Oxbow Cicukang Kondisinya Sekarang Sangat Memprihatinkan

Bandung Side, Mekar Rahayu – Memasuki musim penghujan merupakan tantangan tersendiri bagi Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum dalam mengemban Perpres No.15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum pada tanggal 15/3/2018 sebagai payung hukum dengan melibatkan 18 Kementrian hingga bergulirlah Program Citarum Harum. Bukan hanya limbah industri yang membebani Sungai Citarum tapi permasalahan klasik dan selalu ada yakni tentang penanganan sampah yang selalu menjadi perhatian menarik dan tidak pernah terselesaikan.

Berbagai program menanggulangi sampah sudah dicanangkan oleh Pemerintahan Kabupaten Bandung dalam rangka membebaskan sampah di tahun 2020. Salah satu contoh upaya yang sudah berjalan dalam penanganan lingkungan di hilir atau sepanjang Aliran Sungai Citarum, program pengelolaan sampah diantaranya pengelolaan sampah berbasis Rumah Tangga melalui beberapa kegiatan yakni Gerakan Lubang Cerdas Organik (LCO), Pengembangan Bank Sampah, Pembangunan Bank Sampah Induk serta revitalisasi 60 Tempat Pengelolaan Sampah (TPS). Selain itu digalakkan juga penanganan sampah liar menjadi Pojok Edukasi Bersih Sampah (POKASIH), Program Kampung Iklim serta Program Peningkatan Kapasitas Masyarakat. Bahkan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung telah melakukan upaya pengendalian limbah melalui sistem Pengendalian Dokumen dan Perizinan Lingkungan, Pembangunan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik, Pemanfaatan limbah Kotoran Hewan menjadi Biogas, Pos Pengaduan Pencemaran dan Kerusakan dan lain-lain demi Kabupaten Bandung Bebas Sampah Tahun 2020.

Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum juga telah dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum dari TNI dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa sampah yang berasal dari rumah tangga dapat dipilah dan dipilih terlebih dahulu dan dapat dimanfaatkan nilai ekonomisnya, namun masih saja warga belum peduli dan sadar.

Seperti yang terjadi di Oxbow Cicukang, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih yang berada diwilayah Sektor 8 Citarum Harum kondisinya sangatlah memprihatinkan pada musim hujan, selain sampah yang menumpuk yang berasal dari Sungai Cicukang, kontribusi masyarakat Desa Mekar Rahayu dengan 7.677 KK dengan 30.704 jiwa dalam memanfaatkan Oxbow Cicukang sebagai TPS liar menambah semakin tak terkendalinya sampah menumpuk. Saat musim kemarau, sampah yang sudah menahun menumpuk, bahkan menjadi endapan sedimentasi membentuk daratan yang meninggi kurang lebih 5 meter menjadi dangkal. Belum lagi ancaman penyakit yang disebabkan oleh lalat atau melalui udara yang berbau menyengat beredar ke warga disepanjang aliran Sungai Cicukang maupun warga disekitar Oxbow Cicukang.

Dari hal yang cukup memprihatinkan tersebut, tidak membuat Satgas Citarum Harum menyurutkan nyalinya dan tidak mengenal kata menyerah untuk membuat Sungai Citarum menjadi kembali fungsinya sebagai sumber kehidupan. Dalam kegiatan sehari-hari, Oxbow Cicukang merupakan salah satu prioritas mendapat sentuhan dengan melakukan curve pada Selasa (26/11/2018).

Kegiatan yang diawali apel pagi untuk memastikan sasaran yang akan dibersihkan serta meyakinkan akan keselamatan Satgas serta relawan yang akan melakukan curve sesuai intruksi Komandan Sektor (Dansektor) 8 Citarum Harum Kolonel Czi Aby Ismawan. Mengawali curve mengangkat sampah dipinggir menggunakan alat seadanya, seperti garu/garpu cangkul yang disambung dengan bambu karena jangkauan sampah cukup jauh karena lebarnya Oxbow Cicuakang.

Selain itu, Satgas Citarum Harum beserta relawan juga menyisir membersihkan rumput dan ilalang yang sudah memanjang agar lokasi Oxbow tidak tampak kumuh. Cukup membuat kewalahan, tapi tidak membuat berhenti membersihkan hingga turun waktu istirahat disiang hari.

Ditempat yang berbeda, Dansektor 8 Citarum Harum, Kolonel Czi Aby Ismawan mengatakan,” Dibutuhkan keterlibatan, kepedulian dan kesadaran warga dan masyarakat dalam menangani sampah di Oxbow Cicukang ini. Karena sudah bertahun-tahun sampahnya mengendap hingga terjadi sedimentasi, jadi bila terjadi hujan akan ada sampah baru yang dibawa oleh aliran deras Sungai Cicukang, selain itu juga terjadi terangkatnya sampah yang mengendap kepermukaan”.

Sehingga dibutuhkan pengerukan yang masiv agar sampah yang mengendap dapat terangkat dan bersih kembali, karena Oxbow Cicukang sebagai daerah retensi bila hujan turun dengan intensitas tinggi dan air Sungai Citarum meluap dapat tertangkap oleh Oxbow Cicukang, lanjut Kolonel Aby.

Selain itu, Kolonel Aby juga menghimbau bahwa dibutuhkan partisipasi dan kontribusi masyarakat dalam mengelola dan mengurangi sampah disumber yang selalu meningkat dengan cara mengupayakan tersedianya informasi tentang pengetahuan dan sumber daya manusia untuk pengelolahan sampah secara mandiri oleh masyarakat. Selain itu warga juga harus mengupayakan tersedianya wadah dalam berbagai informasi pengelolahan sampah mandiri oleh, diri dan untuk masyarakat. Serta berusaha meningkatkan peran aktif masyarakat dalam mendorong kinerja pengelolahan sampah mandiri di lokasi masing-masing.

“Dari poin-poin himbauan tersebut, diperlukan konsep pengelolahan seperti dengan adanya Bank Sampah Mekar Rahayu yang sudah berjalan tersebut. Tetapi masih juga masyarakat belum memahami akan cara praktis dalam mengelola sampahnya, sehingga masih dianggap lumrah dengan membuang sampah langsung di Oxbow Cicukang yang alirannya masih menuju ke Sungai Citarum ini,”papar Kolonel Aby.

Sampah harusnya menjadi tanggung jawab bersama, bila dikelolah dibutuhkan tempat atau lahan, alat untuk pendistribusian serta peralatan hingga manusia yang mengelolanya harus bertanggung jawab dan transparan. Dibutuhkan juga peran aktif masyarakat dalam mengawasi dan mendorong kinerja sistem layanan persampahan dilokasi masing-masing agar dapat bersinergi, mengawasi, dan memberi input perbaikan layanan persampahan tersebut, Kolonel Aby melanjutkan.

“Selain itu, bersinergi dengan stake holder atau institusi yang terkait juga dibutuhkan. Dukungan berupa peralatan berat untuk mengatasi Oxbow Cicukang agar kembali fungsinya sebagai tempat retensi air. Bila memungkinkan, Oxbow Cicukang dapat digunakan sebagai fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada masukan dari masyarakat bahwa Oxbow Cicukang dibuat destinasi wisata seperti taman atau kolam pancing agar pola pikir masyarakat berubah untuk menjaga dan memeliharanya, bukan sebagai tempat pembuangan sampah akhir,”pungkas Kolonel Aby.***

Leave a Reply