Buku Putih, Limbah Hitam Citarum (jilid 4)

Sebuah Ilustrasi
Biaya Obat Untuk Limbah Cair:
Ilustrasi penggunaan salah satu bahan utama kimia untuk proses pengelolahan limbah:
Bahan PAC, Asumsi: – 1 liter air memerlukan 2 gram PAC dengan harga Rp 7.000,-/kg

Bila air yang digunakan pada 1 mesin pada proses pencelupan hingga 2 kali pembilasan sebanyak 3.000 m3/hari

  • (2 gram x 3.000 m3) x Rp 7.000,-
  • (2 gram x 3.000.000 liter) x Rp 7.000,-
  • (6.000.000 gram) x Rp 7.000,-
  • (6.000 kg) x Rp 7.000,-
  • Rp 42.000.000,-/perhari
    Bila dalam satu bulan penuh proses (30 hari) membutuhkan biaya untuk PAC sebesar:
    Rp 42.000.000/hari x 30 hari = 1.260.000.000,- atau Rp 1,26 milyar.

Bahan Polimer,
Asumsi: – 1 liter air memerlukan 0,01 gr Polimer dengan harga Rp 60.000,-/kg
– Komposisi penggunaan Polimer berbanding 1/2 (setengah) dari penggunaan air dalam proses yang digunakan proses pencelupan.
– Penggunaan Polimer pada mesin belt press slude dengan komposisi 1/2 dari penggunaan air proses pencelupan.

-untuk (0,01 gram x 3.000 m3) x Rp 60.000,-
(0,01 x 3.000.000 liter) x Rp 60.000,-
(30.000 gram) x Rp 60.000,-
30 kg x Rp 60.000,-
Rp. 1.800.000,-

-Polimer yang digunakan pada mesin belt press slude dengan asumsi 1/2 air dari proses pencelupan Rp 1.800.000,- : 2 = Rp Rp 900.000,-

Jadi total penggunaan obat kimia PAC dan Polimer dalam 1 hari untuk proses pengolahan limbah cair pada IPAL, Rp 42.000.000,- + Rp 1.800.000,- + Rp 900.000,- = Rp 44.700.000,-/hari. Dalam 1 bulan (30 hari) akan mengeluarkan biaya Rp 1.341.000.000/bulan atau Rp 1,341 milyar,-

Catatan: Komposisi penggunaan obat untuk proses yang paling ringan dari mulai proses pencelupan kain tidak berwarna ke kain yang berwarna (bukan obat reaktif pewarna). Hal tersebut belum termasuk komposisi obat untuk proses penurunan COD pada bagian IPAL yang bila mengalami fluktuatif naik turunnya parameter COD.

Kolam Koagulasi dan Flokgulasi Limbah Cair

Bila melihat perhitungan biaya pemenuhan obat kimia untuk proses pengelolahan IPAL begitu fantastik dan menggiur bagi oknum yang berkeinginan tarik ulur tanpa penyelesaian permasalahan pencemaran air Sungai Citarum yang kondisi COD nya selalu tinggi yang diakibatkan oleh tidak diurusnya IPAL.

Level Bagian IPAL Sebatas Pegawai Buangan.
Pengolahan dan Pengelolahan IPAL hendaknya juga diperhatikan oleh managemen, baik direktur sebagai top managemen, bagian pemasaran atau sales mencari order agar mengetahui kapasitas mesin dan kapasitas pengelolahan IPAl sebanding.

Top managemen dalam merealisasi pengajuan kebutuhan obat untuk proses pengelolahan limbah cair pada IPAL hendaknya juga memahami tentang tata pengolahan (kelola) dalam pemakaian obat agar tidak terlalu boros atau terlalu berkurang yang menyebabkan COD limbah cair tidak akan pernah bisa terkontrol parameternya. Sehingga tidak ada lagi alasan bagian IPAL untuk tidak menjalankan fungsinya dalam mengelolah IPAL yang menjadi kewajibannya.

Bagi marketing atau sales juga hendaknya berkoordinasi dengan bagian IPAL akan jadwal produksi sebelum proses pekerjaan dijalankan untuk melayani pelanggan. Sebagian besar industri textil tidak ada koordinasinya antara marketing dan bagian IPAL dalam menjalankan proses produksi, sehingga bagian IPAL akan keteteran atau over load dalam persiapan pengadaan obat dan SDM nya. Kondisi tersebut akan membuat tidak terkontrolnya karakter limbah cair dalam proses kelola dari proses pengelolahan baik secara kimia, fisika atau biologi dan bukannya efisiensi malah semakin mengalami kerugian.

Pada proses kelola biologi, bila tidak berhati-hati pada proses pretreatmennya akan yang masih membawa bahan kimia menyebabkan kematian mikroorganisme. Bahkan bila tidak diatur dalam aeropnya yang membutuhkan waktu endap juga akan membuat mikroorganisme tidak mampu mengurai warna atau memecah bahan organik pada limbah karena terlalu banyaknya porsi atau rasio yang akan diselesaikan. Seperti bila kita makan semangkok bakso, tapi kondisi tersebut berubah bila tidak ada waktu tenggang untuk endapan saat kita makan seember bakso, membutuhkan waktu yang lama bahkan bakteri akan kekenyangan dan bisa mati pula. Bahkan microbiologi akan menjadi kanibal bila pemberian nutrisi dan oksigen tidak sesuai komposisi jumlah microbiologi dengan kapasitas limbah cairnya.

Kolam Aerasi

Begitu juga dengan bagian IPAL, hampir seluruh industri textil dalam memenuhi SDM untuk kelola dan pengolahan IPAL nya diisi oleh orang-orang buangan dari pekerja pabrik. Bukan diisi oleh orang yang profesional atau dari akademisi dari jurusan kimia minimalnya. Padahal, level pegawai IPAL bisa disetarakan dengan level manajer yang ada dalam struktur organisasi perusahaan atau pabrik tersebut. Sebagai pengelolah IPAL juga harus sadar bahwa apa yang dikerjakannya merupakan jantungnya perusahaan, bukan sebagai pemasok order obat chemical, keahlian mengelola keuangan atau menjadi ahli negosiasi dalam mengurus perijinan dan lain sebagainya yang menunjukkan peran ganda pada industri tekstil. Apalah artinya investasi yang ditanamkan berapa pun jumlahnya, akan habis percuma bila selalu melanggar membuang limbah cair tanpa dikelola dengan baik sebelum dibuang di Sungai Citarum tanpa dibekali ilmu yang mumpuni.

Selain itu, keberadaan laboratorium bagi sarana pendukung bagian IPAL hampir tidak ada, padahal dengan adanya sarana tersebut perusahaan memiliki nilai tambah pada kualitas produksinya dapat ditingkatkan. Hal tersebut dikarenakan limbah cair yang dihasilkan dari aktifitas produksinya dapat ditangani dengan baik, bahkan bagi perusahaan yang mampu me-recycle limbah cairnya menandakan bahwa perusahaannya lebih efisien dan hasil produksi tekstilnya memiliki kualitas yang baik. Karakter proses produksi dan penggunaan chemical sudah diketahui hingga hasil akhir pada limbah cair sudah bisa diantisipasi dan terukur dalam menggunakan obat kimia atau chemical yang digunakan.

Bagi penanggung jawab IPAL, bukan hanya ahli dalam memberi chemical dengan mengolah namun ada tahapan selanjutnya yakni kemampuan untuk mengelolah IPAL dengan ilmu managemen, termasuk dapat membuat laporan secara administrasi segala aktifitasnya. Kesalahan dalam mengola IPAL dapat dipertanggung jawabkan dengan adanya catatan-catatan harian yang dikerjakan sehingga bila dihasil akhir pada outlet masih mengalami hasil yang tidak sesuai baku mutu dapat diurut kebelakang penyebabnya.

Kolam Ekualisasi

Bagian IPAL dapat berkoordinasi dengan bagian produksi sebelum melakukan aktifitasnya. Dengan berkoordinasi, bagian IPAL dapat memutuskan melanjutkan pekerjaan atau tidak, hal tersebut dikarenakan bagian IPAL dapat mengetahui kapasitas kelola IPALnya. Selain itu, bagi bagian IPAL juga akan mempersiapkan alat ukur yang digunakan agar tetap memonitor parameter baku mutu.

