Cegah Pornografi, Perlu Kenalkan Internet Safety

Cegah Pornografi, Orang Tua Perlu Kenalkan Internet Safety

Bandung Side, Kabupaten Sumedang – Cegah pornografi pada kemajuan teknologi dan adanya pandemi covid-19 menyebabkan kita harus melakukan aktivitas dengan internet safety.

Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan penggunaan internet pada anak. Nandya Satyaguna, Medical Doctor, mengatakan bahwa penggunaan internet pada anak ini dapat berdampak positif dan negatif.

Dampak negatif internet pada anak ialah akses informasi yang tidak terbatas dan tidak sesuai untuk usia anak, seperti berita kekerasan dan pornografi, bocornya informasi pribadi, cyber bullying, dan masalah kesehatan.

Pornografi merupakan sketsa/ilustrasi/foto/tulisan/suara/animasi dan bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksial yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pemerintah telah mengatur masalah pornografi dalam UU No. 44 tahun 2008.

“Pada tahun 2018, Kementerian Kesehatan membuat skrining mengenai adiksi pornografi pada siswa SMP & SMA dengan 1314 responden di kota besar. Ternyata 98,3% terpapar pornografi,” ujar Nandya dalam Webinar Literasi Digital di Sumedang, Jawa Barat, Senin (19/7/2021).

Nandya menjelaskan, kecanduan pornografi dibagi menjadi tujuh tingkat untuk mengetahui tingkat kesulitan penyembuhannya.

Pertama, paparan 1-2 kali/tahun. Kedua, kurang dari 6 kali dan sudah ada fantasi. Ketiga, 1 bulan sekali. Keempat, beberapa kali per bulan.

Kelima, setiap minggu. Keenam, setiap hari dan sudah mengganggu keseharian. Ketujuh, merasa tidak berdaya dan putus asa jika tidak melihat pornografi.

Nadya mengatakan, tingkatan pertama dan kedua masih dapat disembuhhkan dengan komunikasi. Sebaliknya, tingkatan selanjutnya harus disembuhkan dengan bantuan profesional.

“Otak kita dibagi menjadi tiga, otak kecil, besar, dan sedang. Otak mengendalikan hal yang kita sadari dan tidak sadari. Pornografi mempengaruhi fungsi pre frontal cortex pada otak,” ungkap Nadya.

Pornografi menghasilkan hormon dopamine atau kesenangan pada otak. Akan tetapi, hormon dopamine yang terlalu banyak akan menekan fungsi pre frontal cortex.

Jika pre frontal cortex terganggu, yang akan terjadi ialah perilaku mudah berbohong, menurunnya konsep diri, sulit berkonsentrasi, sulit berpikir kritis, gangguang bersosialisasi,bahkan depresi.

Apabila tidak ditangani dengan cepat, mengkhawatirkan terjadinya penyimpangan seksual dan seks bebas.

Peran orang tua dalam menjaga anak dari pornografi sangat penting, Pertama, orang tua dapat membangun hubungan dan kepercayaan yang baik dengan anak, caranya dapat dilakukan dengan komunikasi efektif secara dua arah.

Di mana masing-masing bisa menyampaikan pendapatnya. Peran kedua, memberikan pendidikan seksual pada anak sesuai dengan usianya.

Ketiga, memperkenalkan internet safety pada anak dengan memberikan pemahaman tentang dampak positif dan negatif penggunaan internet.

Keempat, menggunakan parental control untuk mengatur durasi, lokasi, akses aplikasi, dan sebagainya pada gadget yang digunakan oleh anak.

Apabila anak terpapar konten pornografi, hal yang dapat dilakukan orang tua dalam cegah pornografi di antaranya, melakukan pendekatan kepada anak, memahami keingintahuian anak.

Selanjutnya memberikan edukasi seksual kepada anak guna cegah pornografi, menekankan nilai yang sesuai dengan agama dan norma kepada anak, membuka diri untuk berdiskusi dengan anak, dan tidak ragu untuk meminta bantuan profesional, seperti psikolog.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Sumedang, Jawa Barat, Senin (19/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Monica Eveline (Digital Strategist Diana Bakery), OPIK (Ketua Umum PP Forum TBM/Founder Komunitas Ngejah), Diah Gusrayani (Dosen UPI Pakar Parenting), dan Riri Damayanti.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan yang menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan