Dansektor 4 Citarum Harum Beri Sangsi “Hentikan Produksi” pada PT Multitex Sumber Usaha

Bandung Side, Majalaya – Komandan Sektor 4 (Dansektor 4) Kolonel Inf. Asep Nurdin memberi sangsi tegas “Hentikan Produksi” pada PT Multitex Sarana Usaha (PT MSU) pabrik tekstil yang berlokasi diwilayah, jl. Balekambang, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya. Setelah adanya temuan anggota Satgas Sektor 4 Sub Desa Sekamaju, bahwa adanya air limbah yang mengalir dari selokan warga yang berasal dari saluran limbahnya, Selasa (18/2/2020).

Temuan air limbah yang mengalir pada selokan warga pertama kali pada hari Selasa, tanggal 21 Januari 2020 saat patroli susur sungai dan selokan dengan indikasi warna merah jambu. Anggota Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamaju segera mencari sumber kebocoran untuk klarifikasi dan memeriksa saluran-saluran yang berada didalam pabrik PT MSU. Kemudian Satgas Sektor 4 mengambil sampel air limbah yang terdapat pada inlet dan outlet titik koordinal PT MSU berada dan terdapat kecocokan warna, yakni merah jambu atau orange. Setelah dikonfirmasi kepihak yang berwenang pengelola IPAL PT MSU tidak mengakui bahwa air limbah tersebut miliknya. Hal tersebut dikarenakan terdapat saluran outlet yang menjadi satu dengan PT Terus Maju Jaya Perkasa (PT TMP) yang muaranya ke selokan warga, menurut pengelola IPAL.

Saluran yang terdapat rembesan air limbah yang berasal dari dapur cat atau tempat pengolahan warna tekstil PT Multitex Sarana Usaha, Selasa 18/2/2020).

Selanjutnya pada hari Rabu, tanggal 29 Januari 2020 saat dilakukan patroli malam hari, kembali ditemukan air limbah berwarna merah jambu disaluran yang sama saat ditemukan pada tanggal 21 Januari.

Pada hari Kamis, tanggal 6 Februari 2020 ditemukan kembali air limbah berwarna merah darah, Satgas Sektor 4 langsung mengintruksikan kembali untuk berhenti produksi. Tindakan Satgas Sektor 4 segera mengkonfirmasi kembali kepada PT MSU dan melakukan langkah yang sama seperti pada tanggal 21 Januari namun disertai penghentian produksi. Hal tersebut dilakukan, agar upata Satgas Sektor dapat mengetahui dari mana sumber aliran limbah cair itu berasal. Hingga pukul 3.30 WIB menjelang Subuh, air selokan yang terdapat outlet saluran limbah kembali berwarna bening.

Saluran outlet air limbah yang menjadi sengketa antar PT Multitex Sarana Usaha dan PT Teus Maju Jaya Perkasa telah dilokalisir, Selasa 18/2/2020).

Keesokan harinya, pada hari Jum’at, tanggal 7 Februari 2020 kembali Satgas Sektor 4 menemukan aliran limbah diselokan, namun kembali manajemen PT MSU menolak berasal dari saluran limbah yang dimilikinya. Satgas Sektor 4 melakukan intruksi kepada manajemen PT MSU untuk menguras saluran-saluran yang ada didalam pabrik agar dapat mengetahui sumber air limbah berasal dari mana atau adanya retakan-retakan pada saluran selokan sehingga air limbah dapat merembes ke saluran yang diakui oleh pihak manajemen juga saluran warga. Satgas mengintruksikan pihak pemilik pabrik PT MSU untuk menghadap Komandan Sektor 4 (Dansektor 4), Kolonel Inf Asep Nurdin untuk memberikan klarifikasi dan membuat surat pernyataan, tidak membuang air limbah dan menutup saluran-saluran yang mencurigakan untuk dilokalisir dan ditutup.

Saluran atau selokan yang juga digunakan warga dilokalisir karena terdapat rembesan air limbah yang berasal dari dapur cat atau tempat pengelolahan warna tekstil, Selasa (18/2/2020).

Dari temuan terlapor kepada Dansektor 4 Citarum Harum diintruksi kepada Satgas Sektor 4 untuk lebih mengawasi PT MSU dan alhasil, Satgas Selktoer 4 kembali menemukan air limbah berwarna merah jambu saat hari Minggu tanggal 16 Februari 2020 oleh tim patroli malam. Upaya persuasif dari Satgas Sektor 4 yang dipimpin oleh Kolonel Inf. Asep Nurdin meninjau langsung kelapangan untuk mengklarifikasi temuan tersebut pada jam 19.00 WIB dan produksi dihentikan selama 2 hari. Hal tersebut dilakukan ternyata ada rembesan pada retakan saluran pembuangan yang berasal dari dapur cat atau tempat mengelolah warna tekstil, sehingga menjadi jawaban selama ini air limbah berwarna tersebut berasal.

“Dari beberapa temuan-temuan Satgas Sektor 4 pada saluran air limbah PT MSU harusnya menjadi tanggung jawab Pemilik PT MSU untuk segera merespon cepat mencari sumber dari mana air limbah berwarna merah jambu dan merah darah tersebut,”kata Dansektor 4 Kolonel Inf. Asep Nurdin.

Saluran sanitasi yang diperkirakan akan disalah gunakan untuk membuang air limbah telah dilokalisir, Selasa (18/2/2020).

“Upaya manajemen PT MSU juga kurang maksimal dalam mendukung Program Citarum Harum, hal tersebut ditunjukkan dengan aksi menolak bahwa air limbah tersebut bukan dari outlet PT MSU. Karena pada temuan tanggal 16 Februari malam sudah tidak bisa menyangkal lagi bahwa air limbah tersebut bukan dari outlet PT MSU, karena pabrik lain yang berhimpitan tembok yakni PT TMP sudah dari tidak produksi karena libur,”ungkap Kolonel Asep.

“Klarifikasi berupa surat pernyataan dari RT atau RW setempat bahwa saluran selokan yang diinformasikan ole PT MSU adalah memang benar saluran warga yang melintasi pabriknya tidak segera diajukan. Menurut informasi dilapangan, tepatnya disekitar PT MSU bahwa warga sudah lama tidak menggunakan saluran tersebut,”jelas Dansektor 4.

Suasana PT Multitex Sarana Usaha yang becek lantainya disebabkan tetesan air yang berasal dari kain setelah proses cuci, Selasa (18/2/2020).

Dari hasil uji laboratorium, tambah Kolonel Asep, 2 sampel air limbah yang diambil terakhir pada tanggal 16 Februari dari oulet diluar pabrik dan outlet didalam pabrik terdapat parameter yakni, pada outlet diluar pabrik Turbidity:153; TSS;121; Color:+++; pH:7,7; TDS:430; COD:275 sedangkan parameter air baku mutu yang berasal dari outlet didalam pabrik Turbidity:462; TSS:402; Color:+++; pH:8,5; TDS:270 dan COD:699.

“Penghentian produksi yang diintruksikan Satgas dianggap angin lalu oleh pihak manajemen, sehingga dapat disimpulkan bahwa baik Pemilik dan manajemen PT MSU tidak kooperatif dan tidak mendukung Program Citarum Harum,”pungkas Kolonel Inf Asep Nurdin.***

Tinggalkan Balasan