka kita harus menerima kenyataan lugas semacam itu.
Jadi, haruskan kita semena-mena dengan istana pasir eksistensial yang kita sebut negara sebagaimana kita dengan mudahnya meninggalkan gundukan pasir yang yang telah lentur dan luntur oleh sekaan gelombang pantai saat liburan selesai dan senja tiba?
Dan dengan demikian, apakah ini berarti bahwa setiap hari adalah membangun istana pasir yang sama hari-demi-hari setelah kita mulai dari ember mungil yang sama di tepian yang sama pula?
Inilah pertanyaan mendasar dari siapapun yang mengaku dirinya seorang pahlawan. Dan mungkin dalam kegelisahan kita akan jawaban-jawaban yang tidak kunjung tiba kita akan tergoda dengan undangan Sisipean ala Albert Camus, bahwa pada kenyataannya kita hanya menghabiskan waktu kita sia-sia dengan jejalan berember-ember pasir yang kita gadang gadang sebagai “istana” yang hanya seumur hujan senja dan deburan ombak.
Namun cara pandang “bohemian” semacam itu tidak bertanggung jawab karena di tangan negara kita menemukan nyawa dan maut sekaligus.
Tidak ada yang mau bermain-main dengan kematian yang jelas bukan sekadar angka statistik apalagi saat perkara hidup mati menjadi urusan personal. Tidak ada yang sepakat kecuali Anda seorang psikopat atau sosiopat bahwa rudal-rudal berhulu ledak nuklir adalah sebuah bahan bercandaan.
Di dalam tangkupan tangan negara-lah dua titik ekstrim tadi diletakkan.
Tidak, jelas kita tidak bermain “istana-istana-an” dengan lembaga yang membuat kartu tanda penduduk dan paspor kita punya arti lebih dari sekadar kertas kecil yang dilaminating atau dijilid.
Seorang pahlawan tahu itu. Seorang pahlawan tahu persis ada sebuah fiksi atau halusinasi terkendali. Seorang pahlawan sadar bahwa apapun yang kita bangun dengan pasir akan luntur dan lenyap senyap ditelan kembali oleh ombak yang melahirkannya.
Siapapun yang dengan sepenuh hati menerima jalan kepahlawanan sadar bahwa membangun dan mempertahankan sesuatu tidak akan pernah selesai. Tidak ada istilah pulang ke rumah atau ke kamar hotel saat matahari terbenam dan swafoto sudah diambil. Apapun yang kita bangun dengan pasir kita pertahankan sekalipun hujan dan gelombang pasang menyapa.
Lalu mestikah kita pasakkan besi-besi kerangka tajam dan keras hingga dan kita lesakkan campuran semen agar istana pasir kita akan aman selamanya apapun yang terjadi? Mungkin.
Tetapi itu adalah gugatan serius terhadap hakikat pasir. Saat kita membuatnya menjadi beton ia menjadi materi berat dan garang yang bisa melukai dan menghentikan apapun.
Uniknya, saat kita memadatkan pasir dengan air yang menjadi “musuh abadinya”, kita mendapatkan pasir yang lebih keras tanpa perlu mengeraskan menjadi sedemikian membatu dan kehilangan bentuk aslinya.
Pasir bisa kita padatkan, asal kita memberinya waktu, mencukupkan airnya, dan melindunginya dari terjangan terik matahari dan angin.
Mereka para pahlawan adalah orang-orang itu: yang cukup sabar untuk terus melindungi saat angin kencang menerjang, yang dengan telaten membuatnya lembab dan terus memadatkannya, yang dengan tekun membangun kembali sedikit demi sedikit menjadi lebih kokoh lagi dan bahkan mengembangkannya menjadi lebih besar dan megah lagi, dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang selalu mengatasi ruang individualnya dan mencoba untuk masuk dan menyatu dengan yang lain demi yang lain.
Sekali lagi, mereka bukan orang orang yang hanya menunggu dan memiliki angan-angan pepesan kosong tentang sebuah istana megah yang tinggal dikeruk dan direguk.
Mereka tahu, kalau apa yang mereka lakukan adalah pengorbanan tanpa batas waktu. Justru pada titik inilah mereka menemukan pemaknaan sejati –makna yang menjelma dalam setiap hal yang mereka lakukan.
DUA TIPE PAHLAWAN DIATAS PANGGUNG
Ada dua tipe pahlawan, dan keduanya saling melengkapi. Yang pertama adalah yang bersabar dan bertekun dalam sebuah imaji jangka panjang yang tidak luntur oleh manuver-manuver kelas teri dari politikus dan pengusaha remeh dan receh yang kepekaannya hanya sesingkat sapuan angin.
Seorang pengusaha yang tidak bermain mata dengan kelurahan dan kecamatan dan ikut-ikutan gelombang pasang aktivitas religius dan politik radikal atas nama pasar adalah wujud kesabaran dan ketekunan semacam itu.
