“GELITIK POLITIK” Tangkal Hoax Ala Komunitas Stand Up Comedy Bandung

Bandung Side, RE Martadinata – Komunitas Stand Up Comedy Bandung gelar diskusi politik dengan tajuk “Gelitik Politik” dengan menghadirkan Didi Sunardi juara 2 Suca 4 Indosiar, Sony Sonjaya, SH.,M.I.Kom dan Reza Kacim stand up comedy muda asli Ciparay, dilaksanakan di Bober café, sebuah tempat nongkrong paling hits dijalan L.L.R.E. Martadinata No 123 Kota Bandung, Jumat (21/12.2018).

Diskusi seru dengan nara sumber Didi Sunardi yang mewakili orang kecil karena profesinya sebagai kuli bangunan sedangkan Sony Sonjaya yang dikenal dengan sebutan “Sony Bebek” mewakili Akademisi dengan paparan situasi dan kondisi politik dan ekonomi Indonesia saat ini serta Reza Kacim stand up comedy muda yang mewakili mahasiswa.

“Gelaran “Gelitik Politik” ini menyasar target anak-anak muda dan para generasi milenial di Bandung. Ini merupakan sebuah bentuk kepedulian dari Komunitas Stand Up Comedy Bandung terhadap perekonomian dan perpolitikan Indonesia. Seperti yang kita ketahui Bersama, kita akan segera masuk ke tahun 2019, yang digadang-gadang sebagai tahun politik terseru di Indonesia,”kata Kuns Kurniawan, Ketua Panitia yang dipercaya atas berlangsungnya kegiatan “Gelitik Politik”.

Ian Kanlah

“Namun sayangnya, suasana politik nasional menjelang akhir tahun 2018 ini semakin memanas. Situasi “Panas dan Gerah” ini diperkirakan akan terus dirasakan sampai pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2019 nanti. Sumber masalah utamanya adalah banyaknya isu-isu negatif yang dengan mudah disebarkan melalui media massa, khususnya media sosial,”papar Kuns yang juga didapuk sebagai pemandu acara juga. Memang tidak bisa dibantahkan lagi,lanjut Kuns, bahwa saat ini media sosial memiliki peran penting dalam kehidupan kita sehari hari. Ini terbukti dengan seringnya aktivitas manusia yang dilakukan di media sosial, entah itu hanya meluangkan waktu untuk hiburan atau urusan pekerjaan. Ditambah lagi saat ini teknologi handphone sudah bisa mendukung penggunaan media sosial, dan mudah dibawa kemana-mana.

Paparan Kuns melatar belakangi pagelaran “Gelitik Politik” yang menjelaskan sebuah kemudahan media sosial untuk bisa digunakan oleh para penggunanya, ditambah lagi waktu penyebaran pesan dan informasi yang bisa dibilang sangat cepat, membuat isu-isu negatif lebih mudah dan cepat lagi untuk berkembang di masyarakat. Ditambah lagi penyebaran opini negatif para elit politik terhadap pemerintah, yang dilontarkan melalui berbagai media, selain memanaskan situasi politik nasional juga berpotensi sebagai penyebab kegaduhan membuat masyarakat dapat terpecah belah dikarena sudah tidak terkontrol lagi etika politik dalam menyebarkan opini kebencian bagi lawan politiknya. Melalui diskusi “Gelitik Politik” ini, hendaknya anak muda dan generasi milenial agar lebih peka, peduli dan melek politik terhadap kondisi yang sedang dialami saati ini. Sehingga muncul sebuah kesadaran dan kewaspadaan dari anak muda terhadap kemunculan berita hoaks dan sanggup menangkalnya meskipun dengan cara menggelitikkan politik.

Diawali penampilan musisi Ian Kanlah yang juga seorang stand up comedy membawakan 2 buah lagu, Mengejar Matahari yang dipopulerkan oleh Ari Lasso dan lagu ciptaan Ian Kanlah sendiri yang berjudul Bahagia Itu Sederhana cukup menghangatkan suasana malam di Bober Cafe.

Selanjutnya sebagai warming up dalam berkomedi, Yadi Bandot komika asal Ciwidey yang juga seorang petani menggelitik penonton dengan kisah bangganya memakai kaos partai yang selalu bertebaran saat musim kampanye pemilu. Kisah satir seorang Yadi Bandot yang dikemas lucu menjelaskan kalau saat datangnya bulan politik pada jadwal kampanye selalu meminta dukungan suara kepada orang kecil termasuk petani agar mau memilih, memberikan suara atau mencoblos baik partai atau calon elit politik. Tapi sesudah punya kedudukan, lupa dengan yang memberi suara hingga digambarkan dengan kebanggaannya memakai kaos partai tersebut saat melakukan pekerjaan disawah sebagai seragam kerjanya. Kenyataannya, elit politik tersebut tidak bangga memperhatikan nasib petani.

Tidak beda jauh dengan apa yang dikisahkan stand up comedy muda dari Nusa Tenggara Timur (NTB), Adi Ardian saat pertama kali datang di Tatar Sunda, Bandung. Kisah satirnya dalam menggunakan bahasa sunda yang memiliki pengertian berbeda bila dilisankan dengan logat NTB-nya. Hal tersebut menyinggung bahwa pesan yang disampaikan oleh elit politik bisa bermakna ganda, terserah siapa yang melontarkan dan terserah yang mengartikan pesan tersebut. Jadi kadang menimbulkan pesan negatif atau hoax.

Pemanasan diskusi “Gelitik Politik” yang dibuka dengan penampilan dua komika tersebut menghantarkan nara sumber Didi Sunardi, Sony Bebek dan Reza Kacim dalam menanggapi pernyataan pemandu acara Kuns Kurniawan tentang berita hoax. Sony Bebek menanggapi bahwa di Indonesia ada budaya gosip, biasanya ibu-ibu yang dijuluki sebagai biang gosip (*bigos). Dulu bila ibu-ibu berkumpul, ibaratnya berita secuil-pun bisa menjadi berita besar dan cepat sampai atau menyebar kemana saja dalam hitungan detik. Apalagi berita tersebut bersifat buruk atau negatif tidak usah menunggu berhari-hari untuk sampai ke kampung sebelah, kadang berbanding terbalik bila berita yang beredar sifatnya baik atau positif. Cenderung lamban sampai bahkan dianggap tidak ada.

Didi Sunardi

Didi Sunardi sang kuli bangunan pun bereaksi dengan tanggapan sedikit lempeng yakni bila mendengar, membaca medsos tentang berita hendaknya diricek dulu nara sumbernya dari siapa dan dari mana jangan seperti dirinya. Karena dulu sekolahnya di SMK jurusan listrik setelah lulus malah jadi kuli bangunan. Profesi yang tidak nyambung, kata Kuns pembawa acara. Saat ditanya kenapa, Didi menjawab dengan jawaban yang tidak nyambung pula, katanya mungkin dulu banyak kuli bangunan yang kesetrum. Jawaban satir seperti elit politik, yang ditanya apa, yang dijawab apa.

Sedangkan Reza Kacim menanggapi bahwa bila menjumpai berita yang lagi headline hendaknya diteleti dahulu apakah berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Hal tersebut dikatakan Reza bahwa di Indonesia masih berlaku cara pandang yang terbalik, seperti yang diilustrasikan saat Reza beli motor. Cara pembelian motor dengan kredit malah dianjurkan oleh sales motor tersebut dari pada dibayar cash. Bahkan bila sering melakukan transaksi kredit, seseorang tersebut semakin terhormat, karena lebih terpercaya dari pada yang beli cash. Kisah satir pada elit politik tentang janji-janji politiknya.

Masih banyak gelitik politik yang menanggapi tentang pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, angka pengangguran, peran pemerintah, tentang cita-cita generasi muda hingga beras raskin yang banyak kerikilnya. Tidak jarang saling bersautan gelak tawa penonton di Bober Cafe karena tanggapan komedian yang ngalor-ngidul dalam mengisahkan ceritanya.

Ian Kanlah

“Gelitik Politik” merupakan momen komunitas stand up comedy Bandung yang sudah eksis ditahun ke-8, yang kebetulan materi tentang politik diangkat dibulan dan tahun politik ini yang ditujukan kepada kaum muda, kaum generasi milenial agar melek politik meskipun dengan sajian komedi.

Saat Kuns Kurniawan akan menutup pagelaran “Gelitik Politik” diselipkan pesan sponsor bahwa pada tanggal 19 Januari 2019 nanti, komunitas stand up comedy Bandung melakukan show dengan tema “Orang Pinggiran” di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, jl.Purnawarwan No.32. “Tiket show sudah dapat dipesan di Bober Cafe mulai sekarang, jangan sampai tidak kebagian tempat duduk karena dilarang bawa tempat duduk sendiri dari rumah,”seloroh Kuns.***

Leave a Reply