Adapun peralatan yang kemungkinan ada pada bagian IPAL yang dalam proses Kimia adanya alat ukur seperti DO (Dissolve Oxygen)meter digunakan mengukur kadar oksigen dalam air; CO2 meter untuk mengukur kadar karbondioksida dalam kualitas air; pH meter untuk mengetahui kadar keasaman atau kebasahan pada air; Kertas pH Indikator atau disebut pH Strips Paper, atau Indikator Universal sama seperti pH Meter, namun hanya didukung dengan 4 garis warna, yaitu kuning, hijau, jingga dan jingga sehingga hasil parameter hingga sampai 14; Titrasi untuk mengukur kadar konsentrasi alkalinitas pada air.

Pada proses Fisika dikenal adanya alat ukur laboratorium seperti Current Meter mengukur arus dan debit air; Salinometer untuk mengukur salinitas air atau tingkat keasinan yang terlarut atau tingkat kadar garam pada air; Termometer Air untuk mengukur suhu air berdasarkan termometrik, selain itu dapat juga digunakan untuk mengukur mengukur suhu tubuh, suhu ruang, hingga suhu alat pemanggang dengan nama yang berbeda-beda; Turbidity Meter untuk mengukur tingkat kekeruhan air yang terjadi karena adanya kandungan zat organik yang berasal dari hewan, tanaman yang mengalami pelapukan atau zat organik yang berasal dari logam dan batu-batuan yang mengalami pelapukan.

Uji Laboratorium yang dilakukan pegawai IPAL

Sedangkan alat ukur yang perlu disediakan oleh laboratorium pada IPAL proses Biologi diantaranya, Bogorov Tray adalah mikroskop binakuler dengan 40 kali pembesaran untuk mengamati zooplankton dalam air; Haemocytometer adalah microskop dengan 100 kali pembesaran untuk mengamati plankton mikroskopik dalam air; Plankton Net yakni sebuah jaring yang digunakan untuk menyaring plankton dalam air dengan ukuran-ukuran tertentu menyesuaikan size plankton yang diinginkan; Sedhwick Rafter Cell merupakan microskop binokuler dengan 100 kali pembesaran yang digunakan untuk mengamati phytoplankton dan mikrozooplankton dalam air.

Begitu banyak peralatan yang musti dipersiapkan agar bagian IPAL dapat bekerja dengan maksimal tanpa rekayasa dan secara history dapat tercatat diruang laboratoriumnya sendiri saat melakukan monitor dan melakukan jartest dari chemical atau obat kimia yang digunakan. Sehingga bila ada kejadian yang membuat limbah cair tidak sesuai baku mutu saat diambil sampel hasil buangan limbah cair pada outlet dapat diketahui penyebabnya mengapa angka parameter begitu tinggi. Dan bila ada pihak diluar pabrik yang menyalagunakan pengambilan sampel yang ada di outlet bisa dibandingkan dengan catatan yang dilakukan oleh pengelolah IPAL. Sehingga parameter baku mutu dapat jelas termonitor angka parameternya dengan stabil meskipun mengalami fluktuatif yang disebabkan oleh cuaca atau faktor lain diluar kemampuan manusia.

Layaknya rumah tangga, yang dapat memperbaiki atau mengelolah IPAL adalah orang rumahnya sendiri, BUKAN tetangga atau orang lain. Jadi dengan maraknya penawaran obat kimia atau chemical, konsultan atau apapun yang sanggup memperbaiki kualitas limbah cair yang memiliki parameter yakni BOD, COD, TSS, Fenol Total, Krom Total (Cr), Amonia Total (NH3-N), Sulfida (S), Minyak dan Lemak, pH, Debit Limbah maksimum (m3 ton produk) hasilnya, limbah tetep diluar angka parameter, upayakan dapat diatasi sendiri dengan mandiri.*** (bersambung…)

Facebook Comments

Leave a Reply