Seorang ibu rumah tangga yang dengan setia memberi ruang pada yang lain dan pada pendidikan yang memberi kebebasan untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi adalah pahlawan seperti itu.
Seorang anak yang tidak peduli dengan aksi contek-menyontek dan berteman dengan siapa saja sudah masuk dalam kategori pahlawan-pahlawan yang sabar dan tekun demi sebuah visi besar dan sekaligus mendasar dari sebuah negara.
Yang kedua adalah mereka yang terus aktif merangkul dan meraih demi sebuah gagasan bernas yang ramah pada siapapun yang ada di dalam negara. Mereka yang tidak pernah berhenti untuk merangkul sebuah visi kenegaraan utuh yang bukan perkara titipan pesan dan sematan amplop.
Mereka yang tanpa henti mencoba untuk mengayomi mereka-mereka yang bersabar dan bertekun. Seorang anggota pemungutan suara yang harus menempuh belasan jam menembus gunung hanya untuk memastikan bahwa warga yang ada di sebelah sana mendapatkan haknya untuk memilih adalah salah satu contoh kepahlawanan semacam ini.
PAHLAWAN DALAM PANGGUNG HIDUP BERNEGARA
Para politisi dan pemegang jabatan yang setia pada tanggung jawab mereka dan bukan hanya menjadi aktor-aktris panggung politik dadakan dan seremonial yang tidak pernah menyentuh prioritas uraian kerja adalah contoh lain.
Para profesional yang tidak pernah mengeluh betapapun rumit dan sia-sianya ekses administrasi dari sebuah sistem yang sedang berkembang adalah mereka-mereka yang selalu memastikan bahwa setiap warga negara ada dalam rangkulan atau raihan yang tidak akan pernah luntur dan terkupas oleh tantangan hidup bernegara.
Seorang seniman bisa menjadi keduanya. Seniman bisa menjadi penghasil karya yang menjadi monumen kesabaran dan ketekunan untuk terus setia pada sebuah konstruksi fiktif Andersonian halusinatorik ala Seth yang punya dampak sangat riil dan serius senyata dan seserius negara.
Seth juga dapat menjadi perangkul dan peraih yang lain yang sevisi dengannya dan berjuang untuk kesejahteraan, hak-hak dasar manusia, keadilan, kesetaraan, pluralisme dan hal-hal lain yang menjadi ciri negara sehat berdaulat.
Menariknya, di dua sesi awal dari rangkaian seminar ini kita telah melihat keduanya.
Baik Maharani Mancanegara maupun Patriot Mukmin di sesi satu tanggal 30 September yang lalu telah memperlihatkan bagaimana ketekunan dan kesabaran untuk terus berdialog membuahkan hasil.
Maharani dengan luka dan trauma sejarahnya bersedia untuk membedah luka itu dan tidak membiarkannya membusuk. Maharani mencoba mencari jalan untuk berbicara dan berbagi sebuah cara yang jauh lebih indah daripada berteriak dan mengancam.
Apa yang menimpa kakeknya pada tahun 1965 menjadi dorongan baginya untuk terus bersabar dan berharap bahwa kesadaran kolektif kita dalam bernegara adalah sesuatu yang dikatakan Rutger Bregman sebagai sisi baik yang menjadi kasunyataan the really real dari kemanusiaan.
Maharani mencoba melihat sisi prospektif dari kejutan sejarah sebagai panggung pahlawan. Patriot Mukmin hadir dari jalur sebaliknya, ia melihat ke belakang secara retrospektif. Ia berangkat dari keingintahuan, dan rasa ingin tahu yang bagi sebagian orang sangat berbahaya ini justru diselami.
Seperti Maharani, Patriot juga berdialog dengan realitas keindonesiaan di tahun 1998 dan 1965. Alhasil, Maharani dan Patriot memperkuat visi kebangsaan mereka dengan metode dialogis yang bernas yang sejalan dengan heroisme tipe awal yang telah kita lihat.
Tisna Sanjaya ada di sisi kepahlawanan yang kedua, yang diangkat di sesi kedua, 28 Oktober 2020. Tisna Sanjaya bersedia menjadi kosa kata bagi sebuah obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mendera Indonesia, dan khususnya di Bandung kota tempat tinggalnya.
Tisna tidak pernah melihat dikotomi kawan versus lawan karena jebakan biner semacam ini terlalu seksi bagi penumpang gelap untuk mengabaikannya. Tisna menghadirkan kosa kata ampuh yang berhasil mementahkan “bakteri” dan bahkan “virus” yang menggerogoti tubuh aparatur pemerintahan kota yang kerap disilaukan oleh beningnya gelagat lukratif dari komodifikasi.
