SampahKu Bukan SampahMu (jilid 1)

Masihkan Majalaya Ramah untuk Penghuninya

Bandung Side, Majalaya – Sampah menjadi persoalan utama bagi kawasan pemukiman padat, bukan hanya keterbatasan lahan untuk menampungnya hingga volume sampah semakin menggunung namun sudah bersentuhan kepada budaya dalam mengelolahnya yang belum ketemu hingga sekarang.

Begitu juga yang terjadi di Majalaya, yang pernah mendapatkan julukan sebagai “Kota Dolar”. Dari tahun ke tahun menjadi wilayah kecamatan sebagai tujuan peruntungan dalam dalam mengais rejeki untuk bekerja sebagai buruh pabrik maupun bisnis dibidang pertekstilan. Kecamatan Majalaya yang dulu sebagai wilayah agraris kini menjadi wilayah industri tekstil yang merubah warganya yang sebelumnya memiliki budaya agraris, kini menjadi wilayah berbudaya industri.

Dikatakan sebagai kota kecamatan urban tentunya secepat waktu berjalan mempunyai kepadatan penduduk yang signifikan perkembangannya. Menurut Badan Statistik Kabupaten Bandung dalam bukunya berjudul Kecamatan Majalaya Dalam Angka 2019 jumlah penduduk menunjukkan angka 159.932 jiwa mengalami perkembangan setiap tahunnya menunjukkan angka berbalik dengan penurunan luas area lahan sawah menjadi area bukan sawah yang menunjukkan adanya peruntukan sebagai tempat pemukiman dan tempat industri.

SampahKu Bukan SampahMu

Majalaya memiliki ciri wilayah permukiman tidak teratur akibat dorongan kebutuhan hunian dan percepatan pembangunan yang tata kelola kotanya tidak menunjukkan wilayah yang strategis. Hal tersebut ditunjukkan dengan dibangunnya pusat kota kecamatan yang ditunjukkan dengan adanya alun-alun dan masjid agung serta pusat pergerakan ekonomi di area resapan yang tentunya area yang paling rendah menurut ukuran dibawah permukaan laut (dpl).

Akibatnya, Majalaya mengalami bencana tahunan yang diakibatkan bukan karena alam yakni banjir. Luapan Sungai Citarum tidak didukung dengan saluran drainase perkotaan yang ideal, sehingga selalu hadir dan secara signifikan dibarengi dengan perubahan peruntukan lahan hutan menjadi lahan perkebunan di bagian hulu baik pegunungan Wayang maupun pegunungan Kamojang. Hal tersebut menjadikan area pengunungan yang rawan longsor serta mudahnya aliran air Sungai Citarum membawa erosi berupa lumpur ke daerah hilir yang dilaluinya, yakni Majalaya.

Disamping itu, perkembangan kepadatan penduduk yang tidak didukung tertibnya tata ruang kota dan terjaminnya tegaknya pegurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) juga memberi kontribusi kebencanaan banjir dalam hal sistem pengelolahan sampah yang tidak dimiliki oleh warga Majalaya baik dari tingkat RT, RW hingga Kelurahan. Sehingga secara masif dan menjadi kebiasaan oleh warga untuk membuang sampah rumah tangganya langsung di Sungai Citarum maupun di anak-anak sungainya. Hal tersebut terbilang praktis dan dapat menghilangkan jejak, karena dengan dibuang ke sungai yang air nya mengalir sudah hilang dari pandangan mata, simpel tapi tidak beradab.

SampahKu Bukan SampahMu

Dari titik pembuangan sampah (hulu) yang dilakukan oleh oknum/warga/individu ke sungai yang air nya mengalir, tidak pernah terfikir kalau sampah yang dibuangnya akan mengakibatkan bencana bila terhenti dihilir. Banjir, sumber penyakit akan dirasakan pihak yang bermukim dihilir dan hal yang dilakukan oleh oknum/warga/individu pembuang sampah dianggap sudah biasa dan perbuatannya tidak membawa dampak pertanggung jawaban. Padahal dari sudut pandang manapun, baik kehidupan beragama dan bernegara bila tidak bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan akan mengalami sanksi hukum, minimal ada perasaan berdosa.

Jadi bisa di-indentifikasikan bahwa kebencanaan banjir yang diakibatkan oleh luapan Sungai Citarum disebabkan oleh endapan lumpur atau sedimentasi dan sampah rumah tangga yang menghambat aliran Sungai Citarum serta anak-anak sungainya termasuk saluran irigasi, selokan dan parit kecil yang terdapat di permukiman warga Majalaya.

Dalam perspektip atau cara pandang secara umum tentang kota dolar yang bernama Majalaya, jauh panggang dari api dan tidak sesuai dengan harapan sebagai kota urban yang memiliki kemajuan pesat yang diakibatkan berkembang menjadi kota industri. Tampak dalam realita dilapangan, kita menemukan kota Majalaya yang kumuh, kotor, genangan air ada dimana-mana, debu yang berasal dari jalanan, sanitasi yang buruk serta individu yang sudah mulai tidak ramah membuat sedikit demi sedikit menjadi tempat hunian yang tidak nyaman bagi penduduknya.***(bersambung)

Facebook Comments

Leave a Reply