BANDUNG SIDE, Jl. Karawitan – Memasuki masa pandemi kurang lebih 6 bulan lalu, secara tidak langsung dan perlahan membuat perekonomian berjalan mundur, drastis hingga menghentikan operasional usaha.
Pariwisata, property, otomotif, perdagangan dan sektor lainnya terdampak secara serius seiring pembatasan aktivitas masyarakat mempengaruhi dunia bisnis dan berimbas pada perekonomian.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Bulan Agustus menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada periode yang sama 2019 lalu.
Pertumbuhan hingga minus 5,32 persen diantaranya disebabkan pelemahan ekonomi seluruh dunia menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor negara Indonesia ke beberapa negara terhenti.
Selain itu, adanya ketidak pastian usaha yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha. Kejadian yang bersifat makro tersebut mendorong cepat melemahnya konsumsi rumah-tangga atau daya beli masyarakat yang merupakan penopang 60 persen terhadap perjalanan ekonomi.

Tidak hanya industri besar, pandemi virus Cvid-19 telah membuat pelaku UMKM di Indonesia mulai gelisah. Anjuran Social distancing demi menghindari penularan sedikit banyak turut andil menurunkan aktivitas jual-beli ditengah masyarakat.
Kebijakan Work From Home membuat aktivitas produksi terganggu sehingga memutuskan merumahkan karyawan tanpa upah hingga berujung PHK massal. Hal tersebut juga menyebabkan bahan baku produksi industri rumah tangga mengalami kelangkahan hingga mengalami kenaikan harga yang ekstrem.
Usaha UKM bersifat harian, mengandalkan interaksi langsung saat jual-beli dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar dan social distancing tentu saja membuat permintaan turun drastis.
Namun demikian, ada sektor UMKM yang justru meningkat saat pandemi seperti hobi produk outdoor dan indoor seperti sepeda dan alat pancing, produk kesehatan dan produk makanan herbal dan bahan baku lokal.
TORI SHOES Terus Menggeliat dengan Bahan Baku Lokal
TORI SHOES salah satu UMKM yang bergerak di industri sepatu atau alas kaki sejak 2010 di jl. Karawitan No. 85B, Turangga, Bandung, Jawa Barat juga tidak luput dari dampak Covid-19.
Founder TORI SHOES, Dalzi Rochimat Danil (27th) mengatakan, memasuki masa pandemi Covid-19 kami merubah konsep dalam berusaha yakni sebagai perusahaan yang bermanfaat bagi orang lain dengan upaya menjadi salah satu solusi atau problem solving dengan memanfaatkan jaringan baik sebagai mitra binaan maupun sebagai anggota asosiasi.
TORI SHOES dalam proses produksinya menggunakan bahan baku lokal bukan hal yang baru, karena pesanan sepatu atau sandal secara customize dari pelanggan mendorong untuk selalu menggunakan material yang berasal dari daerah.

Pada sepatu atau sandal dimodifkasi menggunakan variasi motif kain batik Jawa Barat sehingga tampak cantik dan tampil elegan sedap dipandang mata.
“Kami juga menggunakan variasi motif kain tradisional didaerah Kalimantan yakni Sasingaran yakni kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang desainnya lebih formal dan elegan,” kata Dalzi saat diwawancari Bandung Side, Sabtu (5/9/2020) lalu .
Indonesia sangat kaya akan kain tradisional yang motifnya unik dan membanggakan, tidak ada di negara lain yang memiliki kekayaan motif yang menjadi ciri khas suatu daerah.
Seperti Ulos; kain tradisional Batak, Sarung Bugis; kain tradisional Makasar berbahan sutera dengan rangkaian benang emas dan perak menampilkan perpaduan warna yang dominal motif kotak, Lurik; kain tradisional yang banyak dijumpai di Solo dan Yogyakarta dengan motif garis klasik.
“Masih banyak lagi seperti Songket Lombok, Tapis, Gringsing, Tenun Dayak, Besureng, Songket Palembang, Tenun Ulap Doyo, Poleng, Jumputan dan lain-lain merupakan kekayaan lokal yang menginspirasi, berkreasi dalam membuat model variasi pada sandal atau sepatu,” papar Dalzi.
Trend sepatu atau sandal yang kita produksi, lanjut Dalzi, adalah yang nyaman digunakan dirumah. Karena orang jaman sekarang sudah tidak lagi ke pesta atau tempat yang formil unuk dikunjungi, melainkan lebih banyak dirumah atau kantor. Jadi desain sandal dan sepatu tidak jauh dari kebiasaan mereka menggunakan, seperti sandal untuk berwudhu dengan motif tradisional tersebut.