Tisna berkesenian dengan merangkul dan meraih Ledeng, Babakan Siliwangi, Citarum, dan sekarang wilayah Alun-Alun Bandung. Bahan bakar dari gerakannya ini adalah kesadaran etis yang tidak hanya menjadi bagian dari bisingnya media sosial tetapi mewujud ke rangkulan dan raihan atas masyarakat nyata yang merasakan langsung manfaat-manfaatnya.
Bagi Tisna ia adalah kata-kata yang dibutuhkan oleh yang lain oleh korban kerusakan lingkungan dan Tisna menjadi pena dan kertas yang mementahkan argumen komodifikatif dan radikal yang pendek baik umur wawasannya maupun sumbunya.
Tugas kita kali ini adalah memeras keduanya ke dalam sebuah formulasi resep ampuh yang dapat kita jadikan pesan bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan tanpa harus datang kesiangan.
PAHLAWAN SEJATI
Kesejatian seorang pahlawan bukan di batu nisan dan monumen megah yang tersusun rapi bak komposisi foto biro perjalanan. Sebaliknya, kesejatiannya justru ada pesan-pesan yang padat dan kokoh dari setiap tindakan kepahlawanan.
Kita terlalu mudah untuk masuk ke klise-klise heroik yang membuatnya seperti fabel atau dongeng yang lebih sering kita lupakan daripada amalkan.
Pahlawan bagi kita menjadi terlalu berjarak, sedemikian berjarak hingga kita justru sangat disayangkannya menjadi lebih dekat dengan karakter pecundang yang tidak tepat untuk diteladani: intoleransi, egosentrisme, dan tindak kekerasan.
Studi sejarah Indonesia masih terlalu abu-abu dengan orkestrasi dan dekorasi yang mengaburkan pesan sebenarnya; dan kadang kita lupa bahwa sejarah bukan barang bekas.
Lebih bernas bila kita berpikir tentang menyejarah sebagai verba dari pada sejarah sebagai nomina untuk situasi sekarang, karena Indonesia memang perlu inspirasi dari sisi mana saja terutama dari pahlawan nya yang tidak pernah berhenti dilahirkan dan berkarya diatas panggung.
Terakhir, dalam sebuah lokarya teater yang diikuti oleh penulis beberapa tahun silam, Putu Wijaya di salah satu sesinya mengatakan bahwa pada hakikatnya seorang pemain teater sejati tahu persis setiap langkah dan napas yang harus ia mulai dan akhiri saat di panggung.
Panggung bagi seorang pemain lakon bukanlah semata sebuah panggung, tetapi ruang yang hidup: langkah kaki, tolehan kepala, gerakan tangan, putaran badan, dan setiap detil perubahan apapun yang diangkat oleh sang tubuh.
Demikian pula dengan gerak-gerik seorang pahlawan: ia ada di medan perjuangan yang membutuh setiap jengkal stamina yang ia punya, setiap perhatian yang ia miliki, dan setiap putaran detik waktu yang harus ia hidupi.
Pejuang sejati, kata Sanento Juliman dalam tulisannya tahun 1968 yang tetap “terlalu” relevan dengan masa hidup kita sekarang “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”, adalah mereka yang menghidupi panggung kepahlawanan mereka dengan sepenuh hati.
Seorang pahlawan dalam pemikiran Sanento adalah dirinya sendiri seutuhnya yang sudah lebur dengan yang lain. Sama seperti seorang aktor yang tahu persis apa yang akan terjadi dari menit ke menit di dalam lembaran naskah, dan serupa dengan seorang pemain teater yang menyatu menjadi bagian dari keseluruhan lakon, demikian pula heroisme ala Sanento mewujud di dalam sebuah aksi teatrikal.
Setragis dan sefatal apapun arah sebuah skenario yang terus bergerak dihidupi dengan total oleh sang aktor teater di panggung : inilah hakikat pahlawan yang harus kita garis bawahi, kata Sanento.
Mungkinkah, dengan demikian, ini formulasi yang kita harapkan, yang dapat menyatukan dua sisi heroik yang telah kita bahas sebelumnya? Jawabannya sangat mungkin semungkin cara berpikir partisipatoris yang mengklaim semua kegiatan artistik yang estetik dapat dikembalikan ke téchnê (τέχνη) dalam istilah Yunani: bahwa salah satu hakikat seni adalah sebuah langkah kembali ke keseharian.
Kita pun dapat mengamini perjuangan para pejuang dalam aksi keteaterawebinern orang-orang semacam ini yang telah, sedang, dan selalu berjuang bagi orang lain. Namun melihat kenyataan yang kita hidupi sekarang di negara ini, tawaran kata “mungkin” masih terbuka untuk kita pertanyakan sekali lagi dalam diskusi kali ini.
Bandung, Juma’at (13/11/2020)
Mardohar B. B. Simanjuntak.