Bandung Side, Kota Bandung – Manfaatkan aplikasi Learning Management System (LMS) saat mayoritas sekolah di Indonesia memprioritaskan pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat pandemi virus Covid-19.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jumlahnya mencapai 78% dari total 183.566 satuan pendidikan yang melapor. Sementara 22% sekolah sudah menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Berdasarkan wilayahnya 94% satuan pendidikan di zona merah Covid-19 masih menerapkan PJJ persentasenya makin rendah seiring turunnya kerawanan Covid-19 di suatu wilayah.
PJJ ini nampaknya akan permanen dilakukan oleh perguruan tinggi sementara untuk PTM segera dilakukan sekolah mulai jenjang sekolah dasar sampai menengah atas
Untuk mendukung pembelajaran jarak jauh, biasanya guru manfaatkan aplikasi atau Learning Management System (LMS) untuk pemanfaatan teknologinya.
Galih seorang dosen sekaligus CTO Nusaedu menjelaskan, LMS merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk kegiatan secara online seperti administrasi, dokumentasi, laporan kegiatan dan kegiatan belajar mengajar berbasis digital.
Contoh dengan manfaatkan aplikasi LMS yang sering digunakan Google classroom yang kini sudah ditetapkan seluruh sekolah SMP dan SMA. Kemudian ada Edmodo, Moodle, Schoology dan Docebo.
Untuk Google Classroom, kita bisa membuka dulu Google Chrome atau Firefox dan sebagainya kemudian masuk ke Google Drive.
Pilih google add box yang berada di sebelah kanan atas. Di sana banyak pilihan aplikasi atau layanan dari Google kita pilih classroom dengan gambar papan tulis.
“Ketika di klik nanti muncul di layar kelas-kelas mana saja yang pernah kita ikuti. Kita bisa sebagai siswa ataupun sebagai pengajar,” kata Galih.
Untuk gabung ke kelas bisa ada tombol sebelah kanan atas ini kemudian ini pilihannya ada dua gabung ke kelas dan membuat kelas tinggal pilihan yang kedua buat kelas,” jelas Galih saat di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021).
Ada menu tab yang dapat dipilih seperti forum, kita bisa masuk di forum antara peserta didik dengan pengajar seperti media sosialnya tapi berbasis pendidikan.
Tab interaksi berupa komentar, ada tab tugas kelas, guru dapat membuat beberapa materi, bahan ajaran juga kuis soal dan berbagai caranya di dalam tab ini.
Tab lainnya anggota, kita dapat melihat siapa saja yang tergabung dalam kelas, terbagi dua, ada guru dan siswa. Guru nanti dapat dilihat siapa saja bisa diedit tambah baru dan juga siswa bisa siapa aja dan juga bisa ditambahkan.
Jika sebagai pengajar ada tab tambahan yaitu nilai yang dikhususkan untuk mengumpulkan nilai-nilai siswa.
Galih melanjutkan, ke depannya ada model yang namanya blended learning atau pembelajaran campuran yaitu dengan memanfaatkan dua objek antara human atau bertemu langsung pengajar atau PJJ dan pemanfaatan teknologi memiliki kelebihannya masing-masing dan ini sangat bagus jika digabungkan.
“Kelebihan dari pelajaran tatap muka, siswa dapat diberi motivasi secara langsung oleh guru, secara personalisasi juga anak akan lebih bisa dinilai olehguru. Mendapat feedback secara langsung,” jelas Galih.
Jika menggunakan teknologi fleksibel dapat belajar di manapun, tracking dan kontrol yang dapat jelas dilihat karena semua catatan ada di LMS, melatih self-study jadi lebih disiplin mengerjakan dan dapat menjangkau lebih luas.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021) juga menghadirkan pembicara Littani Watimena (Brand & Communication Strategist), Theo Derick (Praktisi Marketing Digital), Matahari Timoer (Koordinator Literasi Digital ICT Watch), dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***