Bandung Side, jl Wastukancana – Ribuan pengemudi ojek online yang tergabung dalam Driver Online Jawa Barat Bersatu (DOJB) menggelar aksi demo besar di depan Balai Kota Bandung, jl Wastukancana, mendesak pemerintah Kota Bandung segera mengizinkan layanan angkut penumpang dapat beroperasi kembali, Senin (13/7/2020).
Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator aksi damai, Aep Duyeh yang merupakan ajang menagih janji dari pihak pemerintah dan aplikator.
Aep Duyeh menyampaikan unek-uneknya terkait kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandung yang memutuskan sebelumnya dibuka tanggal 9 Juli 2020 tapi kenyataanyah sampai tanggal 13 Juli 2020 belum juga dibuka aplikasi layanan penumpang padahal pihak Aplikator sudah mediasi dengan pihak pemerintah tapi sampai saat ini aplikator belum membuka layanan penumpang tersebut.

Selain itu, para ojol meminta kebijakan rapid test ataupun swab test untuk pengemudi ojek online (Ojol) juga ditiadakan karena memberatkan. Selain itu, test-test tersebut tidak menjadi tolak ukur seseorang bebas covid-19.
“Kenapa hanya ojek online yang ditest, kenapa supir bus nggak ditest sama-sama transportasi padahal. Kalau kami di test COVID-19 kita bersinergi bertemu banyak masyarakat kalau sekarang di tes COVID-19 ada jaminan 5 menit kemudian kita bebas dari terpapar Covid-19 ?” kata Aep.
Apalagi, tambah Aep, pengenaan biayanya dibebankan kepada mitra pengemudi. Untuk sehari- hari aja buat makan kita susah cuma dapat sehari Rp.35.000 sekarang disuruh buat bayar rapid test atau swab test. Sebelumnya pihak penyedia aplikasi ojol sudah bertemu dengan Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung. Aplikator juga telah mempresentasikan upaya penerapan standar protokol kesehatan.
“Kami yang melayangkan surat ke DPRD kemarin, aksi aspirasi kita disetujui sekarang tinggal tahap kedua yakni aktivasi sampai sekarang kita belum diizinkan membuka go ride. Sehingga kami menuntut kejelasan kapan Walikota menandatangani dan resmi disetujui,” ungkap Aep Duyeh.***