Bandung Side, Kabupaten Garut – Membangun demokrasi ada relevansi antara negara yang menyelenggarakan sistem demokrasi dengan pertumbuhan industri teknologi informasi.
Tiga capaian indeks demokrasi mengenai kebebasan sipil, hak-hak politik dan lembaga demokrasi, menurut BPS tahun 2019 indeks demokrasi Indonesia Nasional telah mencapai 74, 92 atau naik dibanding tahun 2018.
Junaidi Basri, Ketua KPU Garut mengatakan, kita dapat melihat dari tiga sisi membangun peningkatan indeks demokrasi itu berbanding lurus dengan adanya ancaman kebebasan masyarakat dalam berpendapat.
Ada ancaman lain mengenai informasi bohong atau hoaks, hate speech, cyber bullying dan buzzer.
Sehingga yang harus dilakukan untuk indeks demokrasi khususnya di media digital dibutuhkan etika komunikasi digital.
Junaidi menyebut, pengguna internet harus menyadari ketika berkomunikasi di dunia digital faktor orang itu sangat dominan.
Manusialah yang berkreasi membuat konten dan bebas berkomentar di dalamnya.
“Walaupun terjadi pergeseran ada orang ada mesin atau kini banyak kehadiran robot,” kata Junaidi Basri.
Tapi manusia ini memiliki peranan yang paling penting misalnya pembuat konten lebih dapat berhati-hati.
Karena dalam etika itu memasukkan unsur kehati-hatian menjadi yang utama, lanjut Junaidi.
“Diperlukan kehati-hatian dalam mempublikasikan isi pesan atau konten di ruang digital,” ungkap Junaidi Basri saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (28/9/2021).
Penggunan internet harus sadar dalam komunikasi digital, walaupun tidak langsung tetapi yang menjadi lawan komunikasi adalah manusia.
Jadi pengguna internet harus mempertimbangkan juga objek yang akan disampaikan atau objek dari komunikasi yaitu manusia.
“Etika selanjutnya adalah mengendalikan emosi saat menggunakan media digital dalam membangun demokrasi di dunia digital,” ujar Junaidi Basri.
Di ruang digital terdiri dari banyak orang, mungkin salah satunya ada pihak yang ingin iseng atau memang apapun motivasinya sehingga memancing keributan.
Itu sangat berpengaruh terhadap konten atau komentar balasan komunikasi yang kita sampaikan.
Junaidi meyakinkan, emosi sangat berpengaruh terhadap isi pesan yang akan disampaikan dalam hal ini konten atau komentar kita.
“Karena orang yakin ucapan itu adalah pikiran perasaan perbuatan seseorang. Namun bagaimana dengan catatan atau tulisan kita. Apakah itu menjadi representative dari pikiran dan perasaan kita. Tentu saja iya, terlebih di ruang digital,” jelas Junaidi Basri.
Jadi mengendalikan emosi menjadi salah satu bagian dari hal penting dalam membangun etika komunikasi digital.
Etika komunikasi digital lainnya yakni berkata sopan ini ada kaitannya dengan mengendalikan emosi jika seseorang tidak sopan tentu dapat memancing amarah yang lain.
Kemudian menjaga privasi orang lain juga sangat penting untuk kita dapat berinteraksi dengan mereka di ruang digital dengan sangat baik.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (28/9/2021) juga menghadirkan pembicara Virginia Aurelia (Qwner divetolive.id), Indira Wibowo (Entrepreneur), Pipit Andriani (Public Speaking Coach), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***