“Sejak menjadi mitra binaan Pertamina tahun 2016, banyak sekali perubahan yang dilakukan oleh TORI SHOES dalam menciptakan karya. Mulai dari teknologi proses produksi hingga memilih pasar mendapat masukan yang sangat berarti, terutama dalam mengadopsi teknologi digital,” kata Dalzi.
“Pertamina dengan ketulusan untuk melayani menjadi cerminan TORI SHOES dalam berkreasi menerima pesanan pelanggan. Bukan hanya memberi pinjaman modal dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, Pertamina juga memberi pelatihan kewirausahaan, pembukaan akses pasar, sertifikasi maupun perijinan, coaching dan mentoring bersama praktisi bisnis juga dihadirkan saat melakukan pembinaan mitranya,”terang Dalzi.
TORI SHOES juga mendapat kesempatan seperti pelaku usaha besar dengan memanfaatkan teknologi digital memasuki satu platform melalui e-commerce atau marketplace dalam memasarkan produk, tambah Dalzi.
“Selain memanfaatkan teknologi, TORI SHOES juga masih mengikuti pameran produk baik didalam maupun diluar negeri yang difasilitasi oleh Pertamina. Hal tersebut sebagai upaya memperluas pasar serta sebagai ajang bertemu langsung dengan user maupun membangun jaringan informasi ter-up to date,” jelas Dalzi.
Pertamina dalam melakukan pembinaan secara terbuka dalam komunikasi membuka layanan group WhatsApp kepada anggota, sehingga kami bisa langsung berbagi informasi, lanjut Dalzi.
“Bulan kemaren yakni Agustus kemaren dilakukan webiner, Pertamina memberi kejutan dengan membeli produk mitranya senilai 3 juta untuk 3 mitra binaannya. Senang sekali, dimasa sulit pandemi ini kami tetap diberi motivasi untuk tetap bergerak, berkreasi, berinovasi dengan ide-ide baru,” pungkas Dalzi.

Pertamina Bangkitkan Kembali UMKM Dengan Ketulusan Untuk Melayani
Unit Manager Communication Relations & CSR MOR III, Eko Kristiawan mengatakan, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan saat pandemi tetap berjalan, tergantung juga pada pengajuan dari pelaku UMKM.
Sosialisasi tetap berjalan dan tim kami melakukan follow up dari pengajuan yang masuk berupa survey yang dilakukan secara online karena masih dalam masa pandemi covid 19. Survey online ini merupakan salah satu upaya agar program tetap berjalan walau tidak bertemu secara fisik.
Pendampingan dan pembinaan masih terus berjalan bagi mitra binaan diantaranya melalui pelatihan dan pameran yang diikuti mitra binaan.
“Pelatihan yang diberikan kepada mitra binaan, diantaranya up-skilling baik softskill maupun hardskill. Pameran produk berbagai skala dan juga Pertamina fasilitasi dalam kondisi normal. Selain itu Pertamina juga membantu pemasaran produknya, sertifikasi halal hingga pengajuan HAKI serta yang terkait dengan pengembangan usaha mitra binaan,” jelas Eko Kristiawan.
Membangkitkan kembali UMKM, khususnya mitra binaan Pertamina tentunya sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Kalau dari sisi Pertamina tetap menyalurkan dana program kemitraan sesuai ketentuan dan protokol Covid-19, pembinaan dilakukan secara online baik video conference maupun whatsapp grup agar tidak banyak kontak fisik.
Menggandeng mitra binaan yang memproduksi kebutuhan alat kesehatan, seperti masker dan wastafel portable untuk diserap baik untuk digunakan sendiri oleh Pertamina maupun untuk bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Semoga pandemi Covid-19 cepat selesai, sehingga program binaan bisa berjalan normal seperti sebelum pandemi. Pertamina terus mendukung pengembangan UMKM mitra binaan, agar tumbuh menjadi pelaku usaha tangguh, kuat dan mandiri” pungkas Eko Kristiawan.***