Bandung Side, jl. PHH Mustofa, Bandung – MASATA, Masyarakat Sadar Wisata menggelar Rapat Kerja Nasional I (Rakernas I) sekaligus menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang menitikberatkan pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri.
Rakernas I dan FGD mengusung tema ” Pengembangan Desa Wisata Menuju 205 Desa Mandiri Tahun 2024′, di Prime Park Hotel, jl. PHH. Mustofa No. 47/57 Kota Bandung, bertujuan untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan bagi pelaku, pemerhati dan pecinta pariwisata baik di pemerintahan (kementrian/lembaga) maupun swasta (asosiasi/organisasi/perkumpulan).
Ketua Umum DPP MASATA, Panca Rudolf Sarungu mengatakan bahwa dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi dalam membantu pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata kelas dunia.

“MASATA berusaha menyambungkan kepentingan pemerintah mewujudkan pariwisata Indonesia menjadi kelas dunia yang didukung atraksi yang menarik, aksesibilitas yang mudah dan amenitas yang berkualitas,” kata Panca.
Titik berat pada pengembangan 205 Desa Wisata Mandiri sebagai program dalam menggerakkan perekonomian desa yang dapat berasal dari dana desa sehingga nantinya desa wisata tersebut dapat dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa, lanjut Panca.
“Desa Wisata sebagai bagian dari integral pembangunan Indonesia, sehingga kepariwisataan dapat mendorong pemerataan kesempatan berusaha, memberi manfaat, keadilan dan kesetaraan,” ungkap Panca.
“Kemajuan pariwisata suatu daerah bisa menjadi tolak ukur keberhasilan kepala pemerintah daerah dalam memajukan perekonomian wilayahnya,” jelas Panca.
“MASATA berharap agar kepariwisataan mampu menjamin keterpaduan antar-sektor, antar-aktor dan antar-daerah selaku pemangku kepentingan dalam bersinergitas dan berkolaborasi antar-pihak yang menjaga keharmonisan hubungan pusat dengan daerah yang memiliki destinasi Desa Wisata Mandiri,” jelas Panca Rudolf Sarungu.

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda mengatakan dalam sambutannya bahwa sektor pariwisata sebagai backbone ekonomi Indonesia sangat terdampak dimasa pandemi Covid-19.
“Sektor pariwisata membutuhkan kebijakan afirmasi terkait prioritas pemerintah dalam memprogramkan vaksinasi pada wisatawan. Pemberian vaksin kepada wisatawan menjadi satu paket vaksin sehingga menjadi wisata yang menarik perhatian wisatawan,” kata Syaiful Huda.
Desa Wisata menjadi penyangga destinasi wisata utama atau menjadi alternatif tujuan wisata diluar destinasi wisata super prioritas dan 10 wisata prioritas, lanjut Syaiful.
“Pertumbuhan ekonomi baru didesa akan terdorong dengan adanya Desa wisata, karena masyarakat akan terlibat sehingga tumbuh juga pendapatan baru bagi masyarakat desa,” pungkas Syaiful.
Rakernas I MASATA yang dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio secara daring menyambut baik dan bergembira dengan menggeliatnya pariwisata dimasa pandemi Covid-19.

“Kebangkitan pariwisata Indonesia dibeberapa destinasi menunjukkan 80% booking kamar hotel di Bali pada Bulan Desember 2020. Begitu juga didestinasi lain seperti Labuan Bajo juga mengalami peningkatan,” kata Wishnutama.
“Kedepan, pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata yang dapat menumhkan pengalaman yang unik. Desa Wisata menjadi bagian dari Quality Tourism menawarkan pengalaman yang bebeda dan unik,” jelas Wishnutama.
Pengembangan amenitas dan atraksi yang melibatkan partisipasi masyarakat melalui pengembangan desa wisata sevcara terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sehingga pemerintahan desa didorong agar mengoptimalkan pemanfaatan dana desa, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditargetkan mewujudkan 205 wisata desa mandiri.

“Potensinya sangat luar biasa. Namun, jangan ikut-ikutan dengan destinasi wisata desa ditempat lain. Harus bisa menampilkan potensi dan memiliki konsep unik yang berbeda tidak meninggalkan protokol kesehatan berbasis CHSE,” pungkas Wishnutama.
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Support Pariwisata Ciptakan Aplikasi MASATA
Rakernas I MASATA dan FGD setelah dibuka oleh Menparekraf, Wishnutama juga dilakukan peresmian peluncuran Aplikasi MASATA yang disupport oleh PT Telkom Indonesia, Tbk.
Menurut Dedy, ST., General Manager Divisi Business Service (HBS), PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk., mengatakan bahwa Telkom yang telah bertransformasi menjadi perusahaan digital telecommunication company telah menajamkan visi dan misi nya dalam mensejahterakan bangsa dan berdaya saing.
“Telkom telah banyak memberi support kepada masyarakat akan produk digital telco
baik dalam mempercepat pembangunan Infrastruktur, maupun platform digital cerdas yang berkelanjutan,” kata Dedy.
“Salah satu produk digital yang sudah dugunakan oleh masyarakat adalah aplikasi tiket KAI yang support adalah Telkom, sedangkan Desa Wisata ada aplikasi ewarga, UMM UKM dgn point of sales atau Bonum Pos, Idhotel, sedangkan Aplikasi MASATA agar setiap desa bisa berkomunikasi antar komunitas yang didesain menggunakan QR Code,” terang Dedy.

“Aplikasi MASATA dapat digunakan oleh komunitas yang dapat digunakan sebagai payment, transaksional sesama membernya yang betul-betul case plus,” kata Dedy
Aplikasi MASATA juga berisi fitur yang dapat digunakan pembayaran dengan mesin digital, tinggal tapping transaksi menginap dihotel maupun pembayaran terselesaikan dengan praktis.
“Kami berharap Aplikasi MASATA diberikan kepada membernya guna memajukan Desa Wisata , khususnya obyek wisata yang memiliki tempat penginapan. Hal tersebut membuat booking engine yang dimiliki hotel dapat langsung melakukan pembayaran tanpa melalui OTA.
“Aplikasi MASATA juga memiliki dua kepentingan, yakni dapat digunakan link dengan server engine hotel dan bisa link kepada transaksi pembayaran melalui OTA,” jelas Dedy.
“Jaringan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Wisata dapat menggunakan Indihome, wifi-id, telkomsel 4G dan satelit yakni Manggo Sky. Sehingga tidak mengkhawatirkan untuk tidak mendapatkan jaringan internet karena sudah dapat menjangkau semua wilayah di Indonesia,” pungkas Dedy.

Rakernas I MASATA dihadiri narasumber diantaranya Asisten Deputi IV Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Saleh; Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Dwi Rudi Hartoyo.
Selain itu, hadir Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan diwakili oleh Hartati Maya Khrisna; Executive Vice Presiden Divisi Business Service-Telkom Indonesia, Syaifudin; Chief of Corporate Affairs PT Astra Internasional Tbk., Riza Deliansyah dan Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi), Andi Yuwono.
“Kami merasa bangga dengan dipilih DPD Jawa Barat sebagai tuan rumah dalam menyelenggarakan Rakernas I MASATA sekaligus FGD Desa Wisata berkelanjutan. Hal tersebut juga menjadi pertimbangan panitia dikarenakan Jawa Barat memiliki potensi Desa Wisata yang luar biasa,” kata Berry Oroh, Ketua DPD MASATA Jawa Barat.
“Sedangkan Kota Bandung, yang sudah dikenal sebagai Kota Kreatif bisa menjadi benchmark atau tolak ukur member DPD atau DOC MASATA lainnya,” pungkas Berry.***