Pentingnya Etika Dalam Pembelajaran Daring

pentingnya beretika

Bandung Side, Kabupaten Sukabumi – Pentingnya etika di dunia nyata untuk beretika tapi di dunia maya rasanya sulit untuk mengontrol perilaku karena kebebasan yang dirasakan atau didapatkan.

Survei Microsof menyebut Indonesia ada peringkat keempat di dunia dan pertama di Asia Tenggara yang tidak sopan.

Ini memang menjadi pekerjaan rumah kita bersama pentingnya beretika, bagaimana saling mengingatkan negara Indonesia agar sesuai dengan apa yang terjadi di luar digital, kita bangsa yang sopan.

Saat belajar online banyak contoh etika yang kurang baik yang dilakukan para siswa, padahal mereka sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua atau guru.

Fiqri Hasan, relawan TIK Kabupaten Sukabumi menjelaskan, memang terkesan lucu misalnya seperti mereka mengetik di pesan pada kelas Zoom, “Pak izin off cam karena saya lagi tidak mood” atau “Bu, izin keluar dulu, kucing saya mau dibunuh tetangga”.

Sekilas lucu tapi sebenarnya itu sangat tidak etis untuk dibicarakan dalam konteks kegiatan sekolah.

Padahal siswa-siswa ini juga harus memiliki etika kepada guru mereka seperti apa pentingnya etika dalam proses pembelajaran secara daring.

Selalu memperkenalkan dan sebut identitas saat akan bertanya atau melakukan interupsi.

Ucapkan terima kasih dan maaf, ini memang dua kata ajaib yang memang perlu kita sampaikan saat kita bertutur kata berkomunikasi dengan orang lain.

“Kata-kata ini juga sangat ampuh, saat kita ingin menghubungi dosen atau guru bahkan kepada siapapun kita jangan segan itu untuk menyampaikan,” kata Fiqri Hasan.

“Diawali dengan kata maaf dan diakhiri dengan terima kasih,” ungkap Fiqri Hasan saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (06/10/2021) pagi.

Berikutnya, gunakan bahasa yang baik dan sopan karena memang apa yang kita ucapkan, apa yang kita sampaikan dalam bentuk kata maupun ucapan ini sangat berdampak pentingnya etika kepada orang yang menerima informasi.

Jika kita ingin dihargai maka hargailah orang lain yaitu dengan menggunakan bahasa yang baik dan sopan.

Jika ingin menggunakan bahasa Indonesia gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika ingin menggunakan bahasa daerah nih pakai bahas yang lebih halus.

Misalnya, dalam bahasa Sunda maka gunakanlah bahasa Sunda yang halus, seperti kita menggunakan bahasa dari yang lebih muda ke yang lebih tua.

Perhatikan waktu saat menghubungi guru itu, ini penting saat kita menghubungi seseorang.

Perhatikanlah waktunya jangan sampai kita menghubungi guru atau dosen di waktu yang kurang tepat misalkan pukul 12 malam di luar jam kerja atau saat jam istirahat.

“Mungkin kita baru ingat sekarang dan besok takut lupa, mungkin bisa kita sisipkan, keterangan “maaf mengganggu bisa Anda balas esok hari”. Itu lebih sopan ketimbang tidak ada basa basinya,” jelas Fiqri Hasan.

Gunakan pakaian yang rapi dan sopan ini mungkin etika yang harus diterapkan saat pembelajaran sistem telekonferensi menggunakan Zoom atau menggunakan Google Meet.

Kita gunakanlah pakaian yang rapi dan sopan tidak harus bagus tapi minimal rapi dan sopan. Dengan pakaian seorang bisa menilai kita serius atau menyepelekannya.

Kemudian yang tidak kalah penting, memastikan speaker suara off, jangan sampai mengganggu pembelajaran akibat suara bising dari kita.

Menyalakan video dan fokus menyimak, saat pembelajaran online yang baik memang video harus dinyalakan agar guru dapat berinteraksi.

Jika dimatikan ada kemungkinan siswa tidak fokus dan demi menghargai guru yang sedang menjelaskan pelajaran.

Jangan lupa juga untuk nama asli yang harus dicantumkan pada layar, untuk memudahkan guru atau dosen saat memanggil untuk berdiskusi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (06/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Tim Hendrawan (Creative Director), Gabriella Jacqueline (Brand Activation Lead at Startup Agritech and Entrepreneur), Yoseph Hendrik (Dosen Sekolah Tinggi Tarakanita), dan Almira Vania sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan