Lindungi Data Pribadi dari Rekayasa Sosial

Lindungi Data Pribadi dari Rekayasa Sosial

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Rekayasa sosial menjadi ancaman keamanan dari tindakan jahat yang dilakukan manusia ataupun teknologi yang menargetkan data penting yang ada di komputer.

Tujuan untuk mencuri mengganggu dan menghancurkan target. Misalnya dalam bisnisnya yang kompetitif ada yang berusaha untuk mencuri data.

Salah satu ancaman keamanan yakni rekayasa sosial. Memanipulasi kejiwaan seseorang menggunakan ragam media. Medianya konten multimedia atau suara saja sudah dapat mempengaruhi pikiran korban.

Menipu secara halus dan tidak disadari untuk mendapatkan informasi tertentu atau melakukan hal-hal tertentu setelah itu ditinggalkan, dicampakkan.

Rekayasa sosial bagi mereka yang pernah menjadi korbannya sangat menyakitkan.

“Kita sudah percaya sama dia tiba-tiba karena ini lebih berbahaya menurut saya daripada malware karena dia menggunakan pendekatan psikologis,” ungkap Rinda Cahyana, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (26/7/2021) pagi.

Phishing merupakan jenis rekayasa sosial memberikan harapan palsu berupa link palsu, janji mendapatkan kuota pulsa sebenarnya itu jika klik akan membahayakan kita.

“Saya pernah menguji dengan menggunakan mode aman setelah dicek ternyata kita harus memasukkan nomor telepon. Nomor telepon itu suatu saat bisa di-combine dengan data pribadi kita yang lain lalu sesuatu bisa saja hilang dari kehidupan kita. Sesuatu yang penting di antaranya adalah data ataupun uang,” ujar Rinda Cahyana.

Menggunakan umpan yang mengandung malware spyware dan rusak lainnya. Oknum sengaja menaruh USB di sembarang tempat.

Seseorang jika berhadapan dengan barang temuan itu termasuk adalah rekayasa sosial, penasaran ingin tahu apa yang ada di USB tersebut.

Ketika ditanamkan pada komputer maka malware itu mulai menyebar menginfeksi komputer.

“Pada saat komputer dinyalakan ke internet maka masternya bisa mengendalikan komputer kita, menyuruh komputer kita untuk mengirimkan data atau hal lain sebagainya seperti mengancam kepentingan kita,” ujar Rinda.

Kemudian yang berikutnya adalah membuntuti, ini paling ekstrimnya mengirim individu untuk mendapatkan akses informasi.

Seseorang yang jadi target itu keluar rumah diikuti sama orang yang berniat mencuri informasinya.

Dibuntuti hingga lokasi sarapan paginya, misalnya sebuah kafe atau restoran di internet dan pada saat target membuka komputernya, lalu melakukan aktivitas internet misalkan menggunakan fasilitas Wi-Fi umum. Si pencuri data ini melakukan perampasan.

Rinda mengutip profesor Jefri di dalam bukunya ‘Networking Second Edition’ mengatakan jaringan network yang nirkabel itu secara estetik bagus.

Tetapi dari aspek keamanan lebih rentan daripada jaringan dengan teknik tertentu bisa menyadap data.

Di smartphone atau desktop jadi suka ada pemberitahuan yang datang seperti pop up karena muncul tiba-tiba.

Tekniknya adalah dengan menakut-nakuti kesannya seperti betul misalnya di komputer kita itu terdeteksi adanya malware. Atau berpura pura dlmenunjukkan informasi dari Google ternyata sebenernya dia cuma tipu.

Rekayasa sosial lain yakni yang membuat isi konten ini membuat kita merasa khawatir lalu kemudian kita mencoba untuk melakukan prosedur apalagi kalau misalnya kita dihadapkan dengan ini akan panik dan menuruti.

“Ini sering terjadi, mulai dari anggota keluarga kecelakaan sampai ditangkap. Ini rawan terjadi pada orang tua yang sudah lanjut usia karena mereka tentu lebih sensitif dan mudah percaya, maka perlu pendampingan jika menerima telepon dari yang tidak dikenal,” ungkap Rinda Cahyana.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (26/7/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara Arya Shani Pradhana (Tekape Work Space), Steve Pattinawa (ICT Watch), dan Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan