Aksi Generasi Iklim Suarakan Perubahan Iklim Melalui Film Dokumenter

Aksi Generasi Iklim

Bandung Side, Gudang Selatan – Aksi Generasi Iklim dalam kelompok yang terhimpun dalam Child campaigner suarakan perubahan iklim melalui karya film dokumenter di Hafa Warehouse, jl. Gudang Selatan, Bandung, Minggu 11/9/2022.

Puluhan anak dari wilayah Jawa Barat yang tergabung dalam kelompok Child Campaigner/ Juru Kampanye Anak Save The Children Indonesia menginisiasi Festival Film Dokumenter terkait dampak krisis iklim dan upaya adaptasi yang dilakukan oleh anak, orang muda, dan keluarga.

Festival Film Dokumenter ini merupakan bagian dari Kampanye Aksi Generasi Iklim Save the Children Indonesia. Tercatat sebanyak 47 anak yang terbagi dalam 8 kelompok mengikuti rangkaian pembuatan film sejak Agustus lalu.

Aktifitas Child Champaigner yang dimulai dengan workshop film dokumenter pendek, tiga sesi mentoring secara daring, sampai akhirnya film yang dibuat oleh anak-anak ini ditayangkan dan ditonton masyarakat luas sebagai bentuk partisipasi anak untuk menyuarakan dampak krisis iklim yang dialami dan dirasakan oleh anak-anak dan keluarga.

“Kami memilih menyuarakan fakta yang terjadi tentang dampak krisis iklim pada anak dengan menuangkannya dalam sebuah film karena perfilman Indonesia sedang naik daun dan menjadi komoditas utama di dunia digital,” ujar Rahman/ 18 tahun/ Ketua Panitia sekaligus bagian dari Child Campaigner Save the Children Indonesia di Jawa Barat.

Aksi Generasi Iklim
Diskusi tentang Perubahan Iklim dalam Aksi Generasi Iklim agar anak-anak merespon krisis iklim yang terjadi saat ini.

“Film ini akan disebarluaskan melalui media sosial sehingga masyarakat mendapatkan literasi iklim dengan menonton film yang tidak membosankan dan mengedepankan fakta yang sehari-hari dialami oleh kita semua,” tegas Rahman.

Laporan global Save the Children “Born into the Climate Crisis” yang dirilis pada September 2021 menjelaskan bahwa krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini.

Dalam laporannya, anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 akan menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai, 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan, serta 3 kali lebih banyak gagal panen.

Lebih buruk lagi, dampak krisis iklim ini membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.

Di Jawa Barat, catatan statistik tahun 2022 menyebutkan, jumlah kejadian banjir mencapai 247 pada tahun 2021. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia 20 orang, 282 mengalami luka dan 1.440.252 orang terdampak dan mengungsi termasuk anak-anak.

Dewi Sri Sumanah
Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager, Save the Children Indonesia, ” Festival Film Dokumenter ini memiliki tujuan sebagai respons atas krisis iklim yang mengancam kehidupan anak-anak.

Jumlah kelurahan/desa terdampak banjir dari seluruh kabupaten/ kota di Jawa Barat bertambah secara signifikan sejak 2019 hingga 2021.

“Riset Save the Children dan studi lain yang dilakukan oleh berbagai pihak sangat jelas menuturkan bahwa saat ini kita tengah menghadapi krisis iklim yang genting,” kata Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager, Save the Children Indonesia.

Literasi iklim termasuk bagaimana cara beradaptasi menjadi hal yang sangat penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat terutama keluarga yang terdampak langsung dari krisis iklim ini.

“Inisiasi Child Campaigner di Jawa Barat sangat menjawab kebutuhan gap informasi tentang adaptasi perubahan iklim,” jelas Dewi Sri Sumanah .

Delapan kelompok anak dari lima kota/ kabupaten (Cimahi, Bandung, Sumedang, Bandung Barat, Kota Bandung) mendokumentasikan krisis iklim yang dialami sehari-hari dilingkungan terdekat.

Pemutaran Filk Dokumenter tentang Perubahan Iklim
Pemutaran Film Dokumenter saat pentas Aksi Generasi Iklim

Krisis iklim yang dijumpai di lingkungan terdekat mulai dari temperatur suhu yang meningkat di Kota Bandung, polusi udara di Cimahi, sulitnya akses air bersih dan penumpukan sampah di Sungai Cidurian dan Sungai Cijawura, sampai krisis iklim yang dialami oleh anak-anak petani di Pengalengan dan Banjaran.

Pada kegiatan Festival Aksi Generasi Iklim di putar film karya Child Campaigner diantaranya “Hirup Sesak” karya Forum Anak Kota Cimahi, “Bandung Abu-Abu” karya Forum Anak Kota Bandung dan “Bumi Suaka” karya Child Campaigner Jawa Barat.

Film karya Child Campaigner ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar, serta harapan terhadap langkah-langkah strategis dan praktis yang dapat segera dilakukan oleh pemerintah setempat.

“Topik polusi udara di Kota Cimahi ini masih sering diabaikan oleh masyarakat padahal dampaknya dapat dirasakan secara langsung. Polusi juga masih berkaitan erat dengan krisis iklim karena bisa menjadi efek rumah kaca,” ujar Hana, peserta Festival Film Dokumenter.

“Melalui film ini kami mencoba untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kualitas udara terutama untuk anak-anak yang berpotensi besar untuk merasakan dampak dari polusi udara saat ini dan di masa yang akan datang nanti,” tegas Hana yang juga sebagai Perwakilan Forum Anak Kota Cimahi.

Filmmaker
Filmmaker yang membuat karya tentang perubahan iklim dalam Festival Film Dokumenter mendapatkan penghargaan dari Save The Children

Tak hanya film dokumenter, Child Campaigner Save the Children Indonesia Provinsi Jawa Barat juga menampilkan fashion show dengan tema Reuse and Recycle Sampah.

Anak-anak dengan bangga menggunakan pakaian yang dibuat dari daur ulang barang bekas dan sampah seperti sampah plastik, pembungkus mie instan, hingga karung beras nilon.

Karya membanggakan buah tangan Ranti yang sekarang duduk di kelas 3 SMA ini, membuat kagum audiens panggung Aksi Generasi Iklim.

Sebanyak 6 buah baju rompi serta asesoris topi dan tas dibuat dalam waktu 3 minggu menghasilkan karya yang trendi karena model busananya simpel.

“Baju rompi serta asesoris topi dan tas dibuat dalam waktu 3 minggu, rasanya lama sekali. Bahan-bahan yang dikumpulkan dari barang bekas dan sampah tetap harus melalui seleksi untuk menyesuaikan corak pada model baju rompinya,” kata Ranti tersipu.

Fashion Show
FashionShow karya Child Campaigner Ranti pemilik brand RD Collection membuat karya baju rompi dari bahan daur ulang sampah organik dan barang bekas layak pakai.

Bahan dasar baju rompi berasal dari karung beras yang terbuat dari plastik menjadi pilihan, karena karung beras yang dari bahan goni agak sulit mendapatkannya. Jangankan di keranjang sampah, di pasar saja sudah mulai tidak ada.

Inspirasi membuat baju rompi karena penggunaannya agar lebih gampang, khususnya untuk teman-teman Ranti yang penyandang disabilitas, lanjut Ranti.

Sedangkan topi dan tas sebagai asesoris untuk melengkapi tren berbusana yang menarik saat digunakan untuk bergaya dan menambah percaya diri.

Bukan hanya dihibur oleh penampilan fashion show karya Ranti, pentas Aksi Generasi Iklim juga dihibur oleh paduan suara dan band Gita Muda Kirana serta diskusi panel dengan narasumber Nabila Ishma seorang aktivis anak, Reza dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ardian Parasto dari Sure Pictures seorang Filmmaker.

Kampanye Aksi Generasi Iklim Save the Children Indonesia merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi dan dipimpin oleh anak-anak dan orang muda dengan tujuan untuk memastikan anak-anak dan keluarga, terutama mereka yang terdampak secara langsung dari krisis iklim, dapat melakukan upaya-upaya bertahan hidup dan beradaptasi, serta memperkuat sistem penanganan perubahan iklim yang lebih berpihak pada anak.

Aksi Generasi Iklim diprakarsai oleh anak-anak Indonesia terutama mereka yang berhadapan dan terdampak langsung dari krisis iklim, anak-anak tersebut berasal dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, D. I. Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Jakarta.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan