Wishnutama: Generasi Muda Merupakan Agen Perubahan di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Bandung Side, Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengajak dan mendorong generasi muda menjadi agen perubahan di era adaptasi kebiasaan baru dengan melakukan kerja produktif, kreatif, dan inovatif.

Wishnutama Kusubandio saat menjadi pembicara dalam webinar “Kesehatan Sahabat Ekonomi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Jumat (24/7/2020) malam mengatakan, dampak dari pandemi dirasakan seluruh sektor tak terkecuali pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sektor yang paling terdampak.

Menurut Wishnutama dengan menjadi agen perubahan, anak muda dapat menciptakan peluang maupun dorongan di kalangan masyarakat untuk tetap produktif namun tetap aman dari COVID-19.

Tahun 2019 devisa yang dihasilkan di sektor pariwisata sebesar 20 miliar dolar AS atau terbesar kedua setelah kelapa sawit dengan jumlah kunjungan wisman sekitar 16 juta. Namun akibat pandemi, potensi yang ada di tahun lalu tentu sulit untuk bisa terwujud.

“Ini tentu kondisi yang tidak mudah, namun kita perlu untuk menghadapinya secara bersama,” kata Wishnutama.

Presiden Joko Widodo telah membentuk Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara kesehatan dan kebijakan perekonomian. Masyarakat bisa kembali beraktivitas secara produktif namun tetap aman dari COVID-19.

Untuk mewujudkan tersebut, penerapan protokol kesehatan menjadi hal terpenting yang harus dilakukan sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan baru.

Wishnutama mengajak generasi muda termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk dapat memainkan peran penting sebagai agen perubahan. Salah satunya adalah membantu menyebarluaskan dan menanamkan pentingnya penerapan protokol kesehatan agar dapat terwujud keseimbangan antara peningkatan kesehatan dan perekonomian.

“Perlu disiplin dan keseriusan dalam melaksanakan protokol kesehatan yang ada. Para pemuda khususnya anggota HMI dapat menjadi contoh yang baik bagi masyarakat dalam menerapkan praktik kesehatan sekaligus agen perubahan untuk terus berinovasi beradaptasi demi kemajuan di tengah Pandemi COVID-19,” kata dia.

Untuk strategi pengembangan di sektor pariwisata, Wishnutama mengatakan pihaknya akan mendorong lebih dulu pergerakan wisatawan nusantara dibanding wisatawan mancanegara. Tahun 2018 ada 8 juta masyarakat Indonesia yang ke luar negeri dengan pengeluaran sebesar 9 miliar dolar AS. Dengan kemampuan daya beli tersebut diharapkan mereka bisa mengeluarkannya dengan berlibur di dalam negeri.

“Sehingga hal ini akan sangat mendorong bangkitnya sektor pariwisata di Indonesia,” kata Wishnutama.

Kemenparekraf juga berkoordinasi dengan kementerian/lembaga lain untuk dapat menunjang hal tersebut. Yakni dengan berencana membuat berbagai program yang akan memudahkan wisatawan bepergian di dalam negeri sehingga dapat membantu sektor pariwisata segera pulih. Seperti memberikan diskon atau tiket dan paket wisata murah.

“Sering saya sampaikan di berbagai kesempatan, dalam setiap krisis selalu ada peluang. Kita semua sebagai bangsa harus dapat mencari peluang yang ada di tengah krisis. Dan saya yakin dengan semangat teman-teman, kita bisa keluar sebagai pemenang dalam kondisi COVID-19,” kata Wishnutama.

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih mengatakan, dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19, mendisiplinkan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan menjadi hal yang utama. Karena tenaga kesehatan menjadi garda terakhir.

“Sehingga penting bagi semua elemen masyarakat dan komunitas untuk membangkitkan gerakan dan kesadaran disiplin. Komunitas dengan bahasa di komunitasnya bisa memberi masukan dan pembelajaran akan pentingnya protokol kesehatan,” ujarnya.

Sementara Ketua Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, dalam paparannya mengatakan, sejak pelonggaran PSBB diberlakukan membuat perbaikan di pasar keuangan domestik. Sehingga penerapan protokol kesehatan memang menjadi salah satu kunci penting.

“Agar pemerintah bisa mempercepat implementasi kebijakan stimulus yang ada. Kalau tidak, tekanan terhadap perekonomian makin besar dan untuk kita pulih akan lebih panjang dan costly,” kata Rosan Roeslani.

Sementara Daeng M. Faqih, Ketua Umum PB HMI, mengatakan informasi mengenai kesehatan harus dapat tersampaikan dengan baik ke masyarakat. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam masa adaptasi kebiasaan baru harus mampu termanifestasikan dalam kehidupan masyarakat.

Dengan begitu antara kesehatan dan persoalan ekonomi bisa berjalan bersama. Diperlukan aspek dan semangat kolektif untuk menyelesaikan masalah ini dan HMI siap mengambil peran.

“Kita sudah harus bisa menggerakkan roda perekonomian kita, maka outway antara kesehatan dan ekonomi berjalan bersama adalah menjalankan budaya menjaga kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru ini,” ujar Daeng.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan