SampahKu Bukan SampahMu (jilid 2)

Identifikasi Sampah

Bandung Side, Majalaya – Keberadaan sampah di Majalaya menjadi persoalan yang belum menjadi prioritas warganya untuk ditanggulangi. Dominasi sampah rumah tangga muncul dapat ditemui dipinggir jalan umum, selokan, anak-anak Sungai Citarum, dilokasi tersembunyi seperti di area pemakaman umum, maupun diujung gang-gang membuat lingkungan yang tadinya nyaman dipandang mata karena keasrian ciri khas daerah agraris, kini diwarnai oleh sampah.

Dalam mengidentifikasi sampah yang ada, terdapat 2 jenis yang dominan yakni Sampah organik atau juga disebut sampah basah merupakan sampah yang berasal dari jasad hidup sehingga mudah busuk dan hancur secara alami. Contohnya adalah sayuran, daging, ikan, nasi, rumput, daun, ranting dan lain-lain. Dan Sampah An-Organik atau sampah kering yakni sampah seperti plastik, kardus, kertas, steroform hingga barang elektronik. Penanganan sampah dengan pendekatan kumpul, angkut, buang sudah tak layak lagi dipraktekkan, karena membuat warga Majalaya tidak mandiri dalam mengelola sampah rumah tangganya sendiri.

Bila diilustrasikan, sampah yang dihasilkan 1 orang menurut standar Nasional Indonesia dalam per-hari 2 – 2,5 liter atau 0,35 – 0,4 kg. Jika penduduk Kabupaten Bandung sejumlah 3.600.000 jiwa, maka 3.600.000 x 2 -2,5 liter / 0,35 – 0,4 kg = 9.000.000 liter atau 1.440 ton/hari = 270.000.000 liter atau 43.200 ton perbulan.

Bagaimana dengan kondisi sampah bila satu Propinsi Jawa Barat ? Jawa Barat menurut proyeksi BPS Jabar memproyeksikan 49,02 juta pada Tahun 2019, dapat dibayangkan berapa beban sampah yang menjadi potensi harus dikelola. Jadi, 49,02 juta x 2 – 2,5 atau 0,35 – 0,4 kg = 122,55 juta liter atau 19,608 juta ton perbulan.

SampahKu Bukan SampahMu

Bila dirunut asal sampah menurut Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Bandung bahwa sampah berasal dari pemukiman=78%, pasar=6%, institusi=10%, komersial=5%, lain-lain=1%. Sedangkan komposisi sampah menurut karakteristiknya, 45% – 60% merupakan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sedangkan karakteristik sampah kertas=17%, sampah plastik=16%, Sampah rumput dan kayu=7%, sampah logam=5%, sampah tekstil=4%, sampah kaca=3%, sedangkan sampah lain-lain=3%.

Bagaimana dengan Majalaya ? Penduduk sekitar 159.932 jiwa x 2 – 2,5 liter atau 0,35 – 0,4 kg = 399.830 liter atau 63.972.8 kg per hari sampah yang dihasilkan. Dalam satu bulan 11.994.900 liter atau 1.919.184 kg (hampir 2.000 ton). Menurut Noor Rochman, Kepala UPT Bidang Pengelolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Bandung, bahwa dalam mengelolah sampah petugas hanya mampu mengangkut sampah untuk didistribusikan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti hanya 30 % sedangkan sisanya yang 70% hendaknya warga dapat mengelolahnya secara mandiri sesuai dengan Perda No. 15 Tahun 2012, tentang Pengelolaan Sampah.

Seperti yang disampaikan juga oleh H. Dadang M. Naser, SH.,S.IP.,M.Ip., Bupati Bandung bahwa penanganan sampah merupakan tanggung jawab bersama, oleh karena itu dibutuhkan komitmen dan kepedulian kita semua untuk bersama-sama mengurangi dan menangani sampah secara berwawasan lingkungan. “Hayu Sabilulungan urang wujudkeun Kabupaten Bandung Bersih Sampah 2020”.

Upaya Satgas Sektor 4 Citarum Harum dalam melaksanakan Program Citarum Harum memprioritaskan pada kegiatan aksi penanggulangan limbah industri, penghijauan, limbah domestik yakni sampah dan tersedianya fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Dalam capaian aksi tahun 2019 Satgas Sektor 4 telah melakukan penghijauan dengan menanam pohon keras dari berbagai jenis dengan jumlah 3.950 pohon yang tersebar di 11 Desa, Kecamatan Majalaya serta membuat lubang biopori sebagai resapan air sebanyak 950 pipa.

Satgas Sektor 4 Citarum Harum sedang memasang instalasi penjernih air di MCK Umum di Desa Sukamukti

Sedangkan dalam aksi penanggulangan limbah industri telah menunjukkan hasil yang memuaskan dengan memberi pembinaan kepada 110 pabrik agar mengelola limbah produksinya melalui IPAL dan terus dimonitor keluaran pada outletnya agar limbah sesuai standar baku mutu, namun masih ada 2 pabrik yang masih belum melakukan proses IPAL sehingga outletnya masih dilokalisir. Indikasi limbah cair dari industri sudah melalui proses IPAL dapat dilihat dari anak sungai yang sudah mulai berwarna alami dan berbaku mutu sesuai standar pada parameternya mencapai hasil 70%.

Selain itu, capaian Satgas Sektor 4 di tahun 2019 telah melakukan pembersihan anak-anak Sungai Citarum sepanjang -/+ 5.862 m dan mengangkat sedimentasinya seberat 180 kubik serta sampah yang menghuninya diangkat sebesar 3.210 kg. Sampah dianak-anak Sungai Citarum, seperti Sungai Cibotor, Sungai Cipeujeuh, Sungai Cipadaulun, Sungai Cisaraya, Sungai Cijunti, Sungai Cisunggalah, serta selokan, parit dan saluran irigasi dipastikan selalu ada setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan belum memilikinya sistem mengelola sampah baik ditataran RT, RW hingga Desa yang efektif bisa menanggulangi, sehingga warga selain tidak peduli dengan lingkungan, kebersihan sungai yang nyata dari sana mengisi sumur-sumur galian yang dimanfaatkan untuk aktifitas sehari-hari dalam bersanitasi.

Dalam melaksanakan giat Program Citarum Harum, aktifitas Satgas Sektor 4 sangat minim sekali partisipasi warga Majalaya, hal tersebut menunjukkan bahwa kepedulian akan kehidupan yang lebih baik belum sama sekali tumbuh. Kesibukan kerja, menyalurkan hobby dari mulai olah raga bulu tangkis hingga beradventure bersama motor trailnya, atau hanya sekedar kongkow bersama teman sejawat meliputi aktifitas warga hingga belum sempat memperhatikan lingkungan sekitar rumahnya yang sewaktu-waktu mengancam. Ancaman dari lingkungan yang kotor bisa jadi mulai dari potensi sumber penyakit dari mulai sanitasi yang tidak layak, kebersihan makanan yang tidak sempat dijaga tersebut hingga banjir setiap saat tanpa mau peduli apa sebabnya.

Tumpukan sampah dititik-titik tertentu yang lokasinya tersembunyi dari pandangan mata hingga terang-terangan dionggokkan ditepi jalan utama merupakan pemandangan yang sudah biasa. “Toh nanti juga petugas sampah yang mengambilnya”, begitu dalam hatinya bersuara. Cerminan tidak adanya sama sekali tanggung jawab sebagai mahluk sosial bagi manusia yang berada diwilayah urban akibat perkembangan jaman dan menurunnya kualitas hidup. Tudingan saling menyalahkan antar warga sering terdengar,”Bukan warga kami yang buang sampah dipinggir jalan itu, tapi dari wilayah lain disaat berangkat kerja atau pergi kepasar pagi-pagi sekalian bawa sampah dari rumahnya terus ditaruh dipinggir jalan”.

Aktifitas warga Kampung Bale Kambang, Majalaya di Sungai Citarum sebagai Sumber Kehidupan

Tata laksana kehidupan berbudaya di Majalaya mengalami kemunduran jauh, seperti gotong-royong membersihkan selokan atau parit bisa berjalan dengan meriah bila ada gaji untuk membayar tenaga yang dikeluarkan, bila tidak ada gaji jangan harap partisipasi sesuai keinginan akan terjadi bergabung dengan Satgas Sektor 4 melaksanakan giat korve. Upaya Satgas Sektor 4 baik secara persuasif selalu mengajak warga untuk bisa bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih baik dan mengembalikan lagi kearifan lokal sehingga warga dapat menjaga kelestarian sungai dan lingkungan yang asri, bersih bebas sampah yang merugikan dan tentunya kesehatan jasmani.***(bersambung)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan