Masyarakat Bantaran Sungai Citarum Belum Mendapatkan Air Bersih dan Sanitasi Yang Layak

Bandung Side, Mekar Rahayu – Program Citarum Harum digulirkan dengan diperkuat oleh Perpres No.15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum pada tanggal 15/3/2018 merupakan program nasional yang melibatkan 18 Kementrian. Pada tataran masyarakat Program Citarum Harum membutuhkan dukungan dan partisipasi semua pihak, baik secara individu, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, filantropi, pelaku usaha, akademisi dan pemangku kepentingan lainnya.

Sejak bulan Juli 2018, keterlibatan akademisi yang dimotori oleh Universitas Pendidikan Indonesia telah berperan yakni dengan mengirimkan mahasiswa dalam kegiatan KKN Tematik. Sebanyak kurang lebih 2.000 mahasiswa yang berkegiatan dibagi kedalam Sektor Satuan Tugas Citarum Harum yang memiliki 22 Sektor. Hal tersebut diikuti akademisi lainnya seperti Universitas Siliwangi, Universitas Pertanian Bogor dan akan menyusul lagi institusi akademisi lainnya.

Di Hari Minggu yang ceria (18/11/2018), Sektor 8 Citarum Harum mendapat kunjungan mahasiswa Universitas Indonesia dari Fakultas Kesehatan Masyarakat. Sejumlah 15 mahasiswa dari berbagai jurusan mengambil peranan dalam sosialisasi tentang Air Sebagai Sumber Kehidupan kepada masyarakat Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih.

Dalam paparannya, Manik selaku koordinator mahasiswa mengatakan,”Air merupakan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti untuk keperluan ibadah, minum, masak, mandi, cuci sehingga diperlukan pengelolaan sebelum digunakan untuk mendapatkan kualitas air yang bersih, selain itu dibutuhkan upaya pengendalian pencemaran air tersebut jika digunakan secara terus-menerus”.

Dari hasil reseach team UI sebelumnya yang sudah berkunjung kebeberapa Sektor Citarum Harum serta dukungan studi pustaka, kesimpulan yang didapat dari Sungai Citarum adalah sebagai berikut, bahwa air Sungai Citarum terdapat kandungan merkuri, hal tersebut diperoleh dari sampel spesies ikan mas di Desa Cisanti sebesar 5,32 x 100 Ug/gram. Diketahui akibat paparan merkuri dapat mengakibatkan tremor, gangguan memori, iritasi, gangguan penglihatan dan pendengaran, kerusakan paru-paru, gejala depresi, kelelahan, sakit kepala dan rambut rontok.

Sedangkan spesies ikan lele di Desa Cilampeni dan Desa Cimarangi terpapar rata-rata 6,57 – 8,64 x 100 Ug/gram. Normalnya kadar merkuri pada ikan tersebut < 0,5 Ug/gram. Hal tersebut dipastikan akibat limbah industri dihilir.

Pada air Sungai Citarum juga ditemukan Organochlorine pesticides (OCPs) seperti DDT, Chlordane, Dieldrin dan Heptachlor yang biasanya digunakan oleh petani diarea perkebunan dekat Sungai Citarum sehingga menyebabkan kentang dan wortel berisiko pada efek kanker (karsinogenisitas) dan gangguan endokrin. Hal tersebut tergolong sebagai salah satu limbah domestik yang berasal dari hulu.

Selain itu, lanjut Manik, masyarakat sekitar bantaran Sungai Citarum kekurangan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Hal tersebut diakibatkan karena perilaku masyarakat sendiri dengan buang air besar langsung menuju anak sungai tanpa melalui bak tampungan seperti septictank.

Padahal bila mengacu pada perundang-undangan, bahwa terdapat saksi bagi penyebab pencemaran air, yakni terdapat pada Undang-Undang Republik Indonesia No 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air, pasal 94 dan 95. Dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 103 dan pasal 104.

“Undang-Undang tersebut harus disosialisasikan kembali oleh institusi terkaithingga kepengawasan dan penegakan hukumnya, agar pihak-pihak yang melanggar dapat dengan cepat mentaati dan tidak mengulang kembali pelanggaran tersebut,”pungkas Manik.

Ditempat terpisah, Komandan Sektor (Dansektor) 8 Citarum Harum, Kolonel Czi Aby Ismawan menyampaikan apresiasi kunjungan dari Mahasiswa Universitas Indonesia sebagai berikut,”Mahasiswa sebagai generasi Muda Penerus Bangsa sudah seharusnya mempunyai kepedulian terhadap kondisi terkini Sungai Citarum yang notabene Sebagai Sumber Kehidupan, mengingat selain masyarakat Jawa Barat Sungai Citarum juga di manfaatkan oleh sebagian besar Penduduk DKI Jakarta, +/_ 80 % kebutuhan akan air pemanfaatannya dari Sungai Citarum. Disamping itu juga untuk kelangsungan hidup generasi yang akan datang, sebagai pewaris Negara Republik Indonesia”.

Usai melakukan sosialisasi di Desa Mekar Rahayu, 15 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI berkunjung ke Taman Tematik Desa Cilampeni. Mereka dapat melihat langsung perubahan Sungai Citarum, baik kondisi airnya juga bantaran sungai yang sudah tertata rapi.

Tidak bisa dihindari saat mereka menikmati pemandangan asri bantaran Sungai Citarum Desa Cilampeni, ritual selfi diantara Bunga Matahari yang mekar menguning mempercantik pose mahasiswi yang memakai jas almamater warna kuning juga.***

Leave a Reply