Bandung Side, Majalaya – Kebutuhan air bersih merupakan hal yang paling penting dan fatal bagi kehidupan kita. Dimana setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk aktifitas minum, memasak, mandi, mencuci dan lain sebagainya. Begitu juga yang dibutuhkan oleh 814 jiwa warga RW 04 Desa Sukamukti, Kecamatan Majalaya, kualitas hidupnya tergantung dari kualitas air yang dikonsumsi dan yang digunakanya.
Bahkan kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi. Kebutuhan akan air bersih menjadi prioritas utama, sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat, serta pembuangan air limbah industri dan domestik yang setiap saat langsung dialirkan pada saluran sungai akan merusak ekologi sanitasi. Menjadi lingkaran setan bila sanitasi yang rusak diakibatkan sungai yang tercemar oleh limbah industri dan domestik, serta menumpuknya sampah disungai mengakibatkan pendangkalan aliran sungai, aliran sungainya tersumbat oleh sampah, air resapannya yang mengalir disumur warga menjadi tercemar, sehingga pada musim penghujan datang banjir dan menimbulkan penyakit.

Berawal dari ketidak-seimbangan kebutuhan MCK Umum dengan jumlah jiwa yang memadati RW 04 Desa Sukamukti, Satgas Sektor 4 Citarum Harum menjadi mediasi dibangunnya sarana WC Umum dilahan pabrik tekstil PT Sinar Laju. Berdirilah 3 unit WC Umum untuk pria dan 3 unit WC Umum untuk wanita yang berkedudukan diwilayah RT 03, RW 04 Desa Sukamukti.
Akan tetapi tidak sesederhana itu, sebelumnya warga sudah memiliki WC Umum 2 unit WC Umum untuk pria dan wanita diwilayah RT 01. Sedangkan kebutuhan air bersihnya disalurkan melalui pipa dari pabrik tekstil PT Sinar Laju. Beberapa waktu kualitas air yang berasal dari PT Sinar Laju menurun tidak layak pakai, keruh dan berbau. Hal tersebut diduga dikarenakan air yang mengalir kewarga tercemar oleh limbah, sehingga warga kadang tidak bisa memakai air tersebut untuk digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.
Upaya Satgas Sektor 4 Citarum Harum kembali menjadi mediasi warga kepada pemerintahan Desa Sukamukti agar dapatnya dibuatkan sumur bor sebagai sarana memperoleh air bersih. Gayung bersambut, Kepala Desa Sukamukti Deni Sutisna menganggarkan biaya pembuatan sumur bor dalam program anggaran dana desa yang oleh pemerintah pusat bergulir melalui Kecamatan Majalaya.

“Pembuatan sumur bor dengan kedalaman 60 meter menelan biaya sekitar Rp 54.639.000,- tersebut sudah dikerjakan saat bulan puasa kemaren,”kata Kepala Urusan Keuangan Desa Sukamukti, Beni Kurniawan, Jumat (14/6/2019). Agak sedikit molor dalam pengerjaannya, lanjut Beni, dikarenakan kondisi tanah yang berbatu keras dan tertunda karena libur lebaran.
“Insya Allah di Hari Senin ini (*red.17/6/2019) akan mulai dikerjakan lagi dan sesegera mungkin warga RW 4 akan memiliki air bersih dan layak digunakan,”ujar Beni.
Komandan Kompi (Danki) Sektor 4 Citarum Harum, Lettu Rusnoto saat dikonfirmasi Bandung Side mengatakan,”Ada kendala saat pengeboran sudah mencapai 40 meter, yakni sudah menyentuh batu keras. Sehingga bor yang digunakan tertahan mengakibatkan mesinnya mengalami macet. Namun sudah dikondisikan oleh Sekretaris Desa Sukamukti, Bapak deni Muhamad kepada pekerjanya akan dilanjutkan di Hari Senin”.

“Semoga dalam waktu dekat, usai pemasangan casing pipa, instalasi pipa dari torn menuju WC Umum dapat segera selesai dan warga RW 4 dapat menikmati air bersih. Karena menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, banyak orang meninggal disebabkan oleh air yang tercemar setiap tahunnya dibandingkan dengan akibat segala bentuk kekerasan, termasuk perang,”ujar Lettu Rusnoto.
Dilokasi yang berbeda melalui ponsel, Bandung Side menghubungi Komandan Sektor (Dansektor) 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso dan mengatakan,”Pembuatan sumur bor merupakan upaya yang paling tepat untuk mendapatkan kualitas air bersih untuk warga RW 4 Desa Sukamukti. Hal tersebut merupakan antisipasi resapan air Sungai Citarum yang sudah lama terpapar limbah cair industri dan limbah domestik yang sudah bertahun-tahun mencemari”.
“Secara teknis air tanah lapisan bawah akan memiliki kualitas lebih baik sebab sudah jauh dari resiko pencemaran lingkungan. Tahapan untuk mendapatkan kualitas air yang baik dapat dilihat pada struktur tanah saat dilakukan pengeboran, yakni berlumpur, berpasir, berbatu dan cadas,”jelas Kolonel Kustomo.

“Untuk mengatasi efek resapan dari sumber air permukaan, lubang sumur bor akan dipasang pipa casing hingga melewati batas lapisan tanah berlumpur. Dengan begitu akan meminimalisir tingkat pencemaran dan tentunya air yang diperoleh akan jauh lebih baik dan layak sebagai sumber air untuk digunakan dan dikonsumsi,”papar Kolonel Kustomo kembali.
“Mengapa kita butuh air bersih yang berkualitas ? Kita ketahui bahwa tiga per empat isi bumi adalah air, sama seperti manusia didalam tubuhnya 55% – 78% terdiri dari air. Sehingga, begitu pentingnya air bagi kehidupan, maka manusia hanya bisa bertahan paling lama lima hari tanpa air. Dalam skala yang lebih luas akan manfaatnya, air bersih yang berkaitan dengan kesehatan sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi dimasyarakat,”pungkas Kolonel Kustomo.***