Bandung Side, Kabupaten Garut – Teknologi canggih pada gadget bukan hanya untuk berkomunikasi namun sudah meliputi apa yang dipakai seperti wearable eye gear, ear wearable, smartwatch, e-book, fitness bands, powerbank sampai smart socks.
Memang terlihat sangat keren saat menggunakannya, namun sadarkah jika aplikasi yang diunduh di dalam alat-alat itu mungkin saja akan mencuri data diri kita.
Praktisi IT, Ajie Pratama mengatakan, alat-alat canggih itu juga memang membutuhkan data diri kita, alat-alat yang menggunakan Artificial Intelegence (AI) untuk menunjang keseharian kita ini juga menjadi celah masuknya cybercrime.
Ada AI yang masuk dalam teknologi, artinya teknologi merekam keseharian kita, apa yang kita ucapkan, kita lihat, yang kita akses melalui kamera. Itulah makanya mengapa ketika kita mengucapkan sesuatu kemudian di media sosial sudah ada iklan tentang itu.
“Kalau kita sedang chat dengan teman membahas mengenai sebuah merek sepatu terkenal, beberapa saat kemudian di iklan media sosial atau browser kita itu muncul sepatu,” kata Ajie Pratama.
“Itulah kenapa bahwa kalau sudah ada AI di dalamnya itu biasanya menjadi celah masuknya cybercrime,” ujar Chief Creative Officer klinik Bumdes Jatim ini.
Berbicara saat Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (19/8/2021) Ajie menebak, hampir semua orang mungkin awalnya tidak curiga terhadap aplikasi atau tools yang digunakan karena kita hanya tinggal pakai dan membantu kehidupan kita.
“Tapi justru kita harus menaruh kecurigaan terhadap aplikasi yang dapat kita unduh secara gratis. Karena kalau kita lebih kritis melihat fenomena aplikasi gratis. Darimana perusahaan media sosial mendapatakan keuntungan finansial dari aplikasi gratis atau tools yang gratis,” tanya Ajie Pratama.
Jawabannya ialah dari data pengguna seputar data kontak, lokasi, aktivitas, karena pengguna media sosial tidak membayar apapun dan sebagai gantinya pengiklan yang membayar kepada aplikasi tersebut.
“Jadi dapat disimpulkan pengguna media sosial adalah objek yang dijual. Dengan adanya tools yang gratis lalu kita memasukan email itu sebenarnya kita sedang dijadikan produk oleh pengiklan,” pungkas Ajie Pratama.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (19/8/2021) juga menghadirkan pembicara Didno (Ketua Relawan TIK Indramayu), Littani Wattimena (Brand & Communication Strategist), Virginia Aurelia (owner divetolive.id), dan Kevin Joshua